back to top

BEI Beberkan Kendala IPO 2026

Emitentrust.com – Bursa Efek Indonesia (BEI) mengungkapkan perkembangan terbaru pipeline penawaran umum perdana saham (IPO), penerbitan obligasi dan sukuk (EBUS), serta rights issue hingga awal Juni 2026.

Jumlah calon emiten yang berencana menggelar aksi korporasi berupa penawaran umum perdana saham atau Initial Public Offering (IPO) menurun menjadi hanya 12 perusahaan, dari sebelumnya 15 perusahaan.

Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna, mengatakan penurunan jumlah perusahaan dalam antrean pipeline tersebut disebabkan oleh sejumlah penyebab, mulai dari faktor kelengkapan dokumen hingga perusahaan yang belum memperoleh persetujuan.

” Sehingga proses pencatatan belum dapat direalisasikan dalam waktu dekat,” jelas Nyoma kepada Media Senin (8/6)

Nyoman, menjelaskan beberapa perusahaan yang saat ini berada dalam pipeline masih melakukan revisi laporan keuangan menggunakan laporan keuangan terbaru. Selain itu, terdapat perusahaan yang masih melengkapi dokumen persyaratan, sementara sebagian lainnya masih menunggu persetujuan dari regulator terkait.

“Ada yang melakukan revisi laporan keuangan menggunakan laporan keuangan terbaru, ada yang masih membutuhkan kelengkapan dokumen, dan ada juga yang masih menunggu persetujuan,” ujar Nyoman.

Hingga 5 Juni 2026, BEI baru mencatatkan satu perusahaan yang melaksanakan IPO dengan dana yang berhasil dihimpun sebesar Rp300 miliar. Meski demikian, minat perusahaan untuk melantai di bursa masih cukup tinggi dengan terdapat 12 perusahaan dalam pipeline pencatatan saham.

Dari total 12 calon emiten tersebut, sebanyak delapan perusahaan berasal dari kategori aset besar dengan nilai aset di atas Rp250 miliar, sementara empat perusahaan lainnya merupakan perusahaan beraset menengah antara Rp50 miliar hingga Rp250 miliar.

Secara sektoral, pipeline IPO didominasi oleh sektor Consumer Cyclicals dan Healthcare masing-masing tiga perusahaan. Selain itu terdapat dua perusahaan dari sektor Consumer Non-Cyclicals, dua perusahaan sektor Infrastruktur, satu perusahaan sektor Financials, dan satu perusahaan sektor Technology.

Sementara itu, pasar surat utang korporasi masih menunjukkan aktivitas yang cukup tinggi. Hingga 5 Juni 2026, telah diterbitkan 63 emisi obligasi dan sukuk dari 40 penerbit dengan total dana yang berhasil dihimpun mencapai Rp69,94 triliun.

Di sisi lain, terdapat 53 emisi dari 36 penerbit yang masih berada dalam pipeline penerbitan EBUS. Sektor Financials menjadi kontributor terbesar dengan 14 perusahaan, disusul sektor Infrastruktur sebanyak tujuh perusahaan dan sektor Energi lima perusahaan.

Adapun untuk aksi korporasi rights issue, sepanjang tahun berjalan telah terdapat empat perusahaan tercatat yang menerbitkan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) dengan total nilai mencapai Rp3,89 triliun.

Meski demikian, saat ini hanya tersisa satu perusahaan yang masih berada dalam pipeline rights issue. Perusahaan tersebut berasal dari sektor Properti dan Real Estate.

Artikel Terkait

ATLA Bagi Dividen Rp0,56 per Saham, Ini Tanggal Pentingnya

PT Atlantis Subsea Indonesia Tbk (ATLA) memutuskan membagikan dividen tunai kepada para pemegang saham untuk tahun buku 2025. Keputusan tersebut telah memperoleh persetujuan dalam Rapat Umum

IHSG Ditutup Ambles 4,52%! Tapi ADMR, MBMA Terbang di LQ45

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali melanjutkan koreksi tajam pada perdagangan awal pekan ini.

Direktur TPIA Tambah Kepemilikan, Saham Ikut Melonjak 22,9%

PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA) menyampaikan bahwa Fransiskus Ruly Aryawan selaku direktur tercatat menambah kepemilikan sahamnya melalui transaksi pembelian yang dilakukan pada 5 Juni 2026

Populer 7 Hari

Berita Terbaru