Emitentrust.com – Otoritas Bursa meminta klarifikasi atas kinerja keuangan PT LCK Global Kedaton Tbk (LCKM) yang dinilai memburuk sepanjang sembilan bulan pertama 2025. Permintaan penjelasan ini mencuat di tengah sorotan tajam atas bisnis yang tersendat, kontrak yang mengering, serta utang pajak yang membengkak.
Dalam laporan keuangannya, pendapatan LCKM per 30 September 2025 tercatat hanya Rp305,69 juta, anjlok hingga 81% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp1,61 miliar. Tak hanya pendapatan yang merosot, perseroan juga membukukan rugi bersih Rp2,33 miliar.
Manajemen LCKM mengakui bahwa keterpurukan ini tak lepas dari berakhirnya kontrak kerja sama dengan sejumlah pelanggan utama, tanpa adanya kontrak pengganti yang mampu memberikan kontribusi pendapatan signifikan.
“Kontrak dengan pelanggan utama telah habis dan belum diperpanjang,” ungkap manajemen dalam jawaban resmi kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), dikutip Minggu (12/1).
Lebih mengkhawatirkan, hingga saat ini LCKM belum mengantongi kontrak jangka panjang yang bersifat material, sebuah fakta yang memicu tanda tanya besar terkait keberlanjutan pendapatan perseroan ke depan.
Meski demikian, manajemen menegaskan bahwa perseroan masih aktif beroperasi. Penyesuaian strategi bisnis disebut tengah dilakukan dengan pendekatan yang lebih selektif terhadap proyek, meskipun langkah ini diakui berdampak pada penurunan pendapatan jangka pendek.
Piutang Jumbo, Kas Masuk Minim
Di tengah pendapatan yang menyusut, LCKM masih mencatat piutang usaha sebesar Rp17,96 miliar. Namun ironisnya, arus kas dari pelanggan sepanjang 2025 hanya sekitar Rp2,3 miliar. Kondisi ini memantik pertanyaan otoritas terkait kualitas piutang perseroan.
Manajemen bersikukuh tidak membentuk cadangan penurunan nilai piutang. Alasannya, seluruh piutang diklaim masih berumur di bawah 90 hari dan berasal dari pelanggan dengan rekam jejak pembayaran yang dinilai baik.
“Sebagian piutang telah tertagih, sementara sisanya masih dalam proses penagihan,” ujar manajemen.
Sorotan lain mengarah pada uang muka proyek jangka pendek sebesar Rp82,06 miliar, yang menjadi aset terbesar perseroan dan telah mengendap sejak akhir 2021. Manajemen mengakui uang muka tersebut belum terealisasi karena proyek belum masuk tahap eksekusi penuh, dipicu oleh penyesuaian strategi bisnis serta ketidakpastian pasar.
Tak berhenti di situ, LCKM juga mencatat uang muka proyek jangka panjang Rp33,75 miliar untuk proyek konstruksi di Bali dan Selangor, Malaysia. Perseroan bahkan telah menempatkan investasi puluhan miliar rupiah dengan janji imbal hasil tahunan hingga 10 tahun ke depan.
Di sisi lain, laporan keuangan menunjukkan utang pajak LCKM mencapai Rp7,24 miliar, yang sebagian besar berasal dari Pajak Pertambahan Nilai (PPN). Perseroan mengakui masih memiliki tunggakan PPN dan telah menerima Surat Tagihan Pajak (STP), meski menyatakan tengah mengupayakan penyelesaian secara bertahap.
Dari sisi operasional, kondisi LCKM juga terbilang minim. Hingga 30 September 2025, perseroan hanya memiliki 5 karyawan tetap. Sepanjang tahun 2025, tidak ada penambahan aset tetap maupun investasi baru, dengan alasan fokus menjaga likuiditas dan efisiensi.
Tekanan tersebut tercermin pada arus kas operasi yang terjun bebas 96,85% menjadi Rp907,53 juta, seiring merosotnya pendapatan dan lambatnya penerimaan piutang.
Meski dihimpit berbagai tekanan, manajemen LCKM tetap menyatakan optimistis. Perseroan mengklaim tengah menjajaki kontrak baru serta menata ulang strategi bisnis demi menjaga kelangsungan usaha di tengah kondisi yang kian menantang.
Pada perdagangan akhir pekan (10/1) saham LKCM turun 0,75 persen ke level Rp266. Dalam sebulan terakhir turun anjlok 5,67 persen dari harga Rp282 pada 11 desember 2025.
PT LCK Global Kedaton Tbk (LCKM) didirikan pada tanggal 31 Juli 2013 sebagai perusahaan telekomunikasi yang fokus pada layanan teknik dan konsultasi.
Perusahaan ini menawarkan survei investigasi lokasi (SITAC), konstruksi BTS, layanan mekanik dan kelistrikan, jaringan telekomunikasi, sambungan pasokan listrik, dan menara komisi instalasi.
LKCM mencatatkan sahamnya di BEI (IPO) pada 16 Januari 2018 sebanyak 200.000.000
Saham atau 20% dari modal disetor pada harga perdana Rp 208.
Dana yang di raup dalam IPO tersebut senilai Rp41,6 miliar.
Bertindak sebagai Penjamin Emisi Utama PT. Mirae Asset Sekuritas Indonesia.


