back to top

BCA (BBCA) Diborong Direksi Saat Turun, Sinyal Harga Mau Terbang?

Emitentrust.com – Aksi pembelian saham oleh jajaran manajemen PT Bank Central Asia Tbk tengah menjadi sorotan pasar pada awal 2026. Di tengah volatilitas pasar saham, para petinggi bank swasta terbesar di Indonesia itu justru terlihat agresif mengakumulasi sahamnya sendiri.

Fenomena ini dinilai sebagai sinyal kuat kepercayaan internal terhadap prospek jangka panjang perseroan. Dalam teori pasar, aksi beli oleh manajemen kerap dipandang sebagai indikasi bahwa saham sedang berada di level menarik atau undervalued.

Sepanjang kuartal I-2026, sejumlah direksi dan manajemen BBCA tercatat melakukan pembelian saham dengan nilai miliaran rupiah dari dana pribadi. Di antaranya, Hendra Lembong melakukan pembelian hingga Rp7,93 miliar, disusul John Kosasih senilai Rp4,37 miliar.

Selain itu, Vera Eve Lim mengakumulasi saham Rp3,84 miliar, Santoso sebesar Rp3,46 miliar, serta Frenkie Candra Kusuma dan Lianawaty Suwono yang turut menambah kepemilikan saham mereka.

Aksi ini terjadi saat pasar tengah bergejolak, yang menunjukkan strategi klasik “buy on weakness” atau membeli saat harga terkoreksi.

Di sisi lain, valuasi saham BBCA saat ini juga menjadi perhatian. Berdasarkan rasio price to earnings (PER), saham BBCA diperdagangkan di kisaran 15 kali.

Pengamat pasar modal Rendy Yefta menilai angka tersebut tergolong rendah untuk emiten perbankan dengan fundamental sekuat BCA.

Sebagai perbandingan, saham PT Bank Jago Tbk saat ini diperdagangkan di kisaran PER 64 kali, atau lebih dari empat kali lipat BBCA.

Padahal, dari sisi kinerja, BCA dikenal konsisten mencetak laba besar dengan pertumbuhan yang stabil, didukung jaringan luas serta dana murah (CASA) yang dominan.

Kondisi ini memunculkan indikasi adanya “mispricing” atau salah harga di pasar, di mana saham dengan fundamental kuat justru dihargai lebih murah dibandingkan bank digital yang skalanya lebih kecil.

Dengan kombinasi valuasi yang relatif murah dan aksi borong manajemen, saham BBCA dinilai memiliki peluang besar untuk mengalami rebound.

Jika valuasi kembali ke rata-rata historis di kisaran PER 18–20 kali, maka harga saham berpotensi naik signifikan. Bahkan, level Rp10.000 per saham dinilai menjadi target realistis dalam beberapa waktu ke depan.

Sebagai catatan, saham BBCA sebelumnya pernah mendekati level tertinggi sepanjang masa di kisaran Rp11.000 per saham, sehingga ruang kenaikan dinilai masih terbuka.

Artikel Terkait

Pengendali WINR Makin Rajin Jual Jutaan Saham di FCA, Begini Alasannya

Pemegang saham pengendali PT Winner Nusantara Jaya Tbk. (WINR), Pemenang Nusantara Internasional kembali melakukan penjualan sebanyak 1.592.400 saham di pasar.

Pemegang Saham POOL Tolak Auditor dan Tunda Perubahan Pengurus

PT Pool Advista Indonesia Tbk (POOL) menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada 20 Juli 2026 dengan tingkat kehadiran pemegang saham yang mewakili 1,34 miliar saham atau sekitar 57,43% dari seluruh saham dengan hak suara yang sah.

HYGN Ungkap Investor Asing Masuk, Borong 21 Juta Saham Harga Senyap

PT Ecocare Indo Pasifik Tbk (HYGN) menyampaikan keterbukaan informasi kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) terkait adanya pembelian saham Perseroan oleh investor asing yang nilainya dikategorikan material.

Populer 7 Hari

Berita Terbaru