34 Tahun TPIA, Kini Ekspansi ke Energi dan Infrastruktur

34 Tahun TPIA, Kini Ekspansi ke Energi dan Infrastruktur
Salah satu pabrik petrokimia milik TPIA
Bacakan Artikel

EmitenTrust.com - PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) memasuki usia ke-34 tahun dengan transformasi bisnis yang semakin luas. Setelah lebih dari tiga dekade menjadi pemain utama petrokimia nasional, Chandra Asri Group kini memperkuat bisnis melalui tiga pilar utama, yakni Energi & Kimia, Infrastruktur Terintegrasi, serta Solusi Mobilitas.

Transformasi tersebut dilakukan dengan tetap menjadikan Indonesia sebagai basis utama pertumbuhan, sekaligus memperluas kapabilitas perusahaan ke tingkat regional. Ekspansi tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan skala bisnis, tetapi juga memperkuat rantai pasok, infrastruktur, energi, serta pengembangan sumber daya manusia Indonesia.

Presiden Direktur Chandra Asri Group Erwin Ciputra mengatakan perjalanan perusahaan selama 34 tahun tidak terlepas dari perkembangan industri Indonesia. Menurutnya, Chandra Asri pada awalnya membangun kapasitas petrokimia nasional, namun kebutuhan industri yang terus berkembang mendorong perseroan melakukan diversifikasi bisnis.

“Selama 34 tahun, kami telah tumbuh bersama Indonesia. Kami memulai perjalanan dengan membangun kapasitas petrokimia nasional dan melayani industri melalui produk-produk yang kami hasilkan,” ujar Erwin.

Salah satu proyek strategis yang tengah dikembangkan adalah fasilitas Chlor Alkali dan Ethylene Dichloride (CA-EDC) di Cilegon, Banten. Hingga Juli 2026, pembangunan fasilitas yang dikelola melalui PT Chandra Asri Alkali (CAA) tersebut telah mencapai 72%.

Proyek dengan nilai investasi lebih dari US$800 juta itu ditargetkan mulai beroperasi secara komersial pada 2027. Fasilitas tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat pasokan bahan kimia dasar untuk industri dalam negeri sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap produk impor.

Selain memperbesar kapasitas industri kimia, Chandra Asri Group juga memperluas portofolio di sektor energi. Akuisisi Aster Chemicals and Energy (Aster) serta integrasi jaringan Esso di Singapura memperluas pijakan perusahaan di bisnis energi dan kimia di kawasan.

Melalui Aster, perseroan dapat menyediakan berbagai produk petroleum, termasuk bensin, bahan bakar jet, gas oil, dan bitumen untuk mendukung kebutuhan berbagai sektor industri di Indonesia.

Transformasi bisnis Chandra Asri juga mencakup sektor infrastruktur. Melalui PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDI), perseroan mengembangkan portofolio yang meliputi penyediaan daya, air untuk industri, kepelabuhanan, penyimpanan, serta logistik.

Pengembangan tersebut membuat bisnis infrastruktur menjadi pelengkap bagi bisnis energi dan kimia. Dengan kombinasi tersebut, Chandra Asri berupaya membangun ekosistem industri yang lebih terintegrasi, mulai dari penyediaan bahan baku hingga dukungan utilitas dan distribusi.

Di sisi regional, Chandra Asri Group juga membangun kapabilitas operasional melalui PT Chandra Asri Sentral Solusi (CASS). Entitas tersebut berfungsi sebagai mitra strategis yang mendukung operasional perusahaan di Singapura melalui proses yang lebih terintegrasi dan terstandardisasi serta pemanfaatan teknologi digital.

Keberadaan CASS sekaligus membuka peluang bagi tenaga profesional Indonesia untuk memperoleh pengalaman dalam lingkungan bisnis regional. Pengetahuan dan kompetensi yang diperoleh dari ekspansi tersebut diharapkan dapat kembali memperkuat kapabilitas bisnis Chandra Asri di Indonesia.

Erwin menegaskan bahwa ekspansi regional tetap memiliki keterkaitan dengan pengembangan bisnis di dalam negeri. Menurutnya, pertumbuhan di kawasan dapat menjadi sarana untuk memperluas jaringan, mengembangkan kompetensi, dan membawa kapabilitas yang dibangun dari Indonesia ke pasar yang lebih luas.

Memasuki usia 34 tahun, Chandra Asri Group pun tidak lagi hanya menempatkan bisnis petrokimia sebagai pusat pertumbuhan. Perusahaan kini membangun portofolio yang mencakup energi, kimia, infrastruktur hingga solusi mobilitas, dengan Indonesia tetap menjadi fondasi utama pengembangan bisnis.

“Dari bahan baku yang digunakan oleh industri, investasi pada kapasitas baru, penciptaan lapangan kerja, infrastruktur yang mendukung rantai pasok, hingga kesempatan bagi talenta Indonesia untuk berkembang dalam bisnis regional, kami ingin terus membangun kapabilitas yang memberikan manfaat nyata,” tutup Erwin.