Emitentrust.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan sesi pertama, Selasa (7/4/2026), di zona merah. IHSG terkoreksi 20,267 poin atau 0,29% ke level 6.969,159.
Pelemahan indeks dipicu oleh tekanan luas di mayoritas sektor. Sektor perindustrian menjadi pemberat utama setelah anjlok paling dalam hingga 2,12%.
Tekanan juga datang dari sektor barang konsumen primer yang turun 1,04%, diikuti sektor kesehatan melemah 0,76% serta barang konsumen non-primer yang terkoreksi 0,7%.
Selain itu, sektor transportasi dan logistik turun 0,61%, sektor teknologi melemah 0,54%, sektor barang baku terkoreksi 0,48%, serta sektor properti dan real estate yang turun 0,44%.
Di tengah tekanan tersebut, sektor energi justru tampil sebagai penopang utama dengan kenaikan 0,72%. Disusul sektor infrastruktur yang menguat 0,38% dan sektor keuangan naik 0,32%.
Aktivitas perdagangan terpantau ramai dengan total volume mencapai 17,42 miliar saham dan nilai transaksi sebesar Rp7,23 triliun. Dari keseluruhan saham yang diperdagangkan, sebanyak 371 saham melemah, 261 saham menguat, dan 174 saham stagnan.
Dari sisi pergerakan saham, sejumlah emiten mencatatkan lonjakan signifikan. Saham DSSA melesat Rp2.425 ke level Rp66.225 per saham, MKPI naik Rp1.100 ke Rp23.650, serta BYAN menguat Rp925 ke Rp10.950 per saham.
Sebaliknya, tekanan jual menimpa saham-saham seperti UNTR yang turun Rp750 ke Rp29.800, TCPI melemah Rp500 ke Rp11.450, serta STTP terkoreksi Rp475 ke Rp9.625 per saham.
Untuk saham teraktif, BBRI memimpin dengan frekuensi transaksi mencapai 42.789 kali senilai Rp456 miliar. Disusul CHEM dengan 41.611 kali transaksi senilai Rp87 miliar, serta BUMI sebanyak 37.623 kali senilai Rp535 miliar.
Di jajaran LQ45, saham-saham tambang menjadi yang paling tertekan. ADMR turun 4,7%, ANTM melemah 3,84%, dan ADRO terkoreksi 3,59%.
Sementara itu, penguatan di indeks LQ45 dipimpin oleh DSSA yang naik 3,8%, diikuti BRPT menguat 3,72% dan BREN yang naik 3,67%.


