back to top

Saham BLUE Melejit, Manajemen Ungkap Akuisisi Belum Deal

Emitentrust.com – T Berkah Prima Perkasa Tbk (BLUE) menyampaikan Perkembangan proses akuisisi terkait lonjakan sahamnya yang signifikan dalam beberapa hari terakhir.

Manajemen BLUE mengungkapkan bahwa proses negosiasi pengambilalihan saham mayoritas Perseroan masih berlangsung. Namun hingga saat ini, belum ada kesepakatan final yang mengikat antara para pihak.

“Proses akuisisi masih berada pada tahap due diligence dan negosiasi penyusunan perjanjian yang mengikat, ” Tulis manajemen BLUE dalam menjawab surat BEI Selasa (20/1).

Artinya, meski euforia pasar sudah terlanjur memanas, status akuisisi masih belum final dan belum dapat dipastikan kapan transaksi besar ini akan dituntaskan.

Seperti diketahui sebelumnya, Dragonmine Mining (Hong Kong) Ltd telah menyatakan minat untuk mengakuisisi 344,4 juta saham BLUE, atau setara 80% dari total modal ditempatkan dan disetor. Jika terealisasi, transaksi ini bakal mengubah pengendali utama Blueprint Indonesia.

Direktur Dragonmine Mining, Du Shang Meng, menyebut bahwa rencana pengambilalihan ini bertujuan untuk pengembangan bisnis dan investasi jangka panjang di Indonesia.

Bahkan, calon pengendali baru menegaskan tidak memiliki saham BLUE, baik secara langsung maupun tidak langsung, sebelum rencana akuisisi ini diumumkan.

Dragonmine Mining disebut akan mengambil alih saham milik Herman Tansri, Siek Agung Guntoro, Fadjar Tasrif, Rudy Tasrif, serta PT Cetak Biru Kapital. Sesuai ketentuan pasar modal, Mandatory Tender Offer (MTO) juga wajib dilakukan untuk menyerap sisa saham publik setelah pengambilalihan rampung.

Saham BLUE sebelum kabar adanya akuisisi yaitu enam bulan berada pada harga Rp314 per lembar. Hingga perdagangan saham pada penutupan Selasa (20/1) sudah terbang 1.564 persen ke level Rp5.225 per lembar.

Artikel Terkait

BEI Umumkan Saham Dikuasai Segelintir Investor, Ini Emitennya!

Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali mengeluarkan pengumuman penting terkait sejumlah emiten yang memiliki kepemilikan saham terkonsentrasi tinggi atau high shareholding concentration per 31 Maret 2026.

Bengkak 348%! PTPP Rugi Hampir Rp8T di 2025

PT PP (Persero) Tbk (PTPP) mencatatkan rugi bersih sebesar Rp7,99 triliun sepanjang 2025, membengkak sekitar 348% dibandingkan rugi Rp1,78 triliun pada 2024 (YoY).

KB Bank (BBKP) Tinggalkan Rugi Triliunan di 2025

PT Bank KB Indonesia Tbk (BBKP) (sebelumnya Bank Bukopin) berhasil membalikkan kinerja secara signifikan sepanjang 2025 dengan mencatatkan laba bersih sebesar Rp66,6 miliar, berbanding terbalik dari rugi Rp6,33 triliun pada 2024,

Populer 7 Hari

Berita Terbaru