Emitentrust.com – Bursa Efek Indonesia menyampaikan tengah memantau secara intensif pergerakan saham PT Habco Trans Maritima Tbk (HATM) setelah terindikasi adanya Unusual Market Activity (UMA) atau pola transaksi di luar kebiasaan.
Pasca pengumuman UMA, saham HATM pada perdagangan Selasa (31/3/2026) tercatat melemah 0,62% ke level Rp322.
Meski terkoreksi tipis hari ini, pergerakan HATM dalam beberapa periode terakhir menunjukkan tren kenaikan. Dalam sepekan terakhir naik 3,8 persen dari harga Rp310. dalam sebulan naik 6,5 persen dari harga Rp304. Dalam enam bulan naik 36 persen dari harga Rp248
BEI menyampaikan bahwa Informasi terakhir mengenai Perusahaan Tercatat adalah informasi tanggal 9 Maret 2026 yang dipublikasikan melalui website PT Bursa Efek Indonesia (Bursa) perihal laporan bulanan registrasi pemegang efek.
Sehubungan dengan terjadinya Unusual Market Activity atas saham tersebut maka perlu kami sampaikan bahwa Bursa saat ini sedang mencermati perkembangan pola transaksi saham ini. Oleh karena itu para Investor diharapkan untuk memperhatikan jawaban Perusahaan Tercatat atas permintaan konfirmasi Bursa dan mencermati kinerja Perusahaan Tercatat dan keterbukaan informasinya.
Selain itu, investor juga disarankan untuk mengkaji kembali corporate action perusahaan tercatat apabila belum mendapat persetujuan RUPS.
BEI juga menyarankan investor untuk mempertimbangkan berbagai kemungkinan yang dapat timbul di kemudian hari sebelum melakukan investasi.
Sebagai informasi, Emiten pelayaran, PT Habco Trans Maritima Tbk (HATM) mencatatkan laba bersih sebesar Rp97,13 miliar pada 2025, turun sekitar 31% dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai Rp141,53 miliar.
Penurunan laba ini terjadi di tengah lonjakan pendapatan yang justru tumbuh signifikan. Perseroan membukukan pendapatan sebesar Rp965,3 miliar, naik sekitar 29% dari Rp748,2 miliar pada 2024.
Namun, kenaikan beban pokok pendapatan yang melonjak hingga Rp806,4 miliar membuat laba kotor tertekan menjadi Rp158,8 miliar, turun dari Rp209 miliar pada tahun sebelumnya. Dampaknya, laba usaha ikut terkoreksi menjadi Rp119,8 miliar.


