Emitentrust.com – PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) membukukan laba yang dapat diatribusikan kepada pemegang saham induk pada kuartal I-2026 mencapai Rp4,34 triliun atau turun 21,7% YoY dibandingkan Rp5,55 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Di sisi lain, pendapatan perseroan masih mencatat pertumbuhan positif. Hingga Maret 2026, Telkom mengantongi pendapatan sebesar Rp37,19 triliun, meningkat 1,5% YoY dibandingkan Rp36,64 triliun pada kuartal I-2025.
Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian yang diterbitkan pada Jumat (29/5), penurunan laba bersih terjadi seiring kenaikan sejumlah beban operasional, terutama beban operasi, pemeliharaan dan jasa telekomunikasi yang naik menjadi Rp11,10 triliun dari Rp9,61 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Selain itu, perseroan juga mencatat kerugian belum terealisasi akibat perubahan nilai wajar investasi sebesar Rp309 miliar, berbanding terbalik dengan keuntungan Rp308 miliar pada kuartal I-2025.
Akibatnya, laba usaha Telkom turun menjadi Rp8,93 triliun, atau terkoreksi 12,2% YoY dibandingkan Rp10,17 triliun pada kuartal I-2025.
Sementara itu, laba sebelum pajak tercatat sebesar Rp8,25 triliun, turun 11,0% YoY dari Rp9,27 triliun.
Dari sisi profitabilitas pemilik entitas induk, laba yang dapat diatribusikan kepada pemegang saham induk mencapai Rp4,34 triliun, turun 21,7% YoY dibandingkan Rp5,55 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Meski laba tertekan, Telkom tetap menunjukkan posisi keuangan yang solid. Total aset per 31 Maret 2026 mencapai Rp289,96 triliun, naik sekitar 0,8% dibandingkan posisi akhir 2025 sebesar Rp287,76 triliun.
Ekuitas perseroan juga meningkat menjadi Rp155,81 triliun, tumbuh 3,5% dibandingkan posisi akhir Desember 2025 sebesar Rp150,54 triliun.
Dari sisi likuiditas, kas dan setara kas melonjak menjadi Rp37,55 triliun, naik 9,7% dibandingkan posisi akhir tahun lalu sebesar Rp34,23 triliun.
Kinerja arus kas operasional juga tetap kuat. Hingga akhir Maret 2026, Telkom membukukan arus kas bersih dari aktivitas operasi sebesar Rp17,29 triliun, meningkat 3,1% YoY dibandingkan Rp16,78 triliun pada periode yang sama tahun lalu.
Sementara itu, perusahaan menggelontorkan belanja investasi yang cukup besar. Pembelian aset tetap mencapai Rp4,39 triliun dan investasi aset tak berwujud sebesar Rp611 miliar sepanjang tiga bulan pertama tahun ini.
Manajemen juga melanjutkan program pembelian kembali saham (buyback) dengan nilai sekitar Rp614 miliar selama kuartal pertama 2026.


