BKSL Kantongi Laba Rp124,1M, Melonjak 67% hingga September 2026
EmitenTrust.com - PT Sentul City Tbk (BKSL) membukukan laba neto sebesar Rp124,17 miliar hingga kuartal III-2026, meningkat 67,46% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp74,15 miliar. Kinerja tersebut ditopang pertumbuhan pendapatan dan peningkatan laba usaha di tengah kenaikan beban keuangan perseroan.
Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian interim per 30 September 2026, pengembang kawasan Sentul ini mencatatkan pendapatan neto sebesar Rp1,23 triliun, melonjak 47,33% dibandingkan Rp836,98 miliar pada periode yang sama tahun lalu.
Seiring kenaikan pendapatan, beban pokok pendapatan meningkat menjadi Rp625,42 miliar dari sebelumnya Rp373,06 miliar. Meski demikian, laba bruto BKSL tetap tumbuh 30,99% menjadi Rp607,67 miliar, dibandingkan Rp463,92 miliar pada sembilan bulan pertama 2025.
Dari sisi operasional, laba usaha perseroan mencapai Rp323,47 miliar, meningkat 22,32% dibandingkan Rp264,44 miliar pada periode yang sama tahun lalu.
Namun, kinerja perseroan masih dibayangi peningkatan beban keuangan menjadi Rp210,08 miliar dari Rp191,52 miliar. Di sisi lain, pendapatan keuangan naik menjadi Rp14,56 miliar dari Rp3,27 miliar.
Setelah memperhitungkan bagian atas rugi neto entitas asosiasi sebesar Rp3,80 miliar, BKSL membukukan laba sebelum pajak sebesar Rp124,17 miliar, meningkat 67,46% dibandingkan Rp74,15 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Menariknya, laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai Rp126,48 miliar, melonjak 75,79% dibandingkan Rp71,95 miliar pada sembilan bulan pertama 2025. Angka ini lebih tinggi daripada laba neto konsolidasian karena perseroan mencatatkan rugi yang diatribusikan kepada kepentingan nonpengendali sebesar Rp2,31 miliar.
Laba per saham dasar BKSL juga meningkat menjadi Rp0,75 per saham dari sebelumnya Rp0,43 per saham.
Aset BKSL Tembus Rp21,73 Triliun
Dari sisi neraca, total aset BKSL per 30 September 2026 mencapai Rp21,73 triliun, meningkat dibandingkan Rp21,26 triliun pada akhir Desember 2025.
Aset lancar perseroan tercatat sebesar Rp5,44 triliun, naik dari Rp4,77 triliun pada akhir tahun lalu. Sementara itu, tanah untuk pengembangan mencapai Rp10,50 triliun, meningkat dari Rp10,13 triliun.
Persediaan juga naik menjadi Rp2,50 triliun dari Rp2,32 triliun. Adapun aset keuangan lancar lainnya mencapai Rp1,59 triliun, dibandingkan Rp1,26 triliun pada akhir 2025.
Dari sisi liabilitas, total kewajiban perseroan meningkat menjadi Rp5,62 triliun dari Rp5,27 triliun. Kenaikan terutama terlihat pada pinjaman bank jangka panjang yang mencapai Rp2,11 triliun, dibandingkan Rp389,01 miliar pada akhir tahun lalu.
Sebaliknya, liabilitas jangka pendek turun menjadi Rp2,41 triliun dari Rp3,52 triliun, salah satunya seiring penurunan pinjaman bank jangka pendek dan uang muka pelanggan.
Total ekuitas BKSL mencapai Rp16,12 triliun, meningkat dari Rp15,99 triliun pada akhir 2025.
Di tengah pertumbuhan laba, arus kas operasi BKSL justru mengalami tekanan. Perseroan mencatatkan arus kas bersih yang digunakan untuk aktivitas operasi sebesar Rp992,02 miliar hingga September 2026, berbalik dari arus kas positif Rp202,21 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Tekanan tersebut antara lain terlihat dari pengeluaran kas untuk perolehan tanah, pembayaran kepada kontraktor dan pemasok sebesar Rp643,78 miliar. Selain itu, pengeluaran kas untuk aktivitas operasi lainnya mencapai Rp711,91 miliar.
Untuk menutup kebutuhan pendanaan, BKSL mencatatkan arus kas bersih dari aktivitas pendanaan sebesar Rp886,77 miliar. Penerimaan pinjaman bank mencapai Rp2,86 triliun, sedangkan pembayaran pinjaman bank sebesar Rp1,64 triliun.
Akibatnya, kas dan setara kas pada akhir September 2026 tercatat Rp417,08 miliar, turun dari Rp561,47 miliar pada akhir Desember 2025.