EmitenTrust Versi penuh
Stock and Market

Antam (ANTM) Ungkap Jurus Baru!

Oleh Komarudin 11 Sep 2026 21:00 4 menit baca

EmitenTrust.com - PT ANTAM Tbk (ANTM) berhasil membukukan kinerja positif sepanjang Semester I 2026 dengan mencatat pendapatan sebesar Rp62,71 triliun dan laba bersih mencapai Rp6,91 triliun. Laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai Rp6,39 triliun, melonjak 36,02%

Capaian tersebut menjadi modal bagi perusahaan tambang pelat merah ini untuk memperkuat fundamental bisnis sekaligus melanjutkan pengembangan portofolio komoditas utama, terutama emas, nikel, dan bauksit.

Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko ANTAM, Arini Kasmira, mengatakan kinerja perseroan ditopang oleh optimalisasi kegiatan operasional, pengelolaan portofolio komoditas, serta penerapan efisiensi dan disiplin keuangan.

“ANTAM terus berfokus menjaga fundamental keuangan melalui pengelolaan biaya yang disiplin, optimalisasi kinerja operasional, serta penguatan bisnis pada komoditas utama,” ujar Arini dalam Paparan Publik 2026.

Menurut dia, strategi tersebut berjalan beriringan dengan pengembangan hilirisasi untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya mineral dan menopang pertumbuhan bisnis secara berkelanjutan.

Bisnis emas menjadi salah satu kontributor terbesar terhadap kinerja ANTAM pada paruh pertama 2026. Perseroan mencatat volume penjualan emas sekitar 18,1 ton, dengan pendapatan dari segmen tersebut mencapai sekitar Rp50,39 triliun.

ANTAM terus memperkuat rantai nilai bisnis emas, mulai dari memastikan ketersediaan bahan baku, meningkatkan kemampuan pengolahan dan manufaktur, hingga memperluas akses pasar.

Tidak berhenti di sana, perseroan juga menyiapkan pengembangan fasilitas manufaktur Logam Mulia di Gresik. Fasilitas tersebut diproyeksikan memiliki kapasitas sekitar 30 ton per tahun dan saat ini masih berada dalam tahap prakonstruksi.

Arini mengatakan ANTAM akan tetap menjaga fleksibilitas strategi bisnis emas dengan mempertimbangkan perkembangan pasar komoditas.

“Ke depan, kami akan terus mencermati dinamika pasar dan menjaga fleksibilitas strategi bisnis, termasuk melalui penguatan rantai pasok, kapabilitas pengolahan dan manufaktur, serta pengembangan pasar,” katanya.

Di sektor nikel, ANTAM mencatat produksi bijih nikel sekitar 7,78 juta wet metric ton (wmt) selama Semester I 2026. Sementara volume penjualannya mencapai sekitar 6,77 juta wmt.

Seluruh penjualan bijih nikel pada periode tersebut diarahkan untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik.

ANTAM juga terus mengembangkan rantai hilirisasi nikel, mulai dari kegiatan pertambangan, fasilitas RKEF dan HPAL, hingga pengembangan material baterai serta sel baterai.

Pengembangan tersebut menjadi bagian dari strategi perseroan untuk membangun rantai nilai mineral yang lebih terintegrasi, termasuk mendukung pertumbuhan ekosistem baterai kendaraan listrik di dalam negeri.

“Pengembangan hilirisasi merupakan bagian penting dari strategi pertumbuhan jangka panjang ANTAM. Kami ingin memastikan sumber daya yang dimiliki Perseroan dapat memberikan nilai tambah yang semakin optimal melalui pengembangan rantai bisnis yang lebih terintegrasi,” ujar Arini.

Bauksit Didorong Masuk Hilirisasi

Selain emas dan nikel, ANTAM juga memperkuat bisnis bauksit dengan mengintegrasikan rantai nilai dari pertambangan hingga pengolahan menjadi alumina.

Perseroan memiliki tambang bauksit di Tayan dan fasilitas Chemical Grade Alumina (CGA) melalui PT Indonesia Chemical Alumina dengan kapasitas terpasang 300.000 ton per tahun.

ANTAM juga memiliki kepemilikan 40% pada fasilitas Smelter Grade Alumina (SGA) Mempawah yang memiliki kapasitas terpasang sebesar 1 juta ton per tahun.

Integrasi tersebut diharapkan dapat meningkatkan nilai tambah komoditas bauksit sekaligus memperkuat peran ANTAM dalam pengembangan industri pengolahan mineral nasional.

Di tengah ekspansi bisnis dan agenda hilirisasi, ANTAM tetap menjaga kondisi keuangannya. Hingga Semester I 2026, perseroan membukukan total aset sebesar Rp61,27 triliun dan total ekuitas mencapai Rp38,53 triliun.

Adapun posisi kas dan setara kas tercatat sebesar Rp9,23 triliun.

Arini menegaskan, kekuatan neraca tersebut akan menjadi fondasi bagi perseroan untuk menjalankan agenda pertumbuhan dengan tetap menerapkan prinsip kehati-hatian.

“Kami akan terus menjaga keseimbangan antara pertumbuhan bisnis, disiplin investasi, dan pengelolaan risiko. Setiap agenda pengembangan akan kami jalankan secara prudent agar memberikan nilai tambah yang optimal sekaligus menjaga kesehatan keuangan Perseroan dalam jangka panjang,” jelasnya.

Ke depan, ANTAM akan mengoptimalkan tiga pilar utama bisnisnya, yakni emas, nikel, dan bauksit. Hilirisasi juga akan terus menjadi bagian penting dari strategi perseroan untuk menciptakan nilai tambah yang lebih besar.

Pada perdagangan Jumat (11/9) saham ANTM stagnan di level Rp3.270. Dalam sebulan t5erakhir hanya naik 5,83 persen. Namun dalam enam bulan saham ANTM ambles 16 persen dari harga Rp3.970 pada 11 Maret 2026.

Topik terkait
ANTM PT ANTAM Tbk (ANTM) Semester I 2026 pendapatan laba bersih emas nikel dan bauksit.