Emitentrust.com – PT Indosat Tbk (ISAT) membukukan laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp4,31 triliun pada semester I-2026, melonjak 84,5% dibandingkan Rp2,34 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Sejalan dengan itu, pendapatan perseroan meningkat 13,1% menjadi Rp30,65 triliun dari Rp27,11 triliun.
Kinerja positif tersebut ditopang oleh pertumbuhan EBITDA sebesar 13,6% menjadi Rp14,60 triliun dari sekitar Rp12,85 triliun pada semester I-2025, dengan margin EBITDA tetap terjaga di level 47,6%. Perseroan menyebut pencapaian ini mencerminkan kekuatan model bisnis yang skalabel, disiplin dalam pengelolaan biaya, serta kemampuan menciptakan nilai jangka panjang bagi para pemangku kepentingan.
Dari sisi operasional, pendapatan seluler tumbuh 12,2% menjadi Rp25,53 triliun. Sementara itu, pendapatan segmen multimedia, komunikasi data, dan internet (MIDI) meningkat lebih tinggi, yakni 18,5% menjadi Rp4,69 triliun, sedangkan pendapatan telekomunikasi naik 8,4% menjadi sekitar Rp432 miliar.
Indosat juga mencatat peningkatan kualitas bisnis. Average Revenue Per User (ARPU) seluler gabungan naik 17,3% menjadi Rp46 ribu, dengan jumlah pelanggan seluler mencapai sekitar 93 juta. Trafik data tumbuh 19,9% secara tahunan, didukung ekspansi jaringan hingga sekitar 214 ribu BTS 4G yang telah beroperasi pada akhir Juni 2026.
Di tengah ekspansi tersebut, beban usaha meningkat 4,5% menjadi Rp22,92 triliun, terutama akibat kenaikan beban penyelenggaraan jasa, penyusutan dan amortisasi, biaya karyawan, pemasaran, serta beban umum dan administrasi. Meski demikian, laba usaha melonjak 49,3% menjadi Rp7,74 triliun, menunjukkan efisiensi operasional yang tetap terjaga.
Dari sisi neraca, total aset meningkat 16,6% menjadi Rp138,31 triliun per 30 Juni 2026. Perseroan membukukan liabilitas sebesar Rp98,21 triliun dan ekuitas Rp40,10 triliun.
Arus kas bersih dari aktivitas operasi naik 22,8% menjadi Rp11,76 triliun. Sepanjang semester pertama 2026, Indosat merealisasikan belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar Rp9,52 triliun, di luar aset hak guna senilai Rp6,57 triliun. Sebanyak 57,1% capex dialokasikan untuk pengembangan bisnis seluler guna memperkuat kapasitas jaringan dan mengakomodasi pertumbuhan konsumsi data.
Pada akhir Juni 2026, Indosat memiliki utang pokok sebesar Rp18,54 triliun dengan posisi kas Rp15,78 triliun, sehingga utang bersih tercatat hanya Rp2,75 triliun. Struktur utang terdiri atas pinjaman Rp15,05 triliun dan obligasi senilai Rp3,49 triliun, mencerminkan posisi likuiditas yang tetap kuat untuk mendukung agenda pertumbuhan perseroan.


