PGEO Bidik Bisnis Baru, Panas Bumi Disiapkan untuk Data Center AI
EmitenTrust.com - PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) menyiapkan pasokan listrik baseload berbasis panas bumi untuk mendukung pertumbuhan pusat data dan ekosistem kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) di Indonesia.
Direktur Utama PGEO Ahmad Yani mengatakan karakteristik kebutuhan listrik pusat data dan AI factory membutuhkan pasokan yang stabil selama 24 jam sekaligus berasal dari sumber energi bersih.
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi peluang bagi panas bumi karena mampu menghasilkan listrik secara berkelanjutan dan tidak bergantung pada kondisi cuaca seperti sumber energi terbarukan yang bersifat intermiten.
"Panas bumi adalah energi domestik yang bersih dan mampu beroperasi sebagai baseload sepanjang waktu, sehingga sangat cocok menjadi tulang punggung green data centre di Indonesia," ujar Ahmad Yani dalam diskusi pada The 12th Indonesia EBTKE ConEx 2026 di Jakarta, Senin (7/9/2026).
PGE pun telah memulai kajian pengembangan elektrifikasi green data center menggunakan energi panas bumi di Area Kamojang, Jawa Barat.
Proyek tersebut disiapkan sebagai pilot project sekaligus proof of concept untuk menguji model bisnis, memetakan kebutuhan calon pengguna, dan membangun kesiapan pasar.
Ahmad Yani menilai pengembangan pusat data berbasis energi terbarukan membutuhkan dukungan kebijakan agar dapat berkembang secara optimal.
Beberapa hal yang perlu diperkuat antara lain penyempurnaan regulasi tarif agar lebih kompetitif, transparan dan dapat diprediksi, serta perluasan insentif fiskal dan green financing.
Selain itu, diperlukan sinkronisasi antara Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP), Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL), jaringan, power purchase agreement (PPA), hingga target commercial operation date (COD).
PGE juga melihat pentingnya penyelarasan strategi pengembangan panas bumi dan pusat data dengan kebijakan pemerintah terkait blueprint pengembangan kedua sektor tersebut.
Dari sisi ekspansi bisnis, PGEO menargetkan kapasitas terpasang panas bumi tumbuh bertahap menuju sekitar 1 GW pada 2028 dan mencapai sekitar 1,8 GW pada 2034.
Pertumbuhan tersebut akan ditopang portofolio sumber daya sekitar 3 GW dan pengembangan pipeline proyek yang telah disiapkan perseroan.
Strategi tersebut sejalan dengan agenda swasembada energi pemerintah, termasuk alokasi 5,2 GW panas bumi dalam RUPTL.
PGEO menilai pengembangan panas bumi juga dapat memperkuat posisi Indonesia dalam mengejar ambisi menjadi produsen panas bumi terbesar dunia pada 2030.
Momentum tersebut semakin penting karena 2026 menjadi tahun peringatan 100 tahun perjalanan panas bumi nasional.
Selain memperkuat bisnis pembangkitan, PGE memborong empat penghargaan Apresiasi Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) 2026 pada ajang yang sama.
Pada kategori Penerapan Teknologi Panas Bumi untuk Pemanfaatan Langsung, PGE Area Ulubelu meraih Juara 2 melalui Geothermal Greenhouse. Sementara PGE Area Kamojang meraih Juara 3 melalui Geothermal Drytube.
Kemudian pada kategori Pembukaan Green Jobs dan Pengembangan SDM Lokal dari Pemanfaatan Langsung Panas Bumi, PGE Area Kamojang meraih Juara 1 melalui Geothermal Dryhouse.
Ahmad Yani mengatakan penghargaan tersebut menunjukkan bahwa pengembangan panas bumi tidak hanya menghasilkan listrik, tetapi juga memberikan dampak ekonomi dan membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar wilayah operasi.
Inisiatif green data center sendiri menjadi bagian dari strategi Beyond Electricity PGE. Strategi tersebut mencakup pengembangan elektrifikasi green hydrogen, pemanfaatan langsung uap panas bumi, serta layanan teknologi dan laboratorium.