Emitentrust.com – PT Bank IBK Indonesia Tbk. (AGRS) menegaskan tidak mengetahui adanya informasi atau fakta material yang dapat memengaruhi pergerakan harga saham maupun keputusan investasi pemodal di tengah volatilitas transaksi saham Perseroan.
Penegasan tersebut disampaikan manajemen sebagai tanggapan atas permintaan penjelasan dari Bursa Efek Indonesia (BEI) terkait volatilitas perdagangan saham AGRS.
Corporate Secretary PT Bank IBK Indonesia Tbk., Sri Suhartin dalam jawaban tertulisnya Selasa (21/7) menyatakan tidak mengetahui adanya informasi material sebagaimana diatur dalam Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Nomor 31/POJK.04/2015 maupun ketentuan Peraturan Bursa Nomor I-E yang dapat memengaruhi harga saham atau keputusan investasi investor.
Selain itu, hingga surat penjelasan disampaikan, Bank IBK juga mengaku belum mengetahui adanya aktivitas tertentu dari pemegang saham yang wajib dilaporkan sesuai Peraturan OJK Nomor 4 Tahun 2024 mengenai laporan kepemilikan atau perubahan kepemilikan saham perusahaan terbuka.
Perseroan juga memastikan belum memiliki rencana untuk melakukan aksi korporasi dalam waktu dekat, termasuk aksi yang berpotensi memengaruhi pencatatan saham di Bursa dalam tiga bulan mendatang.
Lebih lanjut, manajemen menyatakan tidak terdapat informasi atau kejadian material lainnya yang belum diungkapkan kepada publik dan dapat memengaruhi harga saham maupun kelangsungan usaha Perseroan.
Terkait kepemilikan saham, Bank IBK menyampaikan bahwa hingga saat ini belum terdapat rencana dari pemegang saham utama untuk melakukan perubahan atas kepemilikan sahamnya di Perseroan.
Sebagai informasi Sepanjang tahun penuh 2025, PT Bank IBK Indonesia Tbk (AGRS) mencatatkan laba bersih sebesar Rp197,4 miliar. Perolehan ini mengalami penurunan dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2024 yang membukukan laba bersih sebesar Rp215,85 miliar, dengan laba bersih per saham setara dengan Rp4,17 per saham.
Pada perdagangan hari ini Selasa (21/7) saham AGRS naik 2 persen ke level Rp63. Dalam sepekan naik 5 persen. dalam sebulan naik 1,6 persen. Akan tetapi dalam enam bulan anjlok 22,2 persen dari harga Rp81 di awal Januari 2026.


