EmitenTrust Versi penuh
Stock and Market

Grup Lippo (SILO) Minta Restu Akuisisi 14 Perusahaan Pemilik Properti Rumah Sakit

Oleh Komarudin 17 Aug 2026 18:52 5 menit baca

EmitenTrust.com - 

PT Siloam International Hospitals Tbk (SILO) bersiap melakukan aksi korporasi besar dengan merencanakan akuisisi saham pada 14 perusahaan yang memiliki properti rumah sakit dari First REIT. 

Rencana transaksi tersebut akan dilakukan dalam dua tahap dan menjadi bagian dari transaksi material yang akan dimintakan persetujuan pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) yang direncanakan digelar sekitar 22 September 2026.

Transaksi tersebut merupakan satu rangkaian transaksi sebagaimana diatur dalam Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) No. 17/POJK.04/2020 tentang Transaksi Material dan Perubahan Kegiatan Usaha.

Dalam transaksi tahap pertama, SILO bersama PT Megapratama Karya Bersama (MKB) berencana mengambil alih 100% saham pada delapan perusahaan yang memiliki properti rumah sakit.

MKB merupakan perusahaan yang 99,99% sahamnya dimiliki oleh SILO.

Delapan perusahaan yang menjadi sasaran transaksi tahap pertama terdiri dari PT Eka Dasa Parinama (EDP), PT Sriwijaya Mega Abadi (SMA), PT Sentra Dinamika Perkasa (SDP), PT Graha Indah Pratama (GIP), PT Dasa Graha Jaya (DGJ), PT Nusa Bahana Niaga (NBN), PT Buton Bangun Cipta (BBC), dan PT Menara Abadi Megah (MAM).

Untuk merealisasikan transaksi tersebut, SILO dan/atau MKB telah menandatangani delapan Perjanjian Jual Beli Saham Bersyarat (PPJB) pada 1 April 2026 dengan masing-masing pihak penjual.

Selain transaksi tahap pertama, SILO juga menyiapkan transaksi tahap kedua melalui enam Perjanjian Opsi Jual yang juga ditandatangani pada 1 April 2026.

Dalam skema tersebut, pemegang opsi jual diberikan hak untuk mewajibkan SILO dan/atau MKB mengambil alih saham pada enam perusahaan sasaran tahap kedua apabila opsi jual tersebut dilaksanakan.

Enam perusahaan yang masuk dalam tahap kedua adalah PT Prima Labuan Bajo (PLB), PT Perisai Dunia Sejahtera (PDS), PT Bayutama Sukses (BS), PT Primatama Cemerlang (PC), PT Graha Pilar Sejahtera (GPS), dan PT Yogya Central Terpadu (YCT).

Dengan demikian, apabila seluruh transaksi terealisasi, SILO akan memiliki eksposur terhadap 14 perusahaan pemilik properti rumah sakit melalui transaksi tahap pertama dan tahap kedua.

" SILO menegaskan bahwa tidak terdapat hubungan afiliasi antara Perseroan dengan para penjual maupun para pemegang opsi jual dalam rencana transaksi tersebut," tulis manajemenen pada Sabtu (15/8).

Karena itu, transaksi ini disebut bukan merupakan transaksi afiliasi sebagaimana dimaksud dalam POJK No. 42/POJK.04/2020 tentang Transaksi Afiliasi dan Transaksi Benturan Kepentingan.

SILO juga menyatakan rencana transaksi tersebut bukan merupakan transaksi yang mengandung benturan kepentingan sebagaimana diatur dalam regulasi yang sama.

Perseroan turut menyampaikan bahwa rencana transaksi tersebut tidak berpotensi mengakibatkan terganggunya kelangsungan usaha Perseroan. Rencana aksi korporasi ini berkaitan dengan First REIT, dengan Perpetual (Asia) Limited bertindak sebagai trustee dari First REIT.

Secara garis besar, transaksi dirancang melalui dua tahap. Tahap pertama mencakup pengambilalihan 100% saham pada delapan perusahaan sasaran oleh SILO dan MKB. Sementara tahap kedua mencakup pengambilalihan saham pada enam perusahaan lainnya apabila hak opsi jual yang diberikan kepada para pemegang opsi dijalankan.

Rencana transaksi tersebut menjadi perhatian pemegang saham karena berkaitan dengan transaksi material dan akan dibawa dalam agenda RUPS Perseroan yang direncanakan berlangsung pada atau sekitar 22 September 2026.

Jika mendapat persetujuan pemegang saham dan seluruh persyaratan transaksi terpenuhi, aksi korporasi ini berpotensi memperluas kepemilikan dan penguasaan SILO atas aset properti yang terkait dengan rumah sakit.

Perlu diketahui, PT Siloam International Hospitals Tbk (SILO) mencatat laba bersih proforma sebesar Rp250,46 miliar pada tiga bulan pertama 2026 setelah memperhitungkan penyesuaian terkait transaksi. 

Angka tersebut turun 14,69 persen dibandingkan laba bersih sebelum transaksi yang mencapai Rp293,57 miliar.

Berdasarkan laporan laba rugi dan penghasilan komprehensif lain konsolidasian proforma untuk periode yang berakhir pada 31 Maret 2026, penyesuaian transaksi memangkas laba bersih perseroan sebesar Rp43,12 miliar.

Meski laba bersih tertekan, pendapatan Siloam setelah transaksi tercatat meningkat menjadi Rp3,32 triliun, dari sebelumnya Rp3,28 triliun. Dengan demikian, pendapatan perseroan naik sekitar 1,37 persen atau Rp44,82 miliar.

Kenaikan pendapatan terutama berasal dari segmen non-spesialis, yang meningkat dari Rp2,55 triliun menjadi Rp2,59 triliun. Sementara itu, pendapatan dari layanan spesialis tetap berada di level Rp731,14 miliar.

Pertumbuhan pendapatan turut mendorong laba bruto menjadi Rp1,30 triliun, naik dari Rp1,25 triliun sebelum transaksi.

Pada tingkat operasional, kinerja perseroan juga menunjukkan peningkatan. Laba usaha setelah transaksi mencapai Rp470,19 miliar, dibandingkan Rp412,82 miliar sebelum transaksi. Artinya, terdapat peningkatan sekitar 13,90 persen.

Namun, peningkatan laba usaha tersebut belum mampu mengimbangi kenaikan beban keuangan. Setelah transaksi, beban keuangan Siloam melonjak menjadi Rp175,51 miliar, dari sebelumnya Rp36,33 miliar.

Kenaikan beban keuangan tersebut menjadi salah satu faktor utama yang menekan laba sebelum pajak. Laba sebelum pajak setelah transaksi tercatat Rp301,12 miliar, turun dari Rp382,93 miliar atau sekitar 21,36 persen.

Setelah memperhitungkan pajak penghasilan sebesar Rp50,67 miliar, laba bersih perseroan berada di level Rp250,46 miliar.

Dari sisi neraca, total aset Siloam setelah transaksi meningkat signifikan menjadi Rp23,91 triliun, dari Rp15,32 triliun sebelum transaksi. Kenaikan sekitar Rp8,59 triliun tersebut terutama berasal dari peningkatan aset tetap.

Aset tetap perseroan setelah transaksi tercatat mencapai Rp19,06 triliun, melonjak dari Rp10,53 triliun sebelum transaksi. Artinya, terjadi penambahan sekitar Rp8,53 triliun.

Di sisi liabilitas, total kewajiban Siloam meningkat dari Rp5,10 triliun menjadi Rp13,73 triliun. Salah satu perubahan terbesar berasal dari munculnya liabilitas jangka panjang berupa utang bank sebesar Rp8,88 triliun setelah transaksi.

Sementara itu, total ekuitas perseroan tercatat Rp10,18 triliun setelah transaksi, sedikit lebih rendah dibandingkan Rp10,23 triliun sebelum transaksi. Penurunan tersebut terutama tercermin pada saldo laba yang turun dari Rp4,17 triliun menjadi Rp4,13 triliun.