Ada Pergantian Menkeu, Mirae Asset Soroti Kredibilitas Fiskal
EmitenTrust.com - PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai pasar keuangan Indonesia memasuki fase yang menuntut investor semakin selektif. Setelah mengalami re-rating cukup cepat, penguatan pasar saham ke depan dinilai membutuhkan dukungan fundamental, earnings delivery, arus dana asing yang lebih luas, serta katalis eksternal yang berkelanjutan.
Head of Research PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia Rully Arya Wisnubroto mengatakan investor perlu mencermati arah kebijakan domestik, khususnya setelah pergantian Menteri Keuangan dari Purbaya Yudhi Sadewa kepada Suahasil Nazara.
Menurut Rully, penunjukan Suahasil Nazara memberikan sinyal positif bagi pasar karena memiliki latar belakang kebijakan fiskal dan pengalaman di Kementerian Keuangan. Namun, faktor terpenting tetap terletak pada konsistensi implementasi kebijakan dan kemampuan pemerintah menjaga kredibilitas APBN serta disiplin fiskal dalam jangka panjang.
“Pergantian Menteri Keuangan ini menjadi sinyal positif bagi pasar, apalagi dengan latar belakang Suahasil Nazara di bidang kebijakan fiskal dan pengalamannya di Kementerian Keuangan. Namun, yang paling penting tetap implementasi dan konsistensi kebijakan, khususnya dalam menjaga kredibilitas APBN dan disiplin fiskal,” ujar Rully.
Di pasar saham domestik, IHSG ditutup relatif datar di level 6.535 setelah sempat terkoreksi lebih dari 2% secara intraday. Kondisi tersebut menunjukkan investor masih mencermati arah kebijakan fiskal pascapergantian Menteri Keuangan.
Rully menilai kredibilitas fiskal dan komunikasi kebijakan akan menjadi faktor penting dalam menentukan sentimen pasar selanjutnya.
Mirae Asset mencatat IHSG telah mengalami re-rating sekitar 18% sejak awal paruh kedua 2026. Setelah kenaikan tersebut, ruang penguatan indeks dinilai tidak bisa hanya mengandalkan momentum.
“Setelah re-rating yang cukup cepat, investor tidak bisa hanya mengandalkan kenaikan indeks. Next leg dari pasar akan membutuhkan earnings delivery dan foreign flows yang lebih luas. Karena itu, pasar akan semakin selektif,” kata Rully.
Saat ini, arus dana asing masih terkonsentrasi pada saham-saham berkapitalisasi besar, terutama sektor perbankan dan sejumlah saham komoditas. Kondisi tersebut membuat investor perlu lebih memperhatikan fundamental dan katalis spesifik masing-masing emiten.
Dari sisi global, Rully memperkirakan Federal Reserve akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada September. Kenaikan tersebut dinilai telah relatif diperhitungkan oleh pasar.
“Bagi Indonesia, perhatian berikutnya akan tertuju pada pergerakan rupiah karena menjadi salah satu faktor utama yang menentukan ruang dan respons kebijakan Bank Indonesia,” jelasnya.
Penguatan rupiah saat ini masih ditopang kondisi eksternal yang lebih kondusif serta capital inflows. Namun, keberlanjutan penguatan tersebut tetap bergantung pada kesinambungan arus dana.
Di pasar Surat Berharga Negara (SBN), koordinasi kebijakan juga dinilai penting untuk menjaga kenaikan yield berlangsung secara gradual. Perubahan persepsi investor terhadap kredibilitas kebijakan maupun peringkat kredit menjadi risiko yang perlu diwaspadai karena dapat memicu repricing yang lebih tajam.
“Yang perlu diwaspadai adalah apabila terjadi perubahan persepsi terhadap kredibilitas kebijakan atau rating, karena itu bisa menghasilkan repricing yang lebih tajam,” ujar Rully.
Sementara itu, Senior Research Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia Fauzan Luthfi Djamal menilai peluang di sektor komoditas semakin bergantung pada dampak spesifik dari perubahan kebijakan pemerintah.
Menurutnya, kebijakan komoditas saat ini terutama akan berpengaruh terhadap produksi, pricing, export flows, serta penerimaan negara.
Fauzan menilai pelonggaran Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) batu bara lebih tepat dipandang sebagai dispersion event, bukan perubahan kebijakan yang otomatis menguntungkan seluruh perusahaan di sektor tersebut.
“Pelonggaran RKAB lebih tepat dilihat sebagai dispersion event, bukan sector-wide reset. Di nikel, tightness di sisi ore juga membuat posisi perusahaan tambang menjadi lebih kuat karena bargaining power meningkat, sementara beberapa perusahaan converter menghadapi risiko kenaikan biaya feedstock,” ungkap Fauzan.
Menurut dia, tambahan volume produksi batu bara akan memberikan dampak yang berbeda antarperusahaan. Sementara di sektor nikel, keterbatasan pasokan bijih dapat memperkuat posisi perusahaan tambang dan pada saat bersamaan menekan margin perusahaan pengolahan atau converter.
Karena itu, investor dinilai perlu melihat posisi strategis serta fundamental masing-masing emiten, bukan semata-mata mengikuti pergerakan harga komoditas.
Selain perubahan kebijakan produksi dan ekspor, rencana Commodity Exchange yang ditargetkan mulai berjalan pada 1 Januari 2027 berpotensi menjadi katalis baru bagi pasar komoditas Indonesia.
Fauzan mengatakan keberadaan bursa komoditas tersebut berpotensi memperkuat price discovery sekaligus membentuk referensi harga komoditas di dalam negeri.
“Commodity Exchange berpotensi menjadi langkah penting untuk meningkatkan price discovery di dalam negeri. Namun, dampaknya terhadap pricing power Indonesia akan sangat bergantung pada likuiditas bursa dan seberapa besar pelaku pasar menggunakan harga domestik tersebut sebagai benchmark,” jelasnya.
Dengan demikian, peluang investasi di sektor komoditas dinilai lebih menarik pada perusahaan yang memiliki scarcity, pricing power, serta posisi strategis dalam rantai pasok.
“Tidak semua saham komoditas akan bergerak dengan arah yang sama meskipun harga komoditasnya naik,” pungkas Fauzan.