AMMS Berbalik Rugi, Pendapatan Semester I 2026 Ikut Boncos!
EmitenTrust.com EmitenTrust- PT Agung Menjangan Mas Tbk (AMMS) emiten budidaya ikan dan udang mencatat kinerja yang tertekan pada semester I 2026. Perseroan membukukan rugi bersih Rp1,51 miliar, berbalik dari laba bersih Rp677,78 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Berdasarkan laporan keuangan per 30 Juni 2026, pendapatan AMMS juga mengalami penurunan menjadi Rp3,37 miliar, dibandingkan Rp4,70 miliar pada semester I 2025. Dengan demikian, pendapatan perseroan merosot sekitar 28,16% secara tahunan.
Penurunan pendapatan terjadi ketika beban pokok pendapatan justru meningkat. Pada semester I 2026, beban pokok tercatat Rp3,29 miliar, naik dari Rp2,33 miliar pada periode yang sama tahun lalu.
Kondisi tersebut membuat laba kotor AMMS tergerus tajam menjadi hanya Rp82,19 juta, dari sebelumnya mencapai Rp2,36 miliar.
Tekanan semakin besar setelah perseroan mencatat beban umum dan administrasi sebesar Rp1,63 miliar, meningkat dibandingkan Rp1,50 miliar pada semester I 2025. Sementara itu, pendapatan lain-lain bersih tercatat Rp38,56 juta.
Alhasil, AMMS membukukan rugi sebelum pajak Rp1,51 miliar, berbanding terbalik dengan laba sebelum pajak sebesar Rp869,95 juta pada semester I 2025.
Perseroan juga mencatat rugi per saham dasar dan dilusian sebesar Rp1,26 per saham, sedangkan pada periode yang sama tahun sebelumnya masih membukukan laba per saham Rp0,56.
Dari sisi neraca, total aset AMMS per 30 Juni 2026 tercatat Rp72,08 miliar, sedikit turun dibandingkan Rp72,91 miliar pada akhir 2025. Total liabilitas meningkat menjadi Rp1,54 miliar dari Rp868,86 juta.
Sementara itu, ekuitas perseroan turun menjadi Rp70,53 miliar dari Rp72,04 miliar pada akhir Desember 2025. Penurunan tersebut terutama tercermin dari meningkatnya saldo rugi menjadi Rp1,88 miliar per akhir Juni 2026.
Dari sisi arus kas, AMMS mencatat kas bersih yang digunakan untuk aktivitas operasi sebesar Rp44,10 juta sepanjang semester I 2026. Posisi kas dan setara kas pada akhir periode mencapai Rp6,62 miliar, sedikit lebih rendah dibandingkan Rp6,66 miliar pada akhir 2025.