Emitentrust.com – PT Remala Abadi Tbk. (DATA) buka suara terkait lonjakan signifikan aset dan piutang lain-lain dalam laporan keuangan tahun buku 2025 setelah mendapat permintaan penjelasan dari Bursa Efek Indonesia (BEI).
Dalam surat tanggapan kepada BEI, manajemen DATA pada Senin (18/5) menjelaskan bahwa total aset Perseroan melonjak 164,1% dari Rp381,20 miliar pada 2024 menjadi Rp1,006 triliun pada 2025.
Kenaikan terbesar berasal dari aset tidak lancar yang meningkat Rp508,41 miliar menjadi Rp786,92 miliar.
Perseroan menyebut lonjakan tersebut terutama dipicu kenaikan uang muka tidak lancar untuk pengembangan jaringan telekomunikasi kabel bawah laut serta investasi perangkat lunak dan aset tetap. Nilai uang muka sendiri melonjak drastis 5.213,7% dari Rp4,17 miliar menjadi Rp221,76 miliar.
Manajemen DATA menjelaskan investasi itu merupakan bagian dari strategi jangka panjang Perseroan untuk memperluas backbone jaringan fiber optic domestik dan internasional sekaligus memperkuat posisi di bisnis telekomunikasi dan layanan digital.
Dalam keterangannya, DATA mengungkap telah menandatangani dua perjanjian besar dengan PT Jejaring Mitra Persada terkait hak penggunaan jaringan kabel fiber optic bawah laut atau Indefeasible Right of Use (IRU).
Perjanjian pertama diteken pada 18 Juni 2025 untuk proyek Jakarta-Batam Submarine Cable System senilai Rp194,88 miliar dengan masa pemanfaatan 15 tahun. Sementara perjanjian kedua diteken pada 29 Desember 2025 untuk proyek Jakarta-Surabaya (Jayabaya) senilai Rp70,85 miliar dengan tenor pemanfaatan 15 tahun.
Perseroan menyebut pembayaran kedua proyek tersebut dilakukan secara bertahap pada 2025 dan 2026. Hingga akhir 2025, proyek masih berada pada tahap pengadaan dan pembangunan dengan target penyelesaian bertahap sepanjang 2026.
Selain lonjakan aset, BEI juga menyoroti kenaikan piutang lain-lain pihak ketiga yang melejit 1.143,8% dari Rp13,13 miliar menjadi Rp163,51 miliar pada 2025. Piutang tersebut antara lain terkait dengan Wukong Technology Partners Limited, PT Maxindo Mitra Solusi, dan PT Darpa Balakosa Semesta.
DATA menjelaskan pihak-pihak tersebut merupakan mitra bisnis sekaligus pemegang saham entitas anak yang akan merealisasikan investasi secara bertahap sesuai kebutuhan pengembangan bisnis jangka panjang.
Adapun Wukong Technology Partners Limited disebut menjadi mitra pengembangan jaringan fiber optic segmen ritel melalui entitas anak PT Fiber Kerumah Indonesia.
Sementara PT Maxindo Mitra Solusi bergerak di pengembangan fiber optic segmen korporasi melalui PT Mitra Integrasi Bersama dan PT Darpa Balakosa Semesta fokus pada aplikasi serta perangkat lunak melalui PT Akselerasi Informasi Indonesia.
Perseroan menambahkan kebijakan penagihan piutang mempertimbangkan kebutuhan pengembangan bisnis jangka panjang dan dilakukan sesuai strategi ekspansi Perseroan.
Terkait Peningkatan liabilitas DATA menegaskan peningkatan liabilitas dan investasi besar-besaran dilakukan untuk mendukung ekspansi jaringan fiber optic dan pengembangan bisnis jangka panjang.
Aset tetap Perseroan melonjak 146,2% dari Rp238,98 miliar menjadi Rp588,39 miliar pada 2025. Kenaikan tersebut terutama berasal dari pembelian tanah, bangunan, kendaraan, peralatan kantor, hingga pembangunan infrastruktur jaringan dan aset dalam penyelesaian (CIP).
DATA merinci investasi terbesar berasal dari infrastruktur jaringan senilai Rp140,66 miliar dan aset dalam penyelesaian sebesar Rp178,47 miliar. Perseroan mengklaim tingkat utilisasi aset yang sudah selesai berada di kisaran 70%-100% dan belum terdapat indikasi underutilization yang material.
Manajemen menegaskan seluruh investasi telah melalui studi kelayakan internal guna memastikan potensi pengembalian investasi dan mendukung peningkatan pendapatan telekomunikasi, termasuk layanan internet dan penyewaan infrastruktur jaringan untuk segmen retail, korporasi, hingga pemerintahan.
Di sisi lain, total liabilitas DATA melonjak 418,2% dari Rp118,13 miliar menjadi Rp612,15 miliar pada 2025. Lonjakan terbesar berasal dari utang bank jangka pendek yang naik drastis 3.790,7% menjadi Rp426,14 miliar.
Pinjaman tersebut berasal dari PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, PT Bank Maybank Indonesia Tbk, dan PT Bank Central Asia Tbk.
Perseroan menyebut tambahan utang digunakan untuk mendukung likuiditas operasional, percepatan proyek strategis, dan menjaga efisiensi biaya pendanaan. DATA juga memastikan tidak terdapat pelanggaran covenant selama periode pelaporan.
Meski seluruh fasilitas kredit jangka pendek akan jatuh tempo pada Februari hingga Juli 2026, manajemen mengklaim telah memperpanjang sebagian fasilitas kredit dan sedang berkomunikasi dengan bank untuk proses perpanjangan berikutnya guna menjaga likuiditas.
BEI juga menyoroti penurunan rasio keuangan DATA. Current ratio turun tajam dari 1,61 menjadi 0,39, cash ratio turun dari 0,19 menjadi 0,04, sedangkan debt to equity ratio (DER) melonjak dari 0,45 menjadi 1,55.
Menanggapi hal itu, DATA mengakui ekspansi besar-besaran jaringan dan investasi aset tetap memberi tekanan terhadap likuiditas jangka pendek. Namun Perseroan menilai kondisi tersebut masih terkendali karena didukung pertumbuhan arus kas operasi dan strategi pengelolaan utang yang prudent.


