Emitentrust.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok lebih dari 1% pada penutupan perdagangan sesi I, Rabu (8/7/2026), setelah sentimen negatif dari pasar global memicu aksi jual di Bursa Efek Indonesia (BEI). Tekanan datang usai penyedia indeks global S&P Dow Jones Indices (S&P DJI) memasukkan Indonesia ke dalam daftar pantau (watchlist) untuk potensi penurunan status dari pasar berkembang (emerging market) menjadi pasar perbatasan (frontier market).
IHSG terkoreksi 66,35 poin atau 1,11% ke level 5.920,15. Sepanjang sesi pertama, indeks bergerak fluktuatif dengan menyentuh level tertinggi 5.987 dan terendah 5.897 setelah dibuka di posisi 5.986.
Pelemahan IHSG diikuti mayoritas indeks sektoral. Sektor barang baku memimpin penurunan dengan koreksi 2,15%, disusul sektor properti dan real estat yang turun 2,05%, sektor barang konsumen siklikal melemah 1,72%, sektor energi turun 1,26%, sektor infrastruktur terkoreksi 1,23%, sektor barang konsumen primer melemah 1,15%, sektor keuangan turun 0,80%, serta sektor teknologi yang turun 0,51%.
Di tengah tekanan tersebut, hanya dua sektor yang masih mampu bertahan di zona hijau, yakni sektor transportasi dan logistik yang menguat 1,34% serta sektor kesehatan yang naik 0,50%.
Aktivitas perdagangan mencatat volume transaksi mencapai 12,2 miliar saham dengan nilai Rp5,2 triliun. Sebanyak 447 saham melemah, 197 saham menguat, sementara 142 saham lainnya ditutup stagnan.
Dari sisi pergerakan harga, saham PT Singaraja Putra Tbk (SINI) mencatat kenaikan terbesar secara nominal setelah naik Rp975 menjadi Rp10.950 per saham. Disusul PT United Tractors Tbk (UNTR) yang menguat Rp400 menjadi Rp24.400 per saham dan PT Jecx Indonesia Tbk (JECX) yang naik Rp390 menjadi Rp1.950 per saham.
Sebaliknya, saham PT Gudang Garam Tbk (GGRM) turun Rp475 menjadi Rp16.250 per saham, PT Transcoal Pacific Tbk (TCPI) melemah Rp325 menjadi Rp6.675 per saham, serta PT Indoritel Makmur Internasional Tbk (DNET) terkoreksi Rp225 menjadi Rp9.375 per saham.
Saham-saham yang paling aktif diperdagangkan dipimpin EMMI dengan frekuensi transaksi mencapai 232.042 kali senilai Rp299 miliar. Posisi berikutnya ditempati BBRI sebanyak 26.139 kali transaksi senilai Rp102 miliar dan MEDS sebanyak 25.039 kali transaksi dengan nilai Rp29,6 miliar.
Pada kelompok saham LQ45, pelemahan terbesar dialami PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SMGR) yang turun 3,62% ke Rp1.465 per saham, diikuti PT Barito Pacific Tbk (BRPT) yang melemah 3,16% ke Rp1.530 per saham dan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) yang turun 3,15% ke Rp615 per saham.
Sementara itu, saham LQ45 yang masih mampu menguat dipimpin PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) yang naik 3,31% ke Rp935 per saham, PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) menguat 2,70% ke Rp1.330 per saham, serta PT United Tractors Tbk (UNTR) yang bertambah 1,67% ke Rp24.400 per saham.
Tekanan terhadap pasar domestik dipicu oleh keputusan S&P DJI yang pada Selasa (7/7) malam waktu setempat memasukkan Indonesia dan Turki ke dalam watchlist untuk kemungkinan diturunkan statusnya dari pasar berkembang menjadi pasar perbatasan dalam proses klasifikasi pasar tahun 2027.


