Emitentrust.com – PT Singaraja Putra Tbk (SINI) memberikan penjelasan kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) terkait transaksi material berupa pengambilalihan 99,99% saham PT Kemilau Mulia Sakti (KMS), entitas anak PT Petrosea Tbk (PTRO), dengan nilai transaksi sebesar Rp1,7304 triliun.
Direktur Utama SINI Amir Antolis menyatakan akuisisi tersebut merupakan bagian dari strategi pengembangan usaha untuk memperkuat investasi di sektor pertambangan batu bara yang dinilai masih memiliki prospek pertumbuhan positif dalam jangka menengah.
Menurutnya, permintaan batu bara global diperkirakan tetap terjaga, terutama dari negara-negara Asia seperti Tiongkok dan India. Selain itu, Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034 memproyeksikan kebutuhan listrik nasional tumbuh rata-rata sekitar 5,34% per tahun, sehingga batu bara masih akan memainkan peran penting dalam bauran energi nasional.
Melalui akuisisi tersebut, SINI berharap dapat memperluas cakupan usaha, memperkuat portofolio pertambangan batu bara, sekaligus meningkatkan kontribusi pendapatan dan laba perusahaan.
” Dalam jangka pendek, Perseroan menilai transaksi tersebut akan meningkatkan nilai aset serta memperkuat kepercayaan investor karena memberikan nilai tambah bagi perusahaan dan para pemangku kepentingan, ” tulis Amir dalam surat jawaban permintaan penjelasan BEI pada Selasa (21/7).
Ditambahkan sementara dalam jangka panjang, akuisisi KMS diproyeksikan meningkatkan kapasitas produksi dan volume penjualan batu bara, mendorong pertumbuhan pendapatan dan laba, menciptakan sinergi operasional pada aspek produksi, penjualan, logistik, hingga memperkuat posisi tawar (bargaining power) Perseroan. Akuisisi juga dinilai dapat mengurangi ketergantungan terhadap satu wilayah operasi.
Untuk mengintegrasikan KMS beserta anak usahanya, PT Cristian Eka Pratama (CEP), dengan entitas tambang yang telah dimiliki seperti PT Pasir Bara Prima (PBP) dan PT Petro Kalimantan Persada (PKP), manajemen akan melakukan sinergi pada seluruh aspek operasional, termasuk penjualan, produksi, dan logistik guna mengoptimalkan kinerja operasional.
Meski lokasi tambang CEP berada di Kalimantan Timur, berbeda dengan anak usaha Perseroan yang berada di Kalimantan Tengah, SINI menilai akuisisi tersebut tetap akan meningkatkan standar operasional perusahaan sehingga mampu mendorong efisiensi biaya operasional melalui pembangunan infrastruktur yang lebih baik.
Perseroan juga menjelaskan bahwa kontrak jasa pertambangan jangka panjang antara PT Petrosea Tbk dan PT Pasir Bara Prima yang berlaku hingga 2032 bukan merupakan bagian maupun syarat dalam transaksi akuisisi KMS.
Ke depan, target produksi dari konsesi KMS direncanakan meningkat secara bertahap, dimulai sekitar 1 juta ton per tahun pada tahap awal, kemudian meningkat menjadi 3,6 juta ton per tahun hingga mencapai kapasitas optimal sekitar 5 juta ton per tahun, dengan mempertimbangkan kesiapan infrastruktur, kondisi operasional, serta perkembangan pasar.
Berdasarkan estimasi cadangan yang dimiliki, umur tambang (life of mine) diperkirakan berlangsung hingga sekitar tahun 2038. Perseroan juga menargetkan volume penjualan batu bara konsolidasian meningkat secara bertahap dibandingkan realisasi tahun 2025 sebesar 203.057 metrik ton.
Amir menambahkan bahwa sinergi operasional hasil akuisisi berpotensi menciptakan kontrak jasa pertambangan jangka panjang yang lebih kompetitif melalui efisiensi biaya, optimalisasi penggunaan alat dan sumber daya, serta koordinasi operasional yang lebih baik.
Dari sisi kinerja keuangan, SINI menargetkan pendapatan KMS mencapai sekitar USD52 juta pada 2026 dan meningkat menjadi USD158,97 juta pada 2027. Kontribusi terhadap pendapatan konsolidasian Perseroan diperkirakan mencapai sekitar 21,40% pada 2026 dan meningkat menjadi sekitar 27,06% pada 2027.
Menanggapi pertanyaan BEI mengenai nilai transaksi yang lebih tinggi dibandingkan ekuitas KMS per akhir 2025, Perseroan menjelaskan bahwa KMS memiliki 99% kepemilikan pada PT Cristian Eka Pratama yang mengantongi Izin Usaha Pertambangan Operasi Produksi hingga Juli 2038 di Kutai Barat, Kalimantan Timur.
Berdasarkan laporan tenaga ahli, CEP memiliki cadangan batu bara sekitar 89,25 juta ton. Penilaian independen oleh Kantor Jasa Penilai Publik menggunakan metode discounted cash flow dan adjusted net asset menghasilkan nilai pasar 99% saham KMS sebesar Rp1,8405 triliun.
Dengan demikian, nilai transaksi Rp1,7304 triliun berada di bawah nilai pasar hasil penilaian tersebut. Perseroan menyatakan selisih sekitar 5,98% masih sesuai ketentuan POJK Nomor 35 Tahun 2020. Selain itu, hasil perhitungan internal rate of return (IRR) sebesar 19,58% dinilai lebih tinggi dibandingkan biaya modal sehingga transaksi diharapkan memberikan dampak positif terhadap kinerja keuangan konsolidasian di masa mendatang.
Terkait operasional, Perseroan menegaskan pembangunan jalan angkut sepanjang sekitar 40 kilometer melalui PT Lintas Kelola Bersama tetap berjalan, meski tidak terhubung langsung dengan wilayah tambang KMS karena berada di lokasi berbeda. Namun, peningkatan standar operasional diharapkan tetap mampu meningkatkan efisiensi biaya pengangkutan.
Sementara itu, kontrak penjualan batu bara PKP kepada Ever Grace International Trading Limited akan berlaku hingga komitmen pengiriman sebanyak 1 juta ton terpenuhi. Perseroan menyatakan infrastruktur angkut telah tersedia dan sedang ditingkatkan untuk mendukung target RKAB tahun 2026 sebesar 1,8 juta ton.
Amir juga menegaskan bahwa transaksi penjualan kepada Ever Grace akan dilakukan berdasarkan prinsip kewajaran (arm’s length) sesuai kondisi pasar.
Di sisi lain, dana hasil PMHMETD I yang dialokasikan untuk pinjaman kepada PKP dan PBP belum direalisasikan karena proses pelaksanaan HMETD masih berlangsung.
Mengenai kewajiban Domestic Market Obligation (DMO), Perseroan menyatakan tidak pernah dikenakan sanksi oleh Kementerian ESDM atas pemenuhan kewajiban tersebut.
Untuk pengembangan aset lainnya, dua anak usaha PT Dwi Daya Swakarya, yakni PT Pesona Bara Cakrawala dan PT Cakrawala Bara Persada, masih dalam tahap pembangunan jalan angkut serta penyelesaian pembebasan lahan. PT Pesona Bara Cakrawala ditargetkan mulai beroperasi secara komersial pada kuartal IV 2026, sedangkan PT Cakrawala Bara Persada ditargetkan menyusul pada kuartal IV 2027.
Perseroan juga menyatakan hingga tanggal penyampaian tanggapan kepada BEI tidak terdapat informasi atau fakta material lain yang belum diungkapkan kepada publik dan berpotensi memengaruhi pergerakan saham Perseroan.


