BEI Kuliti Lapkeu FORU, Pendapatan Anjlok 57,2%! Rugi Rp7,38M

BEI Kuliti Lapkeu FORU, Pendapatan Anjlok 57,2%! Rugi Rp7,38M
Logo usaha FORU
Bacakan Artikel

EmitenTrust.com - PT Fortune Indonesia Tbk (FORU) buka-bukaan kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) mengenai tekanan kinerja keuangan yang terjadi sepanjang semester I 2026. Perseroan mencatat rugi komprehensif Rp7,38 miliar, sementara pendapatan anjlok 57,27% menjadi Rp10,36 miliar.

Penjelasan tersebut disampaikan manajemen FORU pada Senin (7/9) melalui surat nomor 067/FORU-CS/IX/2026 sebagai tanggapan atas permintaan penjelasan BEI tertanggal 3 September 2026.

Penurunan pendapatan menjadi salah satu faktor utama yang menekan profitabilitas perseroan. Pada periode yang sama tahun sebelumnya, pendapatan FORU masih mencapai Rp24,24 miliar.

Di tengah penurunan pendapatan, beban usaha justru meningkat dari Rp12,17 miliar menjadi Rp14,69 miliar. Kenaikan terutama berasal dari gaji, upah dan kesejahteraan karyawan yang meningkat menjadi Rp10,27 miliar dari Rp9,21 miliar.

Selain itu, beban imbalan kerja melonjak dari Rp210 juta menjadi Rp1,82 miliar, terutama terkait restrukturisasi organisasi.

Perseroan menjelaskan sebagian beban imbalan kerja tersebut bersifat tidak berulang. Sementara penguatan struktur manajemen dan kapabilitas senior dilakukan untuk mendukung pengembangan bisnis ke depan.

Tekanan juga terlihat dari arus kas operasional FORU. Arus kas bersih yang sebelumnya masih positif Rp1,82 miliar pada semester I 2025 berbalik menjadi negatif Rp4,46 miliar pada semester I 2026.

Penerimaan kas dari pelanggan turun dari Rp29,26 miliar menjadi Rp18,71 miliar. Perseroan menyebut penurunan tersebut sejalan dengan lebih rendahnya pendapatan yang terealisasi serta adanya perbedaan waktu antara pengakuan pendapatan, penagihan, dan penerimaan pembayaran.

Untuk menjaga likuiditas, FORU mengandalkan saldo kas, penerimaan pelanggan, pencairan deposito, serta fasilitas modal kerja yang tersedia.

Per 30 Juni 2026, kas dan setara kas tercatat Rp16,44 miliar, sedangkan aset lancar mencapai Rp23,42 miliar. Di sisi lain, liabilitas jangka pendek berada di level Rp9,99 miliar.

Total aset FORU per 30 Juni 2026 turun 30,84% menjadi Rp26,73 miliar dari Rp38,64 miliar pada akhir 2025.

Penurunan terutama tercermin pada piutang usaha pihak ketiga yang menyusut dari sekitar Rp13,41 miliar menjadi Rp5,46 miliar. Menurut perseroan, penurunan tersebut terutama disebabkan pembayaran yang diterima dari pelanggan, bukan karena penghapusan atau reklasifikasi piutang.

Sementara itu, total liabilitas turun 29,7% menjadi Rp10,73 miliar dari Rp15,26 miliar. Penurunan terutama berasal dari beban yang masih harus dibayar, yang turun dari Rp5,33 miliar menjadi Rp2,89 miliar.

Meski demikian, per 30 Juni 2026 masih terdapat utang usaha pihak ketiga yang telah jatuh tempo sekitar Rp1,18 miliar. Sebagian besar, yakni Rp936,26 juta, berada dalam kategori jatuh tempo 1–30 hari. Dari jumlah tersebut, Rp854,28 juta telah dibayarkan pada minggu pertama Juli 2026.

Kerugian semester I 2026 turut memperbesar saldo defisit FORU menjadi sekitar Rp51,30 miliar dari sebelumnya Rp43,92 miliar.

Perseroan menyatakan strategi pengurangan defisit akan ditempuh melalui peningkatan pendapatan, penguatan business development, peningkatan produktivitas, serta pengendalian struktur biaya.

Namun, FORU belum menetapkan waktu pasti untuk mencapai profitabilitas. Manajemen menyebut pencapaian tersebut akan bergantung pada realisasi pekerjaan dan kondisi bisnis.

Di sisi lain, perseroan memastikan tidak terdapat pelanggaran terhadap financial covenant atas fasilitas pendanaan yang dimiliki. Untuk aksi korporasi PMHMETD I, FORU juga telah memperoleh waiver dari kreditur.

Terkait rencana Penambahan Modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) I, FORU memastikan hingga saat ini tidak memiliki Pembeli Siaga untuk menyerap HMETD yang tidak dilaksanakan pemegang saham publik.

Perseroan menjelaskan, tidak adanya Pembeli Siaga bukan karena minimnya minat investor maupun kondisi pasar. FORU menilai berdasarkan ketentuan yang berlaku, Pembeli Siaga tidak diwajibkan untuk bagian penggunaan dana PMHMETD yang ditujukan sebagai modal kerja.

Dalam aksi tersebut, sekitar 76,81% dana PMHMETD direncanakan untuk memperoleh saham PT Borneo Prima (BP) milik IMR Asia Holding Pte Ltd (IMR AH) senilai sekitar Rp21,24 triliun melalui mekanisme inbreng.

Sementara sisa dana tunai yang diperoleh dari pemegang saham publik akan disalurkan kepada BP dalam bentuk pinjaman untuk mendukung kebutuhan modal kerja kegiatan pertambangan.

Jika dana dari pemegang saham publik tidak terserap sepenuhnya, kebutuhan modal kerja BP akan mengandalkan kas internal BP. Apabila kas internal tidak mencukupi, IMR AH sebagai pemegang saham pengendali BP saat ini telah berkomitmen memberikan dukungan modal kerja.

BP menjadi bagian penting dalam strategi ekspansi FORU. Perusahaan tambang tersebut berlokasi di Kabupaten Murung Raya, Kalimantan Tengah, dengan wilayah konsesi sekitar 15.000 hektare dan cadangan batu bara dengan kalori hingga 7.850 kcal/kg.

Pada kuartal I 2026, BP membukukan pendapatan bersih sekitar USD11,29 juta, meningkat 78,93% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Seluruh pendapatan berasal dari penjualan batu bara.

BP juga berhasil membalikkan kinerja menjadi laba periode berjalan sekitar USD950 ribu dan laba komprehensif sekitar USD970 ribu, dibandingkan rugi komprehensif sekitar USD5,81 juta pada kuartal I 2025.

Manajemen FORU menyebut perbaikan tersebut ditopang peningkatan realisasi pengiriman dan penjualan batu bara setelah adanya perbaikan kesiapan operasional, ketersediaan alat, serta pengelolaan produksi dan pengiriman.

FORU menilai BP memiliki prospek karena mengantongi sumber daya dan cadangan coking coal yang dinilai memadai untuk mendukung kegiatan usaha jangka panjang. Batu bara kokas juga menjadi bahan baku penting industri baja, khususnya proses produksi menggunakan blast furnace.

Perseroan menyebut BP telah memiliki perizinan yang diperlukan serta didukung tim manajemen dan operasional berpengalaman di sektor pertambangan.

Meski masih memiliki defisit besar, BP ditargetkan dapat memperbaiki posisi keuangannya melalui peningkatan produksi dan penjualan.

FORU menyebut saldo defisit BP baru berpeluang berbalik menjadi saldo laba ditahan apabila produksi dan penjualan dapat mencapai lebih dari 2 juta ton per tahun.

Pencapaian tersebut tetap bergantung pada harga batu bara, kondisi operasional, dan perkembangan pasar.

Terkait kondisi Karhutla di Kalimantan Tengah, FORU menyatakan hingga saat ini tidak terdapat dampak signifikan terhadap wilayah konsesi, infrastruktur, akses jalan angkut, maupun aktivitas produksi BP.

Asap disebut sempat memberikan sedikit dampak di sekitar wilayah operasional, tetapi tidak mengganggu jarak pandang maupun kelancaran kegiatan pertambangan.

Perseroan juga menyatakan sampai dengan tanggal penyampaian tanggapan kepada BEI, tidak terdapat potensi gangguan terhadap pencapaian target produksi BP pada 2026.

Seperti diketahui pada perdagangan Senin (7/9) saham FORU naik 15,16 persen ke level Rp3.950. Dalam sepekan naik 51,9 persen. Dalam sebulan melonjak 64,5 persen. Dalam enam bulan terbang 181 persen dari harga Rp1.450 pada 9 Maret 2026.