back to top

Tiga Emiten Beton BUMN, Adu Kuat di 2026

Emitentrus.com – Dua tahun lalu, saham-saham beton pracekat sama-sama terpuruk akibat krisis kepercayaan terhadap BUMN Karya. Namun memasuki awal 2026, PT Wijaya Karya Beton Tbk (WTON), PT Waskita Beton Precast Tbk (WSBP), dan PT PP Presisi Tbk (PPRE) justru berada di tiga jalur fundamental yang sangat berbeda.

Bukan sekadar pergerakan harga saham, data keuangan menunjukkan divergensi nyata dari arus kas, struktur neraca, hingga kemampuan mengembalikan modal kepada investor.

WTON muncul sebagai pemenang dari sisi fundamental. Emiten beton pracekat ini menjadi satu-satunya yang telah membuktikan pemulihan berkelanjutan. Sepanjang 2024, laba WTON melonjak 90,48% menjadi Rp65 miliar, dengan pendapatan naik 16,48%. Arus kas operasi konsisten positif dan berujung pada pembagian dividen tunai Rp0,75 per saham, sebuah sinyal langka di sektor konstruksi pascakrisis.

“Ini bukan sekadar rebound harga, tetapi validasi fundamental,” tulis analis. Dengan DER yang terkendali, tanpa beban restrukturisasi, dan posisi sebagai pemimpin pasar beton pracekat, WTON kini diposisikan sebagai saham defensif sektor infrastruktur menjelang 2026.

Di sisi lain, WSBP masih berkutat dalam fase pemulihan panjang. Meski operasional tetap berjalan dan kontrak baru mencapai Rp1,36 triliun hingga November 2025, kondisi keuangan perseroan masih berada di zona merah. Per kuartal I-2025, ekuitas WSBP tercatat negatif Rp1,76 triliun, dengan arus kas operasi masih membakar dana sebesar Rp143,7 miliar.

Manajemen mencatat progres restrukturisasi mulai dari pembayaran CFADS hingga konversi utang vendor namun analis menilai progress belum berarti selesai. Seluruh kas masih tersedot untuk layanan utang, membuat WSBP belum relevan bagi investor konservatif. Saham ini lebih cocok untuk spekulan berisiko tinggi yang bertaruh pada turnaround jangka panjang.

Sementara itu, PPRE mencatatkan pertumbuhan paling spektakuler, namun dengan risiko baru. Laba bersih semester I-2025 melonjak 332,71%, didorong ekspansi agresif ke sektor pertambangan, termasuk proyek nikel. Nilai kontrak baru mencapai Rp3,2 triliun, naik 60% secara tahunan, dengan struktur bisnis kini terbagi hampir seimbang antara konstruksi dan pertambangan.

Namun, di balik lonjakan laba tersebut, analis mengingatkan adanya eksposur terhadap volatilitas harga komoditas. Dengan DER sekitar 1,12x, PPRE dinilai berada di zona menengah—lebih agresif dari WTON, namun jauh lebih sehat dibanding WSBP. Saham ini kini bukan lagi murni “saham beton”, melainkan taruhan pada siklus komoditas dengan balutan keahlian konstruksi.

Memasuki 2026, ketiga emiten ini melayani profil investor yang sangat berbeda. WTON cocok bagi investor fundamental dan pencari dividen, PPRE menarik bagi pemburu pertumbuhan yang siap menanggung volatilitas, sementara WSBP tetap berada di wilayah spekulatif dengan risiko tinggi.

Pada perdagangan hari ini Senin (12/1) saham WTON stagnan level Rp103 per lembar. Dalam sepekan terakhir naik 3 persen dari harga Rp100 pada 6 Januari 2026.

Pada perdagangan hari ini Senin (12/1) saham WSBP stagnan di papan FCA Rp24 per lembar. Dalam sepekan terakhir naik 9 persen dari harga Rp22 pada 6 Januari 2026.

Pada perdagangan hari ini Senin (12/1) saham PPRE naik 6,25 persen ke level Rp238 per lembar. Dalam sepekan terakhir naik 37 persen dari harga Rp173 pada 6 Januari 2026.

Artikel Terkait

Grup Bakrie (BNBR) Kantongi Restu Right Issue

Laba bersih Perseroan selama 2025 sebesar Rp 502,74 miliar, naik 49,6% dibanding tahun sebelumnya Pendapatan bersih Perseroan selama 2025 sebesar Rp 3,74 triliun

Laba CMRY Melejit 34%! Tembus Rp2T di 2025

PT Cisarua Mountain Dairy Tbk (CMRY) mencatat kinerja gemilang sepanjang 2025. Perseroan membukukan laba bersih Rp2,03 triliun, melonjak sekitar 34,4% dibandingkan tahun 2024 yang sebesar Rp1,51 triliun.

Pengendali HILL Bolak – Balik Transaksi Jutaan Lembar Harga Gocap

Pemegang saham pengendali PT Hillcon Tbk (HILL), yakni PT Hillcon Equity Management, tercatat melakukan aksi jual sekaligus beli saham dalam dua hari berurutan.

Populer 7 Hari

Berita Terbaru