Emitentrust.com – Penguatan nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah mulai menjadi sentimen positif bagi emiten perkapalan dan logistik energi yang memiliki pendapatan berbasis dolar AS.
Di tengah tekanan pelemahan rupiah terhadap berbagai sektor, perusahaan dengan kontrak berbasis dolar dinilai berpotensi menikmati keuntungan selisih kurs sekaligus peningkatan nilai pendapatan dalam rupiah.
Salah satu emiten yang mulai menjadi sorotan pasar adalah PT Cakra Buana Resources Energi Tbk (CBRE), terutama menjelang pelaksanaan aksi korporasi rights issue pada awal Juni 2026.
Pelaku pasar menilai kombinasi ekspansi bisnis, kontrak jangka panjang berbasis dolar AS, serta momentum penguatan dolar dapat menjadi katalis positif bagi perseroan.
Sebelumnya, CBRE mengakuisisi kapal pipe laying and lifting vessel senilai US$100 juta dari Hilong Shipping Holding Ltd. Bersamaan dengan akuisisi tersebut, perseroan juga berhasil mengamankan kontrak penyewaan kapal berdurasi delapan tahun dengan nilai mencapai US$262,8 juta.
Kontrak tersebut menjadi recurring income strategis bagi perseroan karena menggunakan skema pembayaran berbasis dolar AS.
Dengan tarif dasar time charter sebesar US$90.000 per hari, kontrak tersebut diperkirakan menghasilkan pendapatan sekitar US$32,8 juta per tahun.
Jika menggunakan asumsi kurs rupiah saat ini di level Rp17.713 per dolar AS, maka nilai pendapatan tahunan kontrak tersebut meningkat menjadi sekitar Rp581 miliar per tahun.
Artinya, terdapat potensi kenaikan nilai pendapatan sekitar Rp73 miliar per tahun hanya dari dampak penguatan dolar AS terhadap rupiah.
Sementara itu, total nilai kontrak time charter sebesar US$262,8 juta kini setara sekitar Rp4,65 triliun dengan kurs saat ini. Nilai tersebut dinilai memberikan visibilitas pendapatan jangka panjang yang cukup kuat bagi perseroan.
Di sisi lain, pasar juga menyoroti jadwal rights issue CBRE yang akan berlangsung pada awal Juni 2026.
Berdasarkan prospektus perseroan, pemegang saham yang tercatat pada recording date 2 Juni 2026 berhak memperoleh Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) dengan rasio 90:253.
Periode perdagangan dan pelaksanaan HMETD dijadwalkan berlangsung pada 4–10 Juni 2026.
Melalui aksi korporasi tersebut, CBRE berpotensi meraup dana hingga sekitar Rp1,9 triliun yang akan digunakan untuk penguatan modal kerja, pengembangan bisnis offshore, serta ekspansi armada perseroan.
Kombinasi recurring income jangka panjang, kontrak dolar bernilai jumbo, serta momentum penguatan dolar AS dinilai menjadi sentimen positif bagi CBRE menjelang rights issue.
Di tengah volatilitas pasar global, emiten dengan basis pendapatan dolar dan kontrak jangka panjang dinilai memiliki daya tarik tersendiri bagi investor.


