EmitenTrust.com – PT Tunas Baru Lampung Tbk (TBLA) membukukan laba bersih sebesar Rp430,51 miliar pada semester I-2026. Raihan tersebut turun tipis 3,7% dibandingkan laba bersih semester I-2025 yang sebesar Rp447,22 miliar, meski Perseroan berhasil mencatat pertumbuhan pendapatan dua digit.
Sepanjang enam bulan pertama 2026, pendapatan usaha Perseroan mencapai Rp11,63 triliun, meningkat 10,8% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp10,50 triliun. Kenaikan penjualan tersebut turut mendorong laba kotor menjadi Rp2,05 triliun, naik 13,8% dari Rp1,80 triliun pada semester I-2025.
Namun, peningkatan pendapatan belum sepenuhnya mampu mengangkat laba bersih. Hal ini dipengaruhi oleh kenaikan beban penjualan yang melonjak 82,0% menjadi Rp430,46 miliar dari Rp236,54 miliar pada tahun sebelumnya. Selain itu, beban bunga dan beban keuangan lainnya juga meningkat 11,2% menjadi Rp748,22 miliar, dibandingkan Rp673,02 miliar pada semester I-2025.
Di sisi lain, beban umum dan administrasi berhasil ditekan 3,7% menjadi Rp321,23 miliar, dari Rp333,73 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Perseroan juga membukukan pendapatan lain-lain bersih sebesar Rp38,59 miliar, meningkat 24,9% dibandingkan Rp30,90 miliar pada semester I-2025.
Laba sebelum pajak tercatat sebesar Rp543,06 miliar, turun 4,0% dibandingkan Rp565,66 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Beban pajak penghasilan juga menurun 5,0% menjadi Rp112,55 miliar.
Dari sisi neraca, total aset Perseroan per 30 Juni 2026 mencapai Rp31,76 triliun, meningkat 4,0% dibandingkan posisi akhir 2025 sebesar Rp30,52 triliun. Peningkatan aset terutama didorong oleh kenaikan aset lancar sebesar 5,5% menjadi Rp15,93 triliun.
Total liabilitas naik 3,8% menjadi Rp22,08 triliun, seiring meningkatnya utang bank jangka pendek sebesar 14,5% menjadi Rp9,56 triliun. Sementara itu, total ekuitas tumbuh 4,7% menjadi Rp9,68 triliun, didukung kenaikan saldo laba yang belum ditentukan penggunaannya sebesar 6,2% menjadi Rp7,37 triliun.
Pada laporan arus kas, TBLA masih membukukan arus kas operasi negatif sebesar Rp318,42 miliar, namun kondisi tersebut membaik signifikan dibandingkan semester I-2025 yang negatif Rp1,09 triliun, atau membaik sekitar 70,9%. Perseroan juga mencatat arus kas pendanaan positif sebesar Rp1,14 triliun, naik 31,6% dibandingkan tahun sebelumnya.


