back to top

SGER Disorot BEI Gara-Gara Timur Tengah, Ini Penjelasannya

Emitentrust.com- Kondisi geopolitik global yang semakin memanas, terutama di kawasan Timur Tengah dan jalur pelayaran strategis Selat Hormuz, mulai menjadi perhatian serius pelaku pasar. Situasi ini bahkan mendorong Bursa meminta klarifikasi kepada sejumlah emiten energi, termasuk PT Sumber Global Energy Tbk (SGER), perusahaan yang bergerak di bidang perdagangan batu bara (coal trading) untuk pasar domestik maupun internasional.

Michael Harold Corporate Secretary SGER dalam penjelasannya ke Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 9 Maret 2026, memastikan bahwa hingga saat ini ketegangan geopolitik di Timur Tengah belum berdampak langsung terhadap bisnis perseroan.

Dia menambahkan bahwa aktivitas perdagangan energi maupun logistik perusahaan tidak memiliki eksposur langsung terhadap jalur pelayaran Selat Hormuz yang selama ini dikenal sebagai salah satu choke point perdagangan energi dunia.

“Perseroan saat ini tidak terdampak yang berkaitan dengan perdagangan energi atau logistik di kawasan Timur Tengah,” tulis Michael kepada BEI Rabu (11/3).

SGER juga menegaskan bahwa potensi gangguan pelayaran di kawasan Timur Tengah tidak akan memukul operasional perusahaan, karena sebagian besar pelanggan mereka berada di kawasan Asia.

Dengan basis pelanggan tersebut, perusahaan menyatakan tidak ada potensi gangguan pada rantai pasok, biaya logistik, volume perdagangan, maupun margin usaha apabila terjadi gangguan di Selat Hormuz.

Kantor Singapura Sumbang 24% Pendapatan

Meski demikian, perusahaan mengungkap bahwa aktivitas perdagangan melalui kantor pemasaran di Singapura memberikan kontribusi yang cukup besar terhadap kinerja perusahaan.

Sepanjang 2025, kegiatan perdagangan energi melalui kantor Singapura menyumbang sekitar 24% dari total pendapatan perseroan.

Sementara itu, keberadaan kantor perusahaan di Uni Emirat Arab disebut tidak berperan besar dalam kegiatan perdagangan energi. Kantor tersebut lebih difungsikan sebagai bank transaksional untuk memfasilitasi pembayaran dari pelanggan.

Manajemen SGER juga menegaskan bahwa hingga saat ini tidak ada rute ekspor perusahaan yang melewati Selat Hormuz. Karena itu, kondisi geopolitik di kawasan tersebut belum memberikan dampak langsung terhadap operasional maupun kinerja perusahaan.

Namun jika di masa depan perusahaan menggunakan jalur tersebut, SGER menyatakan akan melakukan negosiasi dengan supplier dan pembeli untuk mengantisipasi risiko geopolitik, termasuk pengaturan tanggung jawab, pembagian risiko logistik, hingga klausul force majeure dalam kontrak kerja sama.

Manajemen menegaskan bahwa hingga saat ini tidak terdapat kejadian material yang dapat mempengaruhi kelangsungan usaha maupun harga saham perseroan.

Artikel Terkait

Tok! Friderica Widyasari Dewi Melaju Jadi Ketua OJK

Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia menyepakati susunan calon pimpinan baru

Saham Energi dan Industri Seret IHSG ke Zona Merah

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup di zona merah pada perdagangan Rabu (11/3/2026), setelah sempat dibuka menguat di awal sesi.

Usaha Diragukan, Emiten Transportasi Ini Sahamnya Dibekukan BEI

Bursa Efek Indonesia (BEI) resmi menghentikan sementara perdagangan saham emiten logistik PT Dewata Freightinternational Tbk (DEAL).

Populer 7 Hari

Berita Terbaru