EmTrust – PT Indosterling Technomedia Tbk (TECH) akhirnya angkat bicara setelah mendapat surat permintaan penjelasan dari PT Bursa Efek Indonesia (BEI) terkait ketidakjelasan Ultimate Beneficial Owner (UBO), konflik pengendalian, mandeknya laporan keuangan, hingga kondisi kas perseroan yang nyaris nol.
Direktur Utama Indosterling Technomedia, Maulana Ridha, menyampaikan bahwa hingga saat ini perseroan belum memperoleh kepastian mengenai UBO. Berdasarkan daftar pemegang saham per 28 November 2025, kepemilikan terbesar tercatat atas nama Lam Ching-Ching sebesar 31,21%, yang berasal dari Carrington MFO VCC – Charismatic Debt Equity Fund (22,84%) dan Charismatic Capital Limited (8,37%).
Sementara itu, kepemilikan saham Jeremy Lau Keng Kit sebesar 3,99% ditegaskan bukan bagian dari kepemilikan Lam Ching-Ching. Adapun posisi Sean William Henley masih menjadi tanda tanya lantaran perseroan tidak mengetahui jumlah kepemilikan sahamnya di luar PT Indosterling Sarana Investa.
Persoalan ini berdampak langsung pada rencana penyelenggaraan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Manajemen menjelaskan, tanpa kehadiran Sean William Henley atau pemegang saham lain yang mencukupi, salah satu agenda krusial berupa perubahan kedudukan perseroan tidak dapat memenuhi kuorum. Atas kondisi tersebut, Indosterling berencana meminta penetapan kuorum khusus kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Tak hanya soal RUPS, masalah serius juga muncul dalam kewajiban penyampaian laporan keuangan. Perseroan mengakui belum dapat menyusun laporan keuangan konsolidasian sejak Triwulan II 2023 hingga Triwulan III 2025. Kendala utama berasal dari tidak adanya akses terhadap data keuangan perusahaan-perusahaan subholding yang masih berada di bawah pengaruh pengurus lama yang terafiliasi dengan Sean William Henley.
Meski Indosterling memiliki kepemilikan saham mayoritas di seluruh subholding, pengendalian operasional dan administratif disebut belum sepenuhnya berada di tangan perseroan. Bahkan, keberadaan sejumlah pengurus subholding tidak diketahui secara pasti, sehingga akses data keuangan tertutup.
Dalam keterangannya, manajemen mengungkap kondisi keuangan holding yang memprihatinkan. Hingga 30 Juni 2025, satu-satunya rekening bank yang dapat diakses perseroan hanya menyisakan saldo Rp2.933.192,23. Dengan keterbatasan tersebut, Indosterling memastikan saat ini tidak memiliki aktivitas usaha maupun kegiatan operasional yang berjalan.
Di tengah kondisi stagnan itu, perseroan tetap dibebani kewajiban pembayaran kepada berbagai pihak, mulai dari OJK, BEI, KSEI, hingga pihak penyedia jasa profesi penunjang pasar modal. Total kewajiban tersebut disebut dapat mencapai miliaran rupiah dan sangat bergantung pada kelancaran rencana penambahan modal melalui Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD).
Jika HMETD sebanyak 502,52 juta saham terealisasi, struktur kepemilikan saham perseroan akan berubah signifikan. Kepemilikan Carrington MFO VCC – Charismatic Debt Equity Fund diproyeksikan meningkat menjadi 34,85%, sementara porsi free float terdilusi dari 64,80% menjadi 46,28%.
Di sisi hukum, konflik juga belum berakhir. Sean William Henley tercatat masih menempuh upaya banding atas putusan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat yang sebelumnya menolak gugatannya. Perkara tersebut kini masih diperiksa oleh Pengadilan Tinggi DKI Jakarta.


