back to top

Outlook ADHI Jadi Negatif, Pefindo Beber Penyebabnya

Emitentrust.com – PT Pemeringkat Efek Indonesia (PEFINDO) menegaskan peringkat kredit PT Adhi Karya (Persero) Tbk (ADHI) pada level idA- sekaligus mempertahankan peringkat Obligasi Berkelanjutan III dan Obligasi Berkelanjutan IV Perseroan.

Namun demikian, PEFINDO merevisi prospek (outlook) ADHI menjadi Negatif dari sebelumnya CreditWatch dengan Implikasi Negatif.

Perubahan prospek tersebut dilakukan setelah PEFINDO mencermati kemampuan ADHI dalam memenuhi batasan keuangan terkait Obligasi Berkelanjutan III Tahap III Tahun 2022 berdasarkan posisi keuangan per 31 Maret 2026.

PEFINDO menilai profil keuangan ADHI masih menghadapi tekanan akibat tingkat leverage yang tinggi. Selain itu, ketidakpastian jadwal penerimaan kas dari proyek-proyek pemerintah yang telah diselesaikan serta realisasi rencana divestasi aset juga menjadi faktor yang membayangi kinerja keuangan Perseroan.

“Prospek Negatif mencerminkan pandangan terhadap profil keuangan perusahaan yang tetap rentan, mempertimbangkan leverage yang masih tinggi, ketidakpastian penagihan kas proyek pemerintah, serta realisasi divestasi aset,” tulis PEFINDO dalam laporannya.

Meski demikian, lembaga pemeringkat tersebut tetap mempertahankan rating idA- karena mempertimbangkan posisi strategis ADHI sebagai salah satu kontraktor pelat merah utama di Indonesia. ADHI dinilai memiliki posisi pasar yang kuat serta memperoleh keuntungan kompetitif sebagai perusahaan konstruksi milik negara.

Di sisi lain, peringkat tersebut masih dibatasi oleh tingginya tingkat utang, risiko eksekusi proyek seiring pertumbuhan order book, serta kondisi industri konstruksi yang masih penuh tantangan dan volatilitas.

PEFINDO mengingatkan bahwa peringkat ADHI berpotensi diturunkan apabila proses deleveraging berjalan lebih lambat dari yang diharapkan. Risiko juga dapat meningkat apabila metrik leverage dan kemampuan pembayaran utang tetap lemah dalam jangka panjang atau terjadi indikasi berkurangnya dukungan pemerintah terhadap Perseroan.

Sebaliknya, prospek dapat kembali direvisi menjadi Stabil apabila ADHI mampu menunjukkan jalur penurunan utang yang jelas dan berkelanjutan. Hal tersebut antara lain dapat didukung oleh arus kas masuk yang terverifikasi dari piutang proyek yang telah selesai serta keberhasilan eksekusi divestasi aset secara mengikat.

Sebagai informasi, ADHI merupakan salah satu BUMN konstruksi terbesar di Indonesia yang berdiri sejak 1960. Perseroan memiliki empat lini bisnis utama yang meliputi konstruksi, engineering procurement and construction (EPC), properti dan realti, serta investasi infrastruktur.

Per 31 Maret 2026, sebanyak 64,3% saham ADHI dimiliki oleh PT Danantara Aset Management, sedangkan sisanya dimiliki oleh publik.

Artikel Terkait

TBIG Putuskan Dividen Rp1,06T! 75% Laba 2025, Ini Jadwalnya

PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) memutuskan membagikan dividen tunai tahun buku 2025 sebesar Rp1,0599 triliun atau sekitar 74% dari laba bersih Perseroan sepanjang tahun 2025.

Dua Direktur SCCO Kompak Resign, Ada Apa?

PT Supreme Cable Manufacturing & Commerce Tbk (SCCO) mengumumkan pengunduran diri dua anggota Direksinya, yakni Sani Iskandar Darmawan dan Teddy Rustiadi.

IPCM Beber Kinerja Kuartal I di Tengah Gejolak Harga BBM Global

PT Jasa Armada Indonesia Tbk (IPCM) mencatatkan kinerja positif pada kuartal I-2026 dengan membukukan pertumbuhan pendapatan, EBITDA, dan laba bersih

Populer 7 Hari

Berita Terbaru