ISSP Cetak Laba Naik 28,5%, Tapi Utang Bank Melonjak 324% di Kuartal III

ISSP Cetak Laba Naik 28,5%, Tapi Utang Bank Melonjak 324% di Kuartal III
PT Steel Pipe Industry of Indonesia Tbk (ISSP) membukukan laba bersih sebesar Rp474,69 miliar hingga kuartal III-2026, naik 28,56% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp369,24 miliar. Kenaikan laba tersebut ditopang pertumbuhan penjualan dan pendapatan jasa perseroan yang mencapai Rp4,51 triliun.
Bacakan Artikel

EmitenTrust.com - PT Steel Pipe Industry of Indonesia Tbk (ISSP) membukukan laba bersih sebesar Rp474,69 miliar hingga kuartal III-2026, naik 28,56% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp369,24 miliar. Kenaikan laba tersebut ditopang pertumbuhan penjualan dan pendapatan jasa perseroan yang mencapai Rp4,51 triliun.

Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian per 30 September 2026, penjualan dan pendapatan jasa ISSP tumbuh 8,53% secara tahunan (year-on-year/YoY) dari Rp4,16 triliun pada periode yang sama 2025 menjadi Rp4,52 triliun.

Seiring peningkatan penjualan, laba kotor perseroan naik 20,16% menjadi Rp985,39 miliar, dibandingkan Rp820,05 miliar pada sembilan bulan pertama 2025.

Laba sebelum pajak juga mengalami peningkatan sebesar 29,32% menjadi Rp600,99 miliar, dari sebelumnya Rp464,73 miliar. Sementara itu, beban pajak meningkat 32,27% menjadi Rp126,29 miliar, dibandingkan Rp95,48 miliar pada periode yang sama tahun lalu.

Dengan demikian, margin laba bersih ISSP meningkat menjadi sekitar 10,51% dari 8,87% pada periode Januari-September 2025. Adapun laba per saham dasar naik menjadi Rp67,49, dibandingkan Rp52,36 pada periode yang sama tahun sebelumnya, atau tumbuh sekitar 28,89%.

Di tengah pertumbuhan kinerja, sejumlah beban perseroan turut mengalami kenaikan. Beban pokok pendapatan meningkat 5,67% menjadi Rp3,53 triliun dari Rp3,34 triliun.

Beban penjualan dan distribusi naik 12,53% menjadi Rp167,25 miliar, sedangkan beban umum dan administrasi meningkat 35,07% menjadi Rp120,55 miliar.

Beban keuangan juga bertambah 2,25% menjadi Rp162,15 miliar dari Rp158,58 miliar. Sebaliknya, beban lain-lain turun 6,60% menjadi Rp39,62 miliar dari Rp42,42 miliar.

Perseroan juga mencatat kenaikan pendapatan lain-lain sebesar 25,91% menjadi Rp105,18 miliar dari Rp83,53 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Dari sisi neraca, total aset ISSP per 30 September 2026 mencapai Rp11,14 triliun, meningkat 26,60% dibandingkan posisi akhir Desember 2025 sebesar Rp8,80 triliun.

Aset lancar naik 38,37% menjadi Rp6,95 triliun dari Rp5,03 triliun. Kenaikan ini terutama dipengaruhi oleh peningkatan persediaan sebesar 71,58% menjadi Rp5,02 triliun dari Rp2,92 triliun.

Piutang usaha pihak ketiga juga meningkat 11,24% menjadi Rp1,01 triliun dari Rp904,11 miliar. Sementara itu, kas dan setara kas turun 55,72% menjadi Rp423,52 miliar dari Rp956,53 miliar pada akhir 2025.

Aset tidak lancar tercatat sebesar Rp4,18 triliun, naik 10,91% dibandingkan Rp3,77 triliun pada akhir tahun lalu. Peningkatan tersebut antara lain ditopang aset tetap yang tumbuh 17,20% menjadi Rp3,54 triliun dari Rp3,02 triliun.

Liabilitas Melonjak, Utang Bank Jangka Pendek Membengkak

Total liabilitas ISSP meningkat 64,46% menjadi Rp5,14 triliun per akhir September 2026, dibandingkan Rp3,12 triliun pada 31 Desember 2025.

Kenaikan terutama berasal dari liabilitas jangka pendek yang melonjak 120,49% menjadi Rp3,59 triliun dari Rp1,63 triliun. Utang bank jangka pendek tercatat mencapai Rp2,98 triliun, melesat 323,65% dibandingkan Rp703,28 miliar pada akhir tahun lalu.

Sementara itu, liabilitas jangka panjang meningkat 3,39% menjadi Rp1,55 triliun dari Rp1,49 triliun.

Di sisi lain, total ekuitas perseroan naik 5,76% menjadi Rp6 triliun dari Rp5,67 triliun. Saldo laba yang belum ditentukan penggunaannya meningkat 10,84% menjadi Rp3,31 triliun dari Rp2,99 triliun.

Arus Kas Operasi Berbalik Negatif

Meski laba bersih meningkat, arus kas dari aktivitas operasi ISSP berbalik negatif. Pada sembilan bulan pertama 2026, perseroan mencatat arus kas bersih yang digunakan untuk aktivitas operasi sebesar Rp1,52 triliun, dibandingkan arus kas positif Rp933,12 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Kondisi tersebut terjadi ketika pembayaran kas kepada pemasok, karyawan, dan pihak lainnya mencapai Rp5,75 triliun, lebih tinggi dibandingkan penerimaan kas dari pelanggan sebesar Rp4,41 triliun.

Arus kas dari aktivitas investasi juga mencatatkan penggunaan kas sebesar Rp795,67 miliar, meningkat dibandingkan Rp337,70 miliar pada periode yang sama tahun lalu, seiring kenaikan belanja aset tetap.

Untuk menutup kebutuhan pendanaan, perseroan membukukan arus kas positif dari aktivitas pendanaan sebesar Rp1,79 triliun, berbalik dari arus kas negatif Rp361,31 miliar pada sembilan bulan pertama 2025.

Namun, kas dan setara kas ISSP pada akhir September 2026 turun menjadi Rp423,52 miliar dari Rp956,53 miliar pada awal tahun.