Emitentrust.com- PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) mengumumkan rencana pengkinian pembelian kembali saham atau buyback dengan nilai estimasi mencapai Rp905,48 miliar.
Langkah strategis ini diambil sebagai respons atas kondisi pasar saham perbankan yang mengalami tekanan akibat ketidakpastian ekonomi global sepanjang tahun 2025.
Dalam keterbukaan informasi yang dipublikasikan pada Selasa (3/3), BNI menyatakan bahwa dana untuk aksi korporasi ini berasal dari arus kas bebas (free cash flow) perusahaan.
Nilai transaksi tersebut mencakup biaya transaksi, biaya penyimpanan, dan commitment fee yang diperkirakan sebesar 0,32% dari nilai eksekusi.Pihak manajemen menjelaskan bahwa tekanan pada saham perbankan nasional dipicu oleh risiko geopolitik, ancaman perang tarif, serta tantangan likuiditas di dalam negeri.
Melalui buyback, BNI berharap dapat mengurangi tekanan jual di pasar sekaligus memberikan sinyal kepada investor bahwa harga saham saat ini belum mencerminkan fundamental perusahaan yang tetap kuat dan resilient.
“Pelaksanaan buyback ini diyakini tidak akan memberikan dampak negatif material terhadap kegiatan usaha, mengingat perseroan memiliki modal dan arus kas yang cukup,” tulis manajemen dalam dokumen tersebut.
Berdasarkan proforma keuangan per 31 Desember 2025, buyback diprediksi justru akan meningkatkan laba bersih per saham dari Rp537 menjadi Rp540.
Rencana ini akan diajukan untuk mendapatkan persetujuan pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang dijadwalkan pada 9 Maret 2026 mendatang.
Jika disetujui, periode buyback akan berlangsung selama 12 bulan, terhitung sejak 9 Maret 2026 hingga 8 Maret 2027. Nantinya, saham hasil buyback tersebut direncanakan untuk dialihkan kembali, baik melalui penjualan di bursa maupun luar bursa, atau digunakan untuk program kepemilikan saham bagi pegawai dan pengurus perusahaan.


