Emitentrust.com – Di tengah penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sebesar 1,96% ke level 5.999 pada perdagangan Kamis (25/6/2026), calon emiten PT Niramas Utama Tbk (JELI) mengungkap strategi di balik lonjakan laba bersih sebesar 220% menjelang pencatatan saham perdana di Bursa Efek Indonesia pada 7 Juli 2026.
Dalam sesi C-Talks yang digelar PT Sucor Sekuritas pada 24 Juni 2026, manajemen JELI menjelaskan laba bersih Perseroan melonjak dari Rp12,3 miliar pada 2024 menjadi Rp39,4 miliar pada 2025. Kenaikan tersebut terjadi meskipun pendapatan turun 4,49% dari Rp788,4 miliar menjadi Rp753,01 miliar.
Direktur PT Niramas Utama Tbk, Adhi S. Lukman, mengatakan penurunan pendapatan bukan disebabkan melemahnya permintaan pasar, melainkan hasil strategi Perseroan mengevaluasi portofolio produk dengan menghentikan penjualan sejumlah SKU yang kurang produktif dan memiliki margin rendah. Langkah tersebut membuat perusahaan dapat lebih fokus pada produk-produk dengan profitabilitas lebih tinggi.
“Kita melakukan review terhadap portofolio produk dan unit yang kurang produktif, kemudian melakukan penyesuaian. Ada beberapa SKU yang kita hentikan dan langkah tersebut justru memberikan dampak positif terhadap struktur kinerja Perseroan menjelang IPO,” ujar Adhi.
Strategi tersebut turut mendorong peningkatan indikator operasional. EBITDA tumbuh sekitar 28,14% menjadi Rp102,3 miliar pada 2025, sementara Return on Equity (ROE) melonjak dari 9,81% menjadi 26,82%. Di sisi lain, struktur permodalan juga semakin sehat dengan Debt to Equity Ratio (DER) turun dari 3,82 kali pada 2023 menjadi 2,79 kali pada 2025.
Menjelang penawaran umum perdana saham (IPO), sekitar 51,04% dana hasil emisi akan dialokasikan sebagai penyertaan modal kepada anak usaha PT Niramas Pandaan Sejahtera (NPS). Dana tersebut akan digunakan untuk memperluas kapasitas produksi, terutama pengembangan lini produk gummy candy yang dinilai memiliki prospek pertumbuhan tinggi serta peluang ekspor yang besar.
Menurut Adhi, Perseroan telah melakukan studi ke sejumlah pasar internasional dan melihat peluang besar pada segmen gummy candy. Produk tersebut akan dikembangkan dengan diferensiasi yang kuat, menyasar seluruh kelompok usia, serta tetap mengedepankan kualitas, cita rasa, dan aspek kesehatan.
Selain memperluas bisnis gummy candy, JELI juga terus melakukan inovasi melalui peluncuran produk Mogo Choco pada ajang Pekan Raya Jakarta (PRJ), serta memperkuat lini minuman fungsional melalui EnerGel yang menyasar konsumen muda dengan gaya hidup sehat.
Didirikan pada 1990, INACO saat ini mengoperasikan empat fasilitas produksi di Bekasi, Pontianak, Pandaan, dan Sukabumi dengan lebih dari 115 SKU aktif. Produk Perseroan telah dipasarkan melalui 251 titik distribusi di Indonesia dan diekspor ke lebih dari 30 negara. Berbagai sertifikasi seperti Halal Indonesia, GMP, BPOM, hingga ISO 22000:2018 telah dikantongi Perseroan, disertai penghargaan Top Brand selama periode 2013–2022.
Di tengah tekanan kenaikan nilai tukar dolar AS yang meningkatkan biaya bahan baku, terutama plastik, manajemen memilih tidak menaikkan harga jual secara agresif. Perseroan lebih mengedepankan efisiensi melalui reformulasi produk, digitalisasi proses produksi menggunakan sistem SAP sejak 2017, pemanfaatan panel surya mulai 2025, serta otomatisasi lini produksi yang akan diperkuat menggunakan sebagian dana hasil IPO.
Melalui strategi efisiensi, penguatan portofolio bernilai tambah, dan ekspansi ke kategori produk baru, PT Niramas Utama Tbk optimistis mampu mempertahankan pertumbuhan kinerja dan memperkuat daya saing setelah resmi melantai di Bursa Efek Indonesia.


