back to top

IHSG Berbalik Merah di Sesi I, Terseret Pelemahan 9 Sektor dan Bursa Asia

Emitentrust.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berbalik melemah dan masuk ke zona merah pada penutupan perdagangan sesi I, Senin (6/7/2026), setelah mayoritas sektor mengalami koreksi di tengah sentimen negatif yang datang dari bursa saham Asia.

IHSG bergerak fluktuatif sepanjang sesi dengan menyentuh level tertinggi 5.935 dan terendah 5.857, setelah dibuka di posisi 5.875. Hingga jeda siang, indeks berbalik melemah seiring tekanan jual pada sebagian besar saham sektoral.

Pelemahan IHSG dipicu oleh terkoreksinya sembilan indeks sektoral. Sektor infrastruktur memimpin penurunan sebesar 0,59%, diikuti sektor transportasi dan logistik 0,51%, sektor barang baku 0,43%, sektor keuangan 0,39%, sektor perindustrian 0,27%, sektor properti dan real estat 0,27%, sektor barang konsumen primer 0,25%, sektor barang konsumen non-primer 0,12%, serta sektor energi yang turun 0,10%.

Di sisi lain, hanya dua sektor yang masih mampu bertahan di zona hijau, yakni sektor teknologi yang menguat 0,82% dan sektor kesehatan yang naik 0,14%.

Aktivitas perdagangan mencatat total volume mencapai 10,7 miliar saham dengan nilai transaksi sebesar Rp4,76 triliun. Sebanyak 295 saham melemah, 285 saham menguat, sedangkan 198 saham bergerak stagnan.

Saham-saham yang mencatat kenaikan harga terbesar antara lain DCII yang melonjak Rp9.150 menjadi Rp198.925 per saham, PGUN naik Rp325 menjadi Rp7.325 per saham, serta YUPI menguat Rp160 menjadi Rp1.385 per saham.

Sementara itu, saham yang mengalami penurunan harga terbesar di antaranya DNET yang turun Rp475 menjadi Rp9.350 per saham, UNIC melemah Rp425 menjadi Rp12.275 per saham, dan RDTX terkoreksi Rp300 menjadi Rp13.525 per saham.

Dari sisi aktivitas perdagangan, saham BNBR menjadi yang paling aktif dengan frekuensi transaksi mencapai 50.507 kali senilai Rp322 miliar. Posisi berikutnya ditempati BMRI dengan 38.751 kali transaksi senilai Rp225 miliar dan COCO sebanyak 36.556 kali transaksi senilai Rp119 miliar.

Pada kelompok saham LQ45, tekanan terbesar dialami PT Indosat Tbk (ISAT) yang turun 4,53% ke Rp1.895 per saham, diikuti PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) yang melemah 3,85% ke Rp500 per saham, serta PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR) yang terkoreksi 2,08% ke Rp1.415 per saham.

Sebaliknya, saham-saham LQ45 yang masih menguat dipimpin PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) yang naik 1,20% ke Rp1.270 per saham, PT Bukit Asam Tbk (PTBA) menguat 0,87% ke Rp2.330 per saham, serta PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang bertambah 0,83% ke Rp6.100 per saham.

Bursa saham Asia bergerak melemah pada perdagangan Senin (6/7) di tengah sikap hati-hati investor menjelang dimulainya musim laporan keuangan emiten global, terutama perusahaan-perusahaan yang terkait dengan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).

Artikel Terkait

Aditya Sasmito Belanja Saham Amman Mineral (AMMN) Senilai Rp3M, Ini Tujuannya

Direktur PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), Aditya Sasmito, kembali menambah kepemilikan sahamnya di perseroan melalui transaksi pembelian yang dilakukan pada 6 Juli 2026.

Garuda Maintenance (GMFI) Minta Restu Hapus Defisit USD512 Juta

PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk (GMFI) menyiapkan langkah besar untuk memperbaiki struktur keuangannya melalui kuasi reorganisasi dengan menghapus seluruh saldo laba negatif (defisit) sebesar USD512,87 juta per 31 Januari 2026.

ROTI Ungkap Free Float 7,6%, Anthoni Salim dan Wendy Yap sebagai Pemilik Akhir

PT Nippon Indosari Corpindo Tbk (ROTI) melaporkan porsi saham free float sebesar 470,13 juta saham atau 7,6% dari total saham tercatat hingga akhir Juni 2026. Dalam Laporan Bulanan Registrasi Pemegang Efek (LBRE), perseroan juga mengungkap Anthoni Salim dan Wendy Yap

Populer 7 Hari

Berita Terbaru