back to top

BEI Layangkan Surat ke Emiten Grup Tjokro (GPSO), Terkait Ini

Emitentrust.com – PT Geoprima Solusi Tbk (GPSO) memberikan klarifikasi kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) setelah menerima surat permintaan penjelasan terkait volatilitas transaksi saham perseroan. Klarifikasi itu disampaikan di tengah pelemahan harga saham GPSO yang kiuan merosot.

Saham GPSO pada perdagangan Jumat (10/7) berada di level Rp284 per lembar.

Berdasarkan data perdagangan Saham GPSO pada perdagangan Jumat (10/7) berada di level Rp284 per lembar.

GPSO turun 3,4% dalam sepekan terakhir dan terkoreksi 8,97% dalam satu bulan. Dalam enam bulan terakhir, saham emiten tersebut telah anjlok 56,3%, sedangkan sejak awal 2026 hingga saat ini telah melemah sekitar 60% dari posisi Rp800 per saham.

Direktur Utama GPSO, Dionysius Tjokro, menegaskan hingga saat ini perseroan tidak mengetahui adanya informasi atau fakta material yang belum diungkapkan kepada publik yang dapat memengaruhi harga saham maupun keputusan investasi pemodal.

“GPSO tetap berkomitmen memenuhi seluruh kewajiban keterbukaan informasi kepada publik,” tulis Dionysius dalam surat jawaban kepada BEI.

Ia juga memastikan sepanjang pengetahuan perseroan tidak terdapat informasi material sebagaimana diatur dalam Peraturan BEI Nomor I-E maupun POJK Nomor 31/POJK.04/2015 yang belum disampaikan melalui sistem keterbukaan informasi IDXNet.

Selain itu, GPSO menyatakan tidak mengetahui adanya aktivitas pemegang saham tertentu, baik berupa perubahan kepemilikan saham maupun aktivitas penjaminan saham (pledging), yang belum dilaporkan sesuai ketentuan POJK Nomor 4 Tahun 2024.

” Perseroan juga terus berkoordinasi dengan pemegang saham utama dan pengendali guna memastikan seluruh kewajiban pelaporan dipenuhi,” jelasnya.

Meski demikian, GPSO mengungkapkan masih menyiapkan sejumlah aksi korporasi lanjutan yang sebelumnya telah diumumkan melalui keterbukaan informasi pada 21 Januari 2026 dan pembaruan pada 18 Juni 2026.

” Rencana tersebut ditujukan untuk mendukung ekspansi usaha melalui pendanaan berbasis ekuitas maupun utang,” papar Dionysius.

Dionysius menjelaskan transformasi bisnis bersama Kelompok Usaha Tjokro Group akan difokuskan pada industri komponen mekanikal dan permesinan (machining). Saat ini seluruh rencana aksi korporasi tersebut masih berada dalam tahap kajian menyeluruh (due diligence) sebelum direalisasikan sesuai ketentuan pasar modal yang berlaku.

Mengenai kepemilikan saham, GPSO menyatakan pemegang saham utama dan pengendali belum memiliki rencana mengubah komposisi kepemilikannya.

Namun, berdasarkan informasi yang diterima perseroan, PIMSF tidak menutup kemungkinan untuk menambah kepemilikan saham di masa mendatang. Di sisi lain, apabila terdapat kebutuhan internal, PIMSF juga berpeluang melepas sebagian kepemilikannya pada waktu yang akan datang.

Artikel Terkait

ZATA Catat Laba dan Pendapatan Melonjak di Kuartal I-2026

PT Bersama Zatta Jaya Tbk (ZATA) membukukan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp8,02 miliar pada kuartal I-2026, melonjak 33,7% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp6,00 miliar.

SQMI Ungkap Aktivitas Eksplorasi Tambang Berhenti di Triwulan II 2026

PT Wilton Makmur Indonesia Tbk (SQMI) menyampaikan bahwa tidak melakukan kegiatan eksplorasi selama periode April hingga Juni 2026.

RUPSLB Wika Beton (WTON) Setujui Dua Agenda Strategis, Ini Keputusannya

PT Wijaya Karya Beton Tbk (WTON) menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) Tahun 2026 pada Jumat (10/7/2026) yang menyetujui dua agenda strategis, yakni perubahan rumusan Penghasilan Dasar Pensiun

Populer 7 Hari

Berita Terbaru