Emitentrust.com – PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) mencatat nilai penerbitan surat utang korporasi mencapai Rp87,35 triliun pada semester I 2026, turun 3,91% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Meski demikian, aktivitas penerbitan dinilai masih cukup semarak karena korporasi tetap memanfaatkan pasar surat utang sebagai salah satu sumber pendanaan.
Kepala Divisi Riset Ekonomi Pefindo, Suhindarto, mengatakan nilai penerbitan surat utang pada paruh pertama tahun ini masih jauh melampaui nilai surat utang yang jatuh tempo. Pefindo mencatat rasio penerbitan terhadap surat utang jatuh tempo mencapai 158,2%, yang berarti nilai surat utang baru sekitar 58% lebih besar dibandingkan kewajiban yang jatuh tempo.
Menurut Suhindarto, perlambatan penerbitan dipengaruhi oleh kenaikan suku bunga sejak akhir kuartal I 2026 yang mendorong naiknya biaya pendanaan melalui pasar obligasi, terutama bagi emiten dengan peringkat kredit menengah.
Ia menjelaskan, selisih biaya antara penerbitan surat utang dan kredit perbankan kini semakin lebar untuk emiten berperingkat A hingga BBB, sehingga pembiayaan melalui pinjaman bank menjadi pilihan yang lebih menarik. Sebaliknya, bagi emiten berperingkat AAA dan AA, biaya penerbitan obligasi masih relatif kompetitif sehingga kelompok tersebut tetap mendominasi penerbitan surat utang sepanjang tahun ini.
Selain memengaruhi volume penerbitan, kenaikan suku bunga juga mengubah strategi korporasi dalam menentukan tenor obligasi. Jika pada 2025 banyak emiten menerbitkan surat utang berjangka panjang saat suku bunga rendah, maka pada semester I 2026 Pefindo mencatat peningkatan proporsi penerbitan obligasi bertenor satu tahun.
Di sisi lain, porsi penerbitan obligasi dengan tenor tiga tahun dan lima tahun mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara itu, penerbitan obligasi bertenor tujuh hingga sepuluh tahun relatif stabil, meski tenor tujuh tahun menunjukkan kecenderungan sedikit melemah.


