Emitentrust.com – PT Pemeringkat Efek Indonesia (PEFINDO) menegaskan peringkat idA- untuk PT Karya Pacific Energy Tbk (IATA), sekaligus mempertahankan peringkat idA-(sy) bagi Sukuk Wakalah Berkelanjutan I. PEFINDO juga menetapkan prospek stabil bagi Perseroan.
PEFINDO menyatakan peringkat tersebut didukung oleh cadangan dan sumber daya batu bara IATA yang relatif besar, profil biaya produksi yang rendah, serta sinergi dengan grup usaha. Namun, peringkat masih dibatasi oleh profil keuangan yang moderat, risiko perubahan regulasi, serta volatilitas harga komoditas dan isu lingkungan.
Surat utang yang akan jatuh tempo terdiri dari Obligasi Berkelanjutan I Tahap I Tahun 2023 Seri B senilai Rp149,83 miliar dan Sukuk Wakalah Berkelanjutan I Tahap I Tahun 2023 Seri B senilai Rp49,3 miliar, sehingga total kewajiban yang akan jatuh tempo pada 6 Oktober 2026 mencapai sekitar Rp199,13 miliar.
Untuk memenuhi kewajiban tersebut, Perseroan berencana menggunakan dana internal. Hingga 31 Maret 2026, IATA memiliki kas dan setara kas sebesar US$3 juta serta investasi senilai US$19,77 juta.
Ke depan, PEFINDO menyebut peringkat IATA berpotensi meningkat apabila Perseroan mampu meningkatkan produksi batu bara secara signifikan melalui tambang PT Putra Muba Coal (PMC) dan PT Arthaco Prima Energy (APE), serta memperluas diversifikasi bisnis. Sebaliknya, penurunan produksi, pelemahan EBITDA, peningkatan utang di atas proyeksi, maupun penurunan tajam harga batu bara dapat memberikan tekanan terhadap peringkat.
Saat ini, IATA merupakan perusahaan tambang batu bara yang mengoperasikan tiga tambang di Sumatra Selatan melalui PT Putra Muba Coal, PT Indonesia Batu Prima Energi, dan PT Arthaco Prima Energy. Per 31 Maret 2026, struktur pemegang saham Perseroan terdiri atas PT Karya Pacific Investama sebesar 48,79%, PT MNC Asia Holding Tbk sebesar 10,23%, dan publik 40,98%.


