Emitentrust.com – Struktur kepemilikan saham PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (IDX: MTEL) kembali menjadi sorotan setelah perseroan merilis laporan bulanan registrasi pemegang efek per Februari 2026.
Dalam laporan tersebut, porsi saham free float MTEL tercatat sebesar 13,65%, sedikit turun dibandingkan bulan sebelumnya yang berada di level 13,71%.
Berdasarkan data registrasi pemegang saham yang dipublikasikan pada Minggu (8/3), jumlah saham free float MTEL mencapai sekitar 11,4 miliar saham dari total 83,55 miliar saham yang tercatat di Bursa Efek Indonesia.
Di sisi lain, struktur kepemilikan perseroan masih didominasi oleh induk usahanya, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (IDX: TLKM) yang menggenggam 60,02 miliar saham atau setara 71,83% kepemilikan.
Melalui kepemilikan Telkom tersebut, penerima manfaat akhir (ultimate beneficial owner) dari Mitratel tetap berada di tangan Pemerintah Republik Indonesia.
Selain Telkom, investor institusi global juga tercatat memiliki porsi signifikan di MTEL. Salah satunya adalah Government of Singapore yang menguasai sekitar 4,45 miliar saham atau 5,33%.
Sementara itu, investor domestik PT Maleo Investasi Prosperity juga tercatat sebagai pemegang saham besar dengan kepemilikan 4,99 miliar saham atau sekitar 5,97%.
Di luar pemegang saham utama tersebut, publik memegang sekitar 13,87% saham perseroan dalam bentuk non-warkat.
Laporan juga menunjukkan adanya peningkatan saham treasuri MTEL menjadi 2,49 miliar saham atau sekitar 2,97%, naik dibandingkan posisi bulan sebelumnya yang sebesar 2,44 miliar saham.
Dari sisi basis investor, jumlah pemegang saham MTEL tercatat 19.328 investor hingga akhir Februari 2026, turun sekitar 406 investor dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai 19.734 pemegang saham.
Adapun kepemilikan saham oleh manajemen relatif kecil. Direktur Utama Mitratel Theodorus Ardi Hartoko tercatat memiliki sekitar 8,16 juta saham, sementara sejumlah direksi lainnya seperti Ian Sigit Kurniawan dan Hendra Purnama juga memegang saham dalam jumlah terbatas.
Mitratel sendiri merupakan anak usaha Telkom yang bergerak di bisnis infrastruktur menara telekomunikasi dan menjadi salah satu operator menara terbesar di Indonesia.


