BSI (BRIS) Mau Rights Issue 6,8 Miliar Saham, Ada Dilusi 12,85%

BSI (BRIS) Mau Rights Issue 6,8 Miliar Saham, Ada Dilusi 12,85%
PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk (BRIS) menyiapkan aksi korporasi berupa Penambahan Modal dengan Memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu II (PMHMETD II) atau rights issue.
Bacakan Artikel

EmitenTrust.com - PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk (BRIS) menyiapkan aksi korporasi berupa Penambahan Modal dengan Memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu II (PMHMETD II) atau rights issue.

Rencana tersebut akan dimintakan persetujuan pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang dijadwalkan berlangsung pada Jumat, 6 November 2026.

Dalam keterbukaan informasi kepada pemegang saham, BRIS menyampaikan rencana menerbitkan sebanyak-banyaknya 6,8 miliar saham baru Seri B dengan nilai nominal Rp500 per saham.

Saham baru tersebut akan diterbitkan dari portepel Perseroan dan dicatatkan di Bursa Efek Indonesia (BEI). Saham hasil rights issue akan memiliki hak yang sama dan sederajat dengan saham Seri B lainnya yang telah ditempatkan dan disetor, termasuk hak atas dividen.

Pelaksanaan PMHMETD II akan bergantung pada persetujuan pemegang saham dalam RUPSLB serta pernyataan pendaftaran Perseroan kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang dinyatakan efektif.

BRIS menyatakan seluruh dana yang diperoleh dari rights issue, setelah dikurangi biaya dan pengeluaran terkait emisi saham baru, akan digunakan untuk penyaluran pembiayaan guna mendukung pertumbuhan usaha Perseroan.

Adapun informasi final dan rinci mengenai penggunaan dana akan disampaikan dalam prospektus PMHMETD II dan tersedia bagi pemegang saham yang berhak sesuai ketentuan yang berlaku.

Manajemen BRIS menjelaskan, PMHMETD II bertujuan memperkuat struktur permodalan sekaligus meningkatkan kapasitas penyaluran pembiayaan.

Permodalan untuk mendukung bisnis Perseroan pada 2027 diproyeksikan meningkat menjadi Rp64,41 triliun, dari sekitar Rp51,07 triliun pada 2026.

Sejalan dengan penguatan modal tersebut, Capital Adequacy Ratio (CAR) BRIS diproyeksikan meningkat dari 20,38% pada 2026 menjadi 23,31% pada 2027.

Penguatan permodalan diharapkan dapat mendukung ekspansi bisnis dan pertumbuhan pembiayaan secara berkelanjutan. Langkah tersebut juga diarahkan untuk mendukung upaya Perseroan meningkatkan kelompok bank berdasarkan modal inti sesuai ketentuan yang berlaku.

Perseroan memperkirakan peningkatan modal dalam jangka pendek dapat memengaruhi rasio profitabilitas. Namun, dampak tersebut diharapkan dapat pulih secara bertahap seiring dengan penyaluran dana hasil aksi korporasi ke dalam aset produktif.

Di sisi lain, pemegang saham yang tidak melaksanakan haknya dalam PMHMETD II berpotensi mengalami dilusi kepemilikan maksimal 12,85%.

Besaran tersebut masih bersifat indikatif dan dapat berubah bergantung pada struktur final serta hasil pelaksanaan PMHMETD II.

Dengan penerbitan maksimal 6,8 miliar saham baru, BRIS akan memperoleh tambahan ruang permodalan untuk mendukung ekspansi pembiayaan sekaligus memperkuat kapasitas bisnis Perseroan pada tahun-tahun mendatang.

Pada perdagangan hari ini Rabu (30/9) saham BRIS turun 0,99 persen ke level Rp1.505.