EmTrust – Perjalanan menuju atap dunia ini bermula dari tempat yang demikian jauh dari Himalaya, tepatnya dari Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Langkah panjang dimulai dari Bandara Sultan Hasanuddin Makassar, menuju Kuala Lumpur, yang dilanjutkan dengan penerbangan ke Kathmandu, Nepal.
Namun seperti banyak kisah besar lainnya, perjalanan ini tidak langsung berjalan mulus.
Pada 26 April 2024, rencana terbang menuju Lukla—gerbang utama pendakian Everest Base Camp—harus tertunda. Cuaca buruk dan kabut tebal memaksa otoritas bandara menutup penerbangan dari Bandara Ramechap.
Ketidakpastian menyelimuti para pendaki hingga akhirnya, keesokan harinya, 27 April 2024, sebuah pesawat kecil berhasil membawa mereka menembus langit Himalaya.
Setibanya di Bandara Lukla (2.840 mdpl), adrenalin langsung terpacu. Tanpa banyak jeda, Zulqarnain dan tim melakukan registrasi di Sagarmatha National Park sebelum memulai pendakian selama 11 hari.
Langkah pertama menuju Phakding menyuguhkan pemandangan Sungai Dudh Koshi yang jernih, seolah menjadi pembuka perjalanan panjang penuh ujian.
Hari-hari berikutnya menghadirkan medan yang kian menantang. Jalur menanjak menuju Namche Bazaar, jantung kehidupan di kawasan Everest, menguras fisik selama berjam-jam.
Namun di balik rasa lelah, Himalaya menyuguhkan keindahan yang tak tergantikan—hutan pinus, jembatan gantung ikonik, dan udara tipis yang menguji mental setiap pendaki.
Perjalanan ini bukan sekadar perjalanan geografis, tetapi juga perjalanan batin. Dari Gowa hingga kaki Gunung Everest, setiap langkah adalah bukti keberanian untuk keluar dari zona nyaman dan menantang batas diri.






Simak kelanjutan kisah perjalanan ini di the amazing healing: laporan dari Himalaya (part2)
(Zulqarnain)


