back to top

BEI Bongkar Kejanggalan Laporan Keuangan FOLK

EmTrust – PT Multi Garam Utama Tbk (FOLK) menanggapi permintaan penjelasan dari PT Bursa Efek Indonesia (BEI) terkait sejumlah pos keuangan yang dinilai mengalami perubahan signifikan hingga kuartal III-2025. Terkait piutang, utang, penurunan penjualan, hingga strategi pemulihan kinerja ke depan.

Manajemen FOLK menyampaikan bahwa, Per 30 September 2025, piutang usaha FOLK tercatat Rp2,38 miliar, naik tipis dibanding akhir 2024. Lonjakan terutama berasal dari PT Borwita Citra Prima sebesar Rp816,76 juta, seiring dimulainya kerja sama distribusi merek drsoap yang sebelumnya dipegang PT Filia Sukses Mandiri (FSM).

” Borwita merupakan distributor nasional dengan rekam jejak kuat, sehingga piutang tersebut dinilai masih terkendali dan tertagih, Sebaliknya, piutang kepada Goto Gojek Tokopedia Tbk dan FSM turun hingga nihil, seiring pelunasan kewajiban dan berakhirnya kerja sama distribusi. jawab manajemen dalam keterangannya ke BEI Jumat (2/1).

BEI juga menyoroti piutang usaha yang telah jatuh tempo lebih dari 90 hari senilai Rp1,45 miliar, terutama berasal dari: PT Mitra Ultima Utama: Rp756,6 juta dan CV Global Tujuh Sejahtera Rp699,7 juta.

FOLK menyebut kedua pihak masih melakukan pembayaran bertahap dan telah menyampaikan komitmen pelunasan lanjutan, sehingga belum dibentuk cadangan penurunan nilai.

Penjualan FOLK hingga September 2025 tercatat Rp14,05 miliar, turun 6,52% secara tahunan. Penurunan berasal dari Jasa yang turun 25,77% dan Penjualan barang turun 3,41%

Hilangnya kontribusi FSM sebesar Rp3,62 miliar menjadi salah satu faktor utama. Namun, FOLK mulai mencatatkan penjualan dari Borwita senilai Rp6,09 miliar sebagai pelanggan baru.

Beban umum dan administrasi berhasil ditekan 21,9% YoY menjadi Rp12,60 miliar, meski masih membebani hampir 90% dari penjualan.

Sementara itu aset tetap turun menjadi Rp11,75 miliar akibat penyusutan, aset tak berwujud menyusut menjadi Rp1,41 miliar. Persediaan turun 24,76% dengan tambahan penyisihan penurunan nilai Rp1,78 miliar.

FOLK menegaskan nilai investasi lain-lain sebesar Rp48,06 miliar tidak mengalami penurunan nilai. Seluruh investasi diukur dengan Level 3 PSAK 113, mengingat mayoritas merupakan perusahaan non-tercatat dan tahap awal.

Beberapa entitas investasi bahkan mencatatkan EBITDA positif, meski ada pula yang masih rugi atau dormant.

Perseroan menegaskan tidak memiliki perkara hukum material, serta menyebut pengunduran diri tiga direksi sebelumnya murni karena alasan pribadi dan telah digantikan melalui RUPSLB Desember 2025.

Terkait rencana PMTHMETD, FOLK menyatakan masih dalam tahap kajian internal dan akan diumumkan jika sudah final.

perlu diketahui Saham FOLK pada perdagangan awal tahun 2026 naik 10 persen ke level Rp440 per lembar.

Dalam sebulan terakhir naik 15,1 persen dari harga Rp382 pada 3 Desember 2025.

Dalam enam bulan terbang 556,7 persen dari harga Rp67 pada 3 Juli 2025.

Artikel Terkait

Grup Bakrie (BNBR) Kantongi Restu Right Issue

Laba bersih Perseroan selama 2025 sebesar Rp 502,74 miliar, naik 49,6% dibanding tahun sebelumnya Pendapatan bersih Perseroan selama 2025 sebesar Rp 3,74 triliun

Laba CMRY Melejit 34%! Tembus Rp2T di 2025

PT Cisarua Mountain Dairy Tbk (CMRY) mencatat kinerja gemilang sepanjang 2025. Perseroan membukukan laba bersih Rp2,03 triliun, melonjak sekitar 34,4% dibandingkan tahun 2024 yang sebesar Rp1,51 triliun.

Pengendali HILL Bolak – Balik Transaksi Jutaan Lembar Harga Gocap

Pemegang saham pengendali PT Hillcon Tbk (HILL), yakni PT Hillcon Equity Management, tercatat melakukan aksi jual sekaligus beli saham dalam dua hari berurutan.

Populer 7 Hari

Berita Terbaru