EmitenTrust Versi penuh
Stock and Market

Mirae Asset Bongkar Prospek IHSG Semester II 2026

Oleh Komarudin 18 Aug 2026 21:40 2 menit baca

EmitenTrust.com - PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia melihat peluang penguatan pasar domestik masih terbuka pada paruh kedua 2026. Meredanya tekanan eksternal, pelemahan dolar AS, serta penguatan rupiah dinilai memberikan ruang bagi otoritas untuk menjaga stabilitas sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi.

Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, mengatakan fokus investor secara bertahap mulai bergeser dari risiko global menuju faktor domestik.

“Kami menilai, perhatian investor secara bertahap mulai bergeser dari risiko global menuju faktor domestik, seiring dengan meredanya tekanan eksternal. Kondisi ini membuat kualitas pertumbuhan dan konsistensi kebijakan domestik menjadi semakin penting dalam menentukan arah pasar,” ujar Rully di Jakarta, Selasa (18/8/2026).

Menurutnya, peluang penguatan pasar domestik masih cukup terbuka, tetapi profil risikonya kini semakin berimbang. Investor akan mencermati sejumlah faktor, mulai dari realisasi fiskal, inflasi, efektivitas transmisi likuiditas ke sektor produktif, hingga stabilitas nilai tukar.

“Ruang penguatan pasar domestik masih terbuka, tetapi dengan profil risiko yang semakin berimbang,” katanya.

Rully menilai otoritas perlu menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, inflasi, kredibilitas fiskal, dan stabilitas nilai tukar. Keseimbangan tersebut menjadi semakin penting karena perhatian pelaku pasar mulai beralih kepada kualitas pertumbuhan ekonomi dan kinerja laba perusahaan.

Di tengah dinamika pasar tersebut, sektor perbankan menjadi salah satu sektor yang dinilai perlu mendapatkan perhatian investor.

Research Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Muhammad Nurkholis Syafruddin, mengatakan likuiditas perbankan masih menjadi salah satu tantangan meskipun pertumbuhan kredit tetap kuat.

“Meskipun terdapat deployment SAL sebesar Rp451 triliun, likuiditas perbankan diperkirakan masih tetap ketat seiring dengan kuatnya pertumbuhan kredit,” ujar Nurkholis.

Selain kondisi likuiditas, perubahan kebijakan reserve requirement (Giro Wajib Minimum/GWM) yang mulai berlaku pada September 2026 juga berpotensi memberikan dampak berbeda kepada masing-masing bank.

Menurut Nurkholis, perbedaan kondisi likuiditas dan karakteristik permodalan membuat investor perlu lebih selektif dalam memilih saham perbankan.

“Dengan kondisi likuiditas dan karakteristik permodalan yang berbeda, bank perlu dilihat secara lebih selektif untuk melihat bank mana yang memiliki ruang pertumbuhan lebih baik di tengah perubahan kondisi industri,” jelasnya.

Dia menambahkan, dinamika pasar yang semakin selektif juga membuat kebutuhan investor berkembang. Investor tidak hanya membutuhkan akses terhadap berbagai produk investasi, tetapi juga pendekatan yang dapat membantu pengelolaan aset sesuai kebutuhan serta tujuan keuangan jangka panjang.

Topik terkait
Mirae asset PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia paruh kedua 2026 tekanan eksternal pelemahan dolar AS penguatan rupiah