Emitentrust.com – PT Buana Lintas Lautan Tbk (BULL) mencatat lonjakan laba bersih sebesar 141% secara tahunan (year on year/YoY) menjadi US$14,2 juta pada kuartal I-2026, dibandingkan US$5,9 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Kenaikan laba bersih tersebut didukung oleh pertumbuhan pendapatan sebesar 11,7% YoY menjadi US$43,9 juta dari US$39,3 juta pada kuartal I-2025. Perseroan juga menikmati penurunan beban pembiayaan seiring berkurangnya beban utang.
Krisnanto Tedjaprawira Sekretaris Perusahaan BULL dalam rilisnya Rabu (3/6) menjelaskan, peningkatan kinerja terutama berasal dari membaiknya pendapatan Time Charter Equivalent (TCE) per hari pada armada kapal tanker akibat perubahan dan perluasan pola perdagangan global.
Rata-rata pendapatan TCE pada seluruh segmen tanker utama BULL meningkat seiring naiknya permintaan kapal tanker minyak di tengah kebutuhan negara-negara konsumen untuk memperoleh pasokan energi dari negara produsen yang berlokasi lebih jauh.
Tercatat, tarif TCE kapal tanker Aframax naik 40,6% menjadi US$56.314 per hari dari US$40.048 per hari pada periode yang sama tahun lalu. Sementara tarif TCE kapal tanker Medium Range (MR) melonjak 43,7% menjadi US$30.466 per hari dari US$21.197 per hari.
Memasuki kuartal II-2026, manajemen optimistis kinerja perseroan akan semakin kuat. BULL bahkan memperkirakan kuartal II-2026 berpotensi menjadi periode dengan laba bersih triwulanan tertinggi dalam sejarah perusahaan.
Menurut perseroan, konflik Amerika Serikat dan Iran belum sepenuhnya tercermin pada tarif sewa kapal hingga akhir kuartal II-2026 karena adanya efek jeda (lag effect) sekitar dua hingga tiga bulan akibat panjangnya rute pelayaran.
Manajemen menilai konflik tersebut justru memberikan dampak positif bagi industri tanker minyak. Penutupan jalur strategis seperti Selat Hormuz menyebabkan berkurangnya pasokan kapal, meningkatnya kebutuhan reposisi armada, serta memperpanjang jarak pengiriman minyak dan LNG yang mendorong kenaikan ton-mile.
Sebagai ilustrasi, sebelum konflik berlangsung India mengimpor sekitar 3 juta barel minyak per hari dari Teluk Persia dengan waktu tempuh sekitar empat hari. Namun apabila pasokan harus dialihkan dari Amerika dengan waktu pelayaran sekitar 40 hari, kebutuhan armada tanker Aframax diperkirakan meningkat dari 52 kapal menjadi 365 kapal.
Selain faktor geopolitik, BULL juga akan memperoleh tambahan kontribusi dari kapal tanker LNG baru yang mulai beroperasi pada kuartal II-2026.
Ke depan, perseroan berencana melakukan ekspansi armada tanker minyak dan LNG melalui pembelian kapal baru maupun peluang akuisisi. Strategi pengembangan perusahaan akan difokuskan pada empat pilar utama, yakni transportasi minyak mentah dan produk minyak, transportasi LNG, bisnis FPSO dan FSO, serta pengembangan FSRU untuk regasifikasi LNG.
Pada perdagangan hari ini Rabu (3/6) saham BULL turun 8,42 persen ke level Rp346.


