BAJA Jadwalkan Rights Issue! Rasio 2:1, Potensi Dilusi 33,33%

BAJA Jadwalkan Rights Issue! Rasio 2:1, Potensi Dilusi 33,33%
PT Saranacentral Bajatama Tbk (BAJA) akan melakukan penambahan modal melalui Penambahan Modal dengan Memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu I (PMHMETD I) atau rights issue dengan nilai emisi mencapai Rp450 miliar.
Bacakan Artikel

EmitenTrust.com - PT Saranacentral Bajatama Tbk (BAJA) akan melakukan penambahan modal melalui Penambahan Modal dengan Memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu I (PMHMETD I) atau rights issue dengan nilai emisi mencapai Rp450 miliar.

Dalam prospektus yang diterbitkan pada 18 September 2026, BAJA menawarkan sebanyak 900 juta saham baru dengan nilai nominal Rp100 per saham. Jumlah tersebut setara dengan 33,33% dari modal ditempatkan dan disetor penuh perseroan setelah pelaksanaan PMHMETD I.

Setiap pemegang 2 saham lama berhak memperoleh 1 HMETD. Setiap satu HMETD memberikan hak kepada pemegangnya untuk membeli satu saham baru dengan harga pelaksanaan Rp500 per saham.

Pemegang saham yang tercatat dalam Daftar Pemegang Saham BAJA pada 29 September 2026 pukul 16.00 WIB berhak mendapatkan HMETD tersebut.

Dalam aksi ini, salah satu pemegang saham pengendali, Ibnu Susanto, menyatakan akan melaksanakan seluruh HMETD yang menjadi haknya. Dengan kepemilikan 320,2692 juta saham atau 17,79%, Ibnu akan memperoleh 160,1346 juta HMETD.

Ibnu menyatakan akan menggunakan seluruh HMETD tersebut untuk membeli 160,1346 juta saham baru dengan total dana sebesar Rp80,07 miliar. Ia juga menyatakan memiliki dana yang cukup untuk memenuhi komitmen tersebut.

Sementara itu, pemegang saham pengendali lainnya, yakni Soediarto Soerjoprahono, Handaja Susanto, Entario Widjaja Susanto, Laksmono Tirta Kusumo, dan Anton Sebastian, masing-masing menyatakan tidak akan melaksanakan maupun mengalihkan HMETD yang mereka terima.

Apabila saham baru yang ditawarkan tidak seluruhnya terserap oleh pemegang saham atau pemegang HMETD, sisa saham akan dialokasikan kepada pemesan tambahan secara proporsional.

Jika setelah alokasi masih terdapat saham tersisa, PT Sarana Steel (PT SS) dan Ibnu Susanto akan bertindak sebagai pembeli siaga. Keduanya menjamin pembelian sisa saham sebanyak-banyaknya 739,8654 juta saham dengan nilai maksimal Rp369,93 miliar.

PT SS akan membeli maksimal 620 juta saham atau 83,80% dari sisa saham yang dijamin, dengan nilai maksimal Rp310 miliar. Sementara Ibnu Susanto akan membeli maksimal 119,8654 juta saham atau 16,20%, dengan nilai maksimal Rp59,93 miliar.

Menariknya, kewajiban PT SS atas pembelian sisa saham tersebut akan diselesaikan melalui mekanisme kompensasi dengan piutang atau hak tagih terhadap BAJA.

Piutang tersebut berasal dari perjanjian kredit yang telah beberapa kali diperpanjang. Saldo utang BAJA kepada PT SS tercatat sebesar US$20,6 juta, atau setara sekitar Rp317,57 miliar berdasarkan nilai yang tercantum dalam prospektus.

Dengan demikian, sebagian kebutuhan dana dalam aksi korporasi BAJA akan diselesaikan melalui mekanisme non-tunai berupa kompensasi utang, sedangkan Ibnu Susanto akan melakukan penyetoran menggunakan dana tunai.

BAJA memperoleh pernyataan efektif dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 17 September 2026. Saham hasil pelaksanaan HMETD akan dicatatkan di Bursa Efek Indonesia pada 1 Oktober 2026.

Adapun tanggal terakhir pencatatan pemegang saham yang berhak memperoleh HMETD adalah 29 September 2026. HMETD akan didistribusikan pada 30 September 2026 dan dapat diperdagangkan pada 1–7 Oktober 2026.

Periode pendaftaran, pembayaran, dan pelaksanaan HMETD juga berlangsung pada 1–7 Oktober 2026. Sementara tanggal terakhir perdagangan saham dengan HMETD di pasar reguler dan negosiasi adalah 25 September 2026, sedangkan di pasar tunai 29 September 2026.

BAJA mengingatkan pemegang saham lama bahwa pemegang saham yang tidak melaksanakan HMETD akan mengalami dilusi kepemilikan secara maksimal sebesar 33,33% dari porsi kepemilikannya.

Perseroan yang bergerak di bidang industri penggilingan baja (steel rolling) tersebut juga menyebut salah satu risiko utama yang dihadapi adalah risiko penurunan harga produk baja lapis di pasar global.

Pada perdagangan hari ini Jumat (18/9) saham BAJA naik 10 persen ke level Rp308.