WIKA Pangkas Rugi di Semester I-2026,,Tapi Defisit Tembus Rp20,77T

WIKA Pangkas Rugi di Semester I-2026,,Tapi Defisit Tembus Rp20,77T
Gedung kantor operasional WIKA
Bacakan Artikel

EmitenTrust.com - PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA) membukukan rugi bersih sebesar Rp1,55 triliun pada semester I-2026, turun 9,04% dibandingkan rugi bersih Rp1,71 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian yang dipublikasikan perseroan, Jumat (28/8/2026), rugi bersih tersebut terdiri atas rugi yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp1,48 triliun, sedangkan rugi yang diatribusikan kepada kepentingan nonpengendali mencapai Rp71,29 miliar.

Meski masih membukukan kerugian, WIKA mencatat pertumbuhan pendapatan. Pendapatan bersih perseroan sepanjang enam bulan pertama 2026 mencapai Rp6,28 triliun, meningkat 7,19% dibandingkan Rp5,86 triliun pada semester I-2025.

Kenaikan pendapatan tersebut turut mendorong laba kotor menjadi Rp886,33 miliar, atau melonjak sekitar 87,56% dibandingkan Rp472,56 miliar pada periode yang sama tahun lalu.

Dari sisi operasional, WIKA berhasil membukukan laba usaha Rp314,66 miliar, berbalik menguat dibandingkan laba usaha Rp133,27 miliar pada semester I-2025.

Namun, kinerja perseroan masih terbebani oleh beban di luar operasional. Beban keuangan tercatat sebesar Rp1,31 triliun, meskipun lebih rendah dibandingkan Rp1,39 triliun pada semester I-2025.

Selain itu, perseroan mencatat bagian rugi dari entitas asosiasi sebesar Rp51,86 miliar dan bagian rugi dari pengendalian bersama sebesar Rp721,41 miliar. Di sisi lain, bagian laba dari entitas ventura bersama mencapai Rp328,05 miliar.

Alhasil, WIKA membukukan rugi sebelum pajak sebesar Rp1,55 triliun, membaik dari rugi sebelum pajak Rp1,69 triliun pada semester I-2025. Setelah memperhitungkan beban pajak penghasilan Rp6,55 miliar, rugi bersih perseroan tercatat Rp1,55 triliun.

Dari sisi neraca, total aset WIKA per 30 Juni 2026 tercatat Rp48,95 triliun, turun dibandingkan posisi akhir 2025 sebesar Rp50,15 triliun.

Aset lancar mencapai Rp19,90 triliun, sedangkan aset tidak lancar sebesar Rp29,04 triliun.

Sementara itu, total liabilitas meningkat menjadi Rp48,82 triliun dari Rp48,46 triliun pada akhir 2025. Liabilitas jangka pendek turun menjadi Rp12,92 triliun dari Rp15,51 triliun, tetapi liabilitas jangka panjang naik menjadi Rp35,90 triliun dari Rp32,95 triliun.

Posisi ekuitas WIKA menyusut tajam. Per 30 Juni 2026, total ekuitas tercatat hanya Rp130,16 miliar, turun dari Rp1,69 triliun pada akhir 2025.

Penurunan tersebut terutama tercermin dari membengkaknya defisit saldo laba yang mencapai Rp20,77 triliun, dibandingkan Rp19,29 triliun pada akhir 2025.

Dari sisi arus kas, WIKA masih mencatat tekanan pada aktivitas operasi. Kas bersih yang digunakan untuk aktivitas operasi mencapai Rp533,39 miliar, meski membaik dibandingkan Rp1,05 triliun pada semester I-2025.

Tekanan arus kas operasi terjadi meskipun perseroan menerima kas dari pelanggan sebesar Rp5,27 triliun. Pembayaran kepada pemasok tercatat Rp4,63 triliun, pembayaran kepada direksi dan karyawan Rp739,21 miliar, serta pembayaran pajak Rp503,85 miliar.

Sementara itu, aktivitas investasi menghasilkan kas bersih sebesar Rp862,76 miliar, terutama ditopang pengembalian atau penurunan investasi pada ventura bersama sebesar Rp587,18 miliar serta pengurangan dana yang dibatasi penggunaannya sebesar Rp478,98 miliar.

Untuk aktivitas pendanaan, perseroan mencatat kas bersih yang digunakan sebesar Rp1,15 triliun.

Dengan demikian, kas dan setara kas WIKA pada akhir Juni 2026 berada di level Rp1,93 triliun, turun dari Rp2,75 triliun pada akhir 2025.

Laba bersih per saham dasar WIKA pada semester I-2026 tercatat minus Rp37,17 per saham, membaik dibandingkan minus Rp41,71 per saham pada semester I-2025.