Emitentrust.com – PT Bank Maybank Indonesia Tbk (BNII) membukukan laba bersih konsolidasian yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp299,25 miliar pada kuartal I-2026. Raihan tersebut turun 20,47% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp376,25 miliar.
Sementara itu, laba bersih konsolidasian secara keseluruhan tercatat sebesar Rp307,78 miliar hingga akhir Maret 2026, merosot 22,29% dibandingkan laba bersih Rp396,05 miliar pada kuartal I-2025.
Penurunan laba terjadi di tengah meningkatnya tekanan pada pendapatan operasional selain bunga dan kenaikan sejumlah biaya operasional. Meski demikian, pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) masih menunjukkan pertumbuhan positif.
Berdasarkan laporan keuangan yang diterbitkan pada Sabtu (30/5), BNII mencatat pendapatan bunga bersih konsolidasian sebesar Rp1,88 triliun pada kuartal I-2026, meningkat 2,11% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp1,84 triliun.
Di sisi lain, laba operasional konsolidasian turun 18,46% menjadi Rp399,94 miliar dari sebelumnya Rp490,49 miliar. Laba sebelum pajak juga terkoreksi 21,55% menjadi Rp397,21 miliar dibandingkan Rp506,31 miliar pada kuartal I-2025.
Dari sisi intermediasi, total kredit yang diberikan secara konsolidasian tercatat sebesar Rp89,76 triliun per 31 Maret 2026, turun 3,61% dibandingkan posisi akhir 2025 yang mencapai Rp93,12 triliun.
Sebaliknya, pembiayaan syariah tumbuh 5,63% menjadi Rp32,23 triliun dari Rp30,51 triliun pada akhir Desember 2025.
Pada sisi pendanaan, dana pihak ketiga (DPK) menunjukkan pergeseran komposisi. Giro melonjak 13,63% menjadi Rp50,38 triliun dari Rp44,34 triliun. Namun tabungan turun 2,00% menjadi Rp22,08 triliun dan deposito berjangka terkoreksi 6,95% menjadi Rp45,89 triliun.
Total aset konsolidasian Maybank Indonesia per akhir Maret 2026 tercatat sebesar Rp192,17 triliun, turun tipis 0,80% dibandingkan posisi akhir tahun 2025 sebesar Rp193,72 triliun.
Dari sisi kualitas aset, beban kerugian penurunan nilai (impairment) konsolidasian berhasil ditekan menjadi Rp169,64 miliar dari Rp237,48 miliar pada periode yang sama tahun lalu atau turun sekitar 28,57%.
Meski laba bersih mengalami penurunan, perseroan masih mampu menjaga struktur permodalan dengan total ekuitas konsolidasian sebesar Rp32,12 triliun hingga akhir Maret 2026.
Namun demikian, perseroan membukukan rugi komprehensif yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp337,75 miliar akibat penurunan nilai wajar instrumen keuangan yang tercatat pada penghasilan komprehensif lain.


