back to top

Mirae Asset Sebut Koreksi Pasar Bisa Jadi Peluang Investasi

Emitentrust.com – Tekanan terhadap pasar keuangan global dan domestik terus meningkat sepanjang kuartal kedua 2026. Eskalasi konflik di Timur Tengah, lonjakan harga minyak dunia, pelemahan rupiah, hingga derasnya arus keluar dana asing dari pasar saham Indonesia mendorong volatilitas pasar semakin tinggi.

Dalam Media Day bertajuk “The Q2 Blueprint: Turning Volatility into Value”, PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia memaparkan perkembangan ekonomi dan pasar terkini serta strategi investasi yang dinilai relevan menghadapi kondisi pasar saat ini.

Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Muhammad Adityo Nugroho, mengatakan dinamika ekonomi global masih dibayangi konflik Amerika Serikat dan Iran yang mendorong harga minyak Brent melampaui USD100 per barel.

Selain itu, terganggunya distribusi minyak akibat penurunan lalu lintas kapal di Selat Hormuz turut meningkatkan tekanan inflasi global dan ketidakpastian pasar keuangan.

Di Amerika Serikat, inflasi April 2026 tercatat sebesar 3,8 persen dengan harga rata-rata BBM nasional mencapai USD4,515 per galon. Kondisi tersebut memperkuat ekspektasi pasar bahwa bank sentral AS atau The Fed akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.

Fenomena bond vigilante juga kembali muncul, tercermin dari yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun yang mencapai 4,661 persen dan obligasi Inggris tenor 10 tahun sebesar 5,126 persen.

Dari sisi domestik, Mirae Asset memiliki pandangan berbeda dari konsensus pasar terkait kebijakan Bank Indonesia.

Menurut Adityo, Bank Indonesia diperkirakan akan mempertahankan suku bunga di level 4,75 persen pada Rapat Dewan Gubernur Mei 2026, meski sebelumnya pasar mengantisipasi kenaikan menjadi 5 persen.

“Kenaikan suku bunga memiliki efektivitas terbatas dalam merespons tekanan struktural terhadap rupiah. Di sisi lain, ruang pengetatan juga dipengaruhi oleh beban fiskal pemerintah yang cukup besar,” ujar Adityo.

Meski rupiah melemah hingga kisaran Rp17.700 per dolar AS, kepemilikan asing pada Surat Berharga Negara (SBN) masih relatif stabil di level 12,72 persen per 13 Mei 2026.

Sementara itu, Head of Investment Information Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Martha Christina, menyoroti tekanan besar yang masih membayangi pasar saham Indonesia.

Hingga 19 Mei 2026, IHSG berada di level 6.371 atau turun 26,3 persen secara year-to-date (YTD), menjadikannya salah satu indeks dengan kinerja terburuk global.

Tekanan pasar juga tercermin dari aksi jual bersih investor asing yang terus terjadi sejak awal tahun. Nilai net sell asing tercatat mencapai Rp13,3 triliun pada Januari, Rp5,7 triliun pada Februari, Rp10,5 triliun pada Maret, Rp16,8 triliun pada April, dan Rp4,9 triliun hingga pertengahan Mei 2026.

Meski pasar tertekan, Martha menilai sektor perbankan masih menawarkan peluang investasi menarik. Empat bank besar nasional yakni Bank Mandiri (BMRI), Bank Rakyat Indonesia (BBRI), Bank Central Asia (BBCA), dan Bank Negara Indonesia (BBNI) masih mencatat pertumbuhan laba positif.

BMRI membukukan pertumbuhan laba tertinggi sebesar 18,8 persen YoY, sementara BBRI tumbuh 13,7 persen, BBCA 3,8 persen, dan BBNI 5,2 persen.

“Valuasi saham perbankan saat ini sudah berada di level yang cukup menarik secara historis karena Price-to-Book Value (PBV) telah mengalami koreksi signifikan mendekati titik terendah multi-tahun,” jelas Martha.

Selain sektor perbankan, Mirae Asset juga menyoroti sejumlah saham pilihan lain seperti Indosat Ooredoo Hutchison (ISAT), Cisarua Mountain Dairy (CMRY), Japfa Comfeed Indonesia (JPFA), Midi Utama Indonesia (MIDI), Erajaya Swasembada (ERAA), dan Surya Citra Media (SCMA).

Menghadapi kondisi pasar yang penuh volatilitas, Mirae Asset merekomendasikan investor untuk melakukan diversifikasi portofolio, meningkatkan porsi instrumen defensif seperti Reksa Dana Pasar Uang (RDPU), serta memilih saham berfundamental kuat hingga kondisi pasar lebih stabil.

“Volatilitas bukan sekadar risiko, tetapi juga peluang bagi investor yang disiplin dan berpengetahuan,” tutup Martha.

Artikel Terkait

WINS Bagi Dividen Rp8,8M, Catat Jadwal Cum Date

PT Wintermar Offshore Marine Tbk (WINS) akan membagikan dividen tunai untuk tahun buku 2025 sebesar Rp8,81 miliar

Jinsheng Mining Borong Saham DKFT, Nilainya Tembus Rp91M

PT Central Omega Resources Tbk (DKFT) menyampaikan bahwa PT Jinsheng Mining selaku pemegang saham pengendali telah menambah kepemilikan saham pada 12 Mei 2026.

Laba INDY Melonjak 142% di Kuartal I 2026

PT Indika Energy Tbk (INDY) mencatat kenaikan laba bersih dan pendapatan pada kuartal I 2026. Berdasarkan laporan keuangan perseroan per 31 Maret 2026,

Populer 7 Hari

Berita Terbaru