Emitentrust.com – PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) telah mengantongi mandat pemeringkatan surat utang korporasi senilai Rp50,81 triliun hingga 30 Juni 2026. Dari jumlah tersebut, sekitar Rp28 triliun merupakan rencana penerbitan Efek Bersifat Utang dan Sukuk (EBUS) berkelanjutan, yang dinilai semakin diminati karena memberikan fleksibilitas bagi emiten dalam melakukan penerbitan bertahap.
Direktur Pemeringkatan Pefindo, Hendro Utomo, mengatakan nilai mandat tersebut masih berpotensi bertambah pada semester II/2026 seiring masuknya mandat baru yang dapat direalisasikan pada tahun ini. Hingga akhir Juni, tercatat 43 perusahaan telah memberikan mandat kepada Pefindo untuk proses pemeringkatan penerbitan surat utang.
Hendro menjelaskan, mandat pemeringkatan didominasi oleh perusahaan dari sektor pembiayaan, pertambangan, perbankan, perusahaan induk (holding), serta entitas yang berafiliasi dengan pemerintah. Dari total mandat tersebut, perusahaan kelompok BUMN/BUMD berencana menerbitkan surat utang senilai Rp14,16 triliun, sedangkan perusahaan swasta menyumbang rencana penerbitan sebesar Rp36,65 triliun.
Pefindo optimistis aktivitas penerbitan obligasi korporasi akan tetap kuat pada paruh kedua 2026. Optimisme tersebut didukung oleh besarnya nilai surat utang yang akan jatuh tempo pada semester II tahun ini, yakni mencapai Rp107,51 triliun, sehingga diperkirakan mendorong kebutuhan refinancing maupun penerbitan baru.
Selain itu, prospek penerbitan juga ditopang oleh kondisi ekonomi domestik yang dinilai masih stabil, didukung kebijakan fiskal pemerintah yang ekspansif serta kebijakan moneter yang berfokus menjaga stabilitas pasar keuangan. Dari sisi permintaan, investor dinilai masih memiliki kebutuhan tinggi terhadap instrumen pendapatan tetap sebagai pengganti investasi yang telah jatuh tempo.
Pefindo pun mempertahankan proyeksi penerbitan surat utang korporasi sepanjang 2026 di kisaran Rp154 triliun hingga Rp196,86 triliun. Hingga Juni 2026, realisasi penerbitan surat utang baru telah mencapai Rp87,35 triliun, atau sekitar 44%–57% dari target tahunan.


