EmitenTrust Versi penuh
Stock and Market

Grup Sinarmas (SMMA) Catat Laba Naik 73%, Tapi Pendapatan Drop 8,6% di Semester I

Oleh Komarudin 30 Aug 2026 22:30 4 menit baca

EmitenTrust.com - PT Sinar Mas Multiartha Tbk (SMMA) mencatatkan laba tahun berjalan sebesar Rp2,30 triliun pada semester I-2026, melonjak 73,38% dibandingkan Rp1,33 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Namun, pertumbuhan laba tersebut terjadi di tengah penurunan pendapatan. SMMA membukukan total pendapatan Rp18,61 triliun, turun 8,68% dibandingkan Rp20,38 triliun pada semester I-2025.

Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian per 30 Juni 2026, kenaikan laba terutama ditopang oleh penurunan total beban yang lebih dalam dibandingkan penurunan pendapatan.

Total beban SMMA turun 14,39% menjadi Rp16,28 triliun dari Rp19,02 triliun pada semester I-2025.

Alhasil, laba sebelum pajak meningkat 70,86% menjadi Rp2,33 triliun dari Rp1,37 triliun. Setelah dikurangi beban pajak sebesar Rp32,09 miliar, SMMA membukukan laba tahun berjalan Rp2,30 triliun.

Penurunan pendapatan terutama berasal dari pendapatan jasa asuransi yang menjadi salah satu kontributor terbesar.

Pendapatan jasa asuransi tercatat Rp9,71 triliun, turun 20,56% dibandingkan Rp12,23 triliun pada semester I-2025. Pendapatan underwriting asuransi juga merosot 61,51% menjadi Rp40,74 miliar dari Rp105,90 miliar. Pendapatan bunga dan bagi hasil turun 3,74% menjadi Rp2,50 triliun dari Rp2,60 triliun.

Penjualan juga turun signifikan menjadi Rp109,10 miliar dari Rp454,34 miliar, atau anjlok sekitar 76,00%. Pendapatan lain-lain turun 18,20% menjadi Rp1,37 triliun dari Rp1,67 triliun.

Namun, terdapat sejumlah pos yang mengalami pertumbuhan. Keuntungan penjualan investasi jangka pendek bersih meningkat 69,78% menjadi Rp2,79 triliun dari Rp1,65 triliun.

Pendapatan administrasi dan komisi tumbuh 9,14% menjadi Rp713,11 miliar. Pendapatan jasa penjaminan emisi, perantara pedagang efek dan manajer investasi naik 18,58% menjadi Rp315,11 miliar.

Keuntungan selisih kurs mata uang asing bersih bahkan melonjak sekitar 392,41% menjadi Rp332,30 miliar dari Rp67,49 miliar.

Dari sisi beban, penurunan beban jasa asuransi menjadi salah satu faktor utama yang menopang pertumbuhan laba.

Beban jasa asuransi turun 46,62% menjadi Rp4,90 triliun dari Rp9,17 triliun. Beban kontrak reasuransi juga relatif stabil, turun 0,57% menjadi Rp6,20 triliun dari Rp6,24 triliun. Beban bunga dan bagi hasil turun 8,50% menjadi Rp911,28 miliar.

Beban kerugian penurunan nilai aset keuangan dan nonkeuangan bersih juga turun tajam 88,24% menjadi Rp15,28 miliar dari Rp129,97 miliar. Namun, beban umum dan administrasi meningkat 39,99% menjadi Rp1,18 triliun. Beban gaji dan tunjangan karyawan juga naik 7,73% menjadi Rp1,10 triliun.

Selain itu, SMMA mencatat kerugian atas penurunan nilai wajar efek sebesar Rp1,44 triliun, sementara pada semester I-2025 tidak terdapat kerugian dari pos tersebut.

Perseroan mencatat rugi penghasilan komprehensif lain sebesar Rp333,59 miliar pada semester I-2026. Kondisi ini berbalik dari penghasilan komprehensif lain sebesar Rp1,02 triliun pada semester I-2025.

Artinya, terjadi perubahan negatif sekitar Rp1,36 triliun secara tahunan.

Salah satu penyebab utamanya berasal dari laba yang belum direalisasi atas perubahan nilai wajar efek. Pada semester I-2026, pos tersebut mencatat kerugian Rp491,16 miliar, berbalik dari keuntungan Rp469,18 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Meski demikian, total penghasilan komprehensif bersih SMMA masih positif sebesar Rp1,97 triliun. Namun, angka ini turun 16,73% dibandingkan Rp2,35 triliun pada semester I-2025.

Penghasilan komprehensif yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk tercatat Rp2,34 triliun, turun sekitar 1,61% dari Rp2,38 triliun.

Jika dilihat dari laba yang menjadi hak pemegang saham induk, SMMA membukukan laba sebesar Rp2,31 triliun, naik 75,75% dari Rp1,31 triliun pada semester I-2025.

Sebaliknya, kepentingan nonpengendali mencatat rugi Rp9,28 miliar, berbalik dari laba Rp12,69 miliar pada tahun sebelumnya.

Laba bersih per saham dasar dan dilusian meningkat menjadi Rp363, dibandingkan Rp206 per saham atau naik sekitar 76,21%.

Dari sisi neraca, total aset SMMA per 30 Juni 2026 mencapai Rp129,72 triliun, naik 7,75% dibandingkan Rp120,39 triliun pada akhir 2025.

Kredit yang diberikan bersih meningkat menjadi Rp13,74 triliun, tumbuh 26,46% dari Rp10,86 triliun.

Piutang sewa pembiayaan bersih melonjak 84,76% menjadi Rp753,72 miliar. Aset kontrak reasuransi juga melonjak 148,10% menjadi Rp7,81 triliun dari Rp3,15 triliun.

Sementara investasi jangka pendek bersih turun 2,08% menjadi Rp76,63 triliun.
 Total liabilitas SMMA meningkat 7,16% menjadi Rp101,25 triliun dari Rp94,48 triliun.

Adapun total ekuitas mencapai Rp28,48 triliun, tumbuh 9,90% dari Rp25,91 triliun pada akhir 2025.

Perseroan mencatat kas bersih digunakan untuk aktivitas operasi sebesar Rp6,14 triliun pada semester I-2026. Defisit tersebut membesar 36,26% dibandingkan Rp4,51 triliun pada semester I-2025.

Tekanan tersebut antara lain tercermin dari investasi jangka pendek yang menyerap kas sebesar Rp5,98 triliun dan penyaluran kredit yang menggunakan kas Rp2,42 triliun.

Sebaliknya, aktivitas investasi menghasilkan kas bersih Rp2,51 triliun, berbalik dari penggunaan kas Rp213,41 miliar pada semester I-2025.

Arus kas dari aktivitas pendanaan kembali mencatat penggunaan kas sebesar Rp1,47 triliun, dibandingkan Rp29,67 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Secara keseluruhan, kas dan setara kas SMMA turun bersih Rp5,11 triliun selama semester I-2026.

Saldo kas dan setara kas pada akhir Juni 2026 mencapai Rp17,28 triliun, turun 8,86% dibandingkan Rp18,96 triliun pada akhir Juni 2025.

Topik terkait
SMMA PT Sinar Mas Multiartha Tbk (SMMA)) grup Sinarmas semester I-2026