DEWI Cetak Laba Melejit 42,6 Persen di Semester I 2026

DEWI Cetak Laba Melejit 42,6 Persen di Semester I 2026
Bacakan Artikel

EmitenTrust.com - PT Dewi Shri Farmindo Tbk (DEWI) berhasil mencatatkan laba bersih Rp2,65 miliar sepanjang semester I 2026, melonjak sekitar 42,61% dibandingkan laba Rp1,86 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Kinerja positif tersebut ditopang pertumbuhan penjualan yang cukup signifikan. Berdasarkan laporan keuangan perseroan, penjualan DEWI hingga 30 Juni 2026 mencapai sekitar Rp37,10 miliar, naik 48,79% dibandingkan penjualan Rp24,97 miliar pada semester I 2025.

Pertumbuhan penjualan tersebut turut mengerek laba bruto perseroan menjadi sekitar Rp6,70 miliar, dibandingkan sekitar Rp5,69 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Dengan demikian, laba bruto meningkat sekitar 17,70%.

Di sisi beban, beban umum dan administrasi tercatat Rp2,81 miliar, naik sekitar 6,63% dari Rp2,63 miliar pada semester I 2025.

Perseroan juga mencatat pendapatan operasi lain sebesar sekitar Rp3,04 miliar, meningkat sekitar 13,76% dibandingkan Rp2,68 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Sementara itu, beban operasi lain meningkat menjadi sekitar Rp272,10 juta, dari Rp131,27 juta. Artinya, pos tersebut melonjak sekitar 107,40% secara tahunan.

Dengan kinerja tersebut, laba usaha DEWI tercatat sekitar Rp3,89 miliar, meningkat sekitar 27,22% dibandingkan Rp3,06 miliar pada semester I 2025.

Dari sisi keuangan, pendapatan keuangan mencapai sekitar Rp3,06 miliar, naik sekitar 33,21% dari Rp2,30 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Namun, beban keuangan juga meningkat menjadi sekitar Rp1,01 miliar, dari Rp778,22 juta atau naik sekitar 29,33%.

Pada akhirnya, DEWI membukukan laba tahun berjalan Rp2,65 miliar pada semester I 2026, dibandingkan Rp1,86 miliar pada semester I 2025.

Dari sisi neraca, total aset DEWI per 30 Juni 2026 mencapai Rp197,58 miliar, meningkat sekitar 8,31% dibandingkan Rp182,42 miliar pada 31 Desember 2025.

Aset lancar tercatat sekitar Rp111,77 miliar, naik dari Rp107,12 miliar pada akhir 2025. Sementara aset tidak lancar mencapai sekitar Rp85,81 miliar, meningkat dari sekitar Rp75,30 miliar.

Di sisi liabilitas, utang usaha pihak ketiga tercatat nihil, sedangkan biaya yang masih harus dibayar mencapai sekitar Rp2,51 miliar. Utang pajak meningkat menjadi sekitar Rp27,76 miliar dari Rp4,56 miliar pada akhir 2025.