back to top

Bank Neo (BBYB) di Semester I 2026, Laba Tumbuh 6,81% Tapi Dana Pihak Ketiga Drop

Emitentrust.com – PT Bank Neo Commerce Tbk (BNC) atau (BBYB) membukukan laba bersih sebesar Rp294,85 miliar pada semester I-2026 atau meningkat 6,81% secara tahunan (year on year/yoy) dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp276,05 miliar. Kenaikan laba ditopang oleh penurunan beban pencadangan penurunan nilai serta efisiensi sejumlah pos beban operasional.

Berdasarkan laporan keuangan interim hingga 30 Juni 2026, perseroan mencatat laba sebelum pajak sebesar Rp293,65 miliar, meningkat 6,76% dibandingkan semester I-2025 yang mencapai Rp275,05 miliar.

Pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) tercatat sebesar Rp1,11 triliun, turun 8,18% dibandingkan Rp1,21 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Penurunan ini terjadi seiring turunnya pendapatan bunga menjadi Rp1,48 triliun atau turun 7,57%, meski beban bunga juga berhasil ditekan 5,67% menjadi Rp367,67 miliar.

Di sisi lain, total pendapatan operasional lainnya meningkat tipis 1,76% menjadi Rp204,68 miliar, didorong kenaikan penerimaan kembali aset yang telah dihapusbukukan sebesar 30,67% menjadi Rp108 miliar, serta peningkatan pendapatan provisi dan komisi lainnya sebesar 22,20% menjadi Rp56,05 miliar.

Faktor yang paling menopang profitabilitas adalah menurunnya beban penurunan nilai aset (impairment) sebesar 15,86% menjadi Rp601,43 miliar dari sebelumnya Rp714,83 miliar. Total beban operasional juga turun 10,56% menjadi Rp1,02 triliun, sehingga laba operasional perseroan meningkat 9,03% menjadi Rp298,17 miliar.

Dari sisi neraca, total aset Bank Neo Commerce tercatat sebesar Rp17,45 triliun per akhir Juni 2026, turun 8,01% dibandingkan posisi akhir 2025 sebesar Rp18,97 triliun.

Penyaluran kredit relatif stabil. Kredit yang diberikan setelah dikurangi cadangan kerugian penurunan nilai mencapai Rp6,65 triliun, sedikit turun 0,25% dibandingkan akhir 2025 sebesar Rp6,67 triliun.

Dana pihak ketiga (DPK) mengalami penurunan. Simpanan nasabah tercatat sebesar Rp12,30 triliun, turun 12,34% dibandingkan posisi akhir 2025 sebesar Rp14,03 triliun.

Meski demikian, struktur permodalan perseroan semakin kuat. Total ekuitas meningkat 4,46% menjadi Rp4,42 triliun dari Rp4,23 triliun pada akhir Desember 2025. Saldo defisit yang belum ditentukan penggunaannya juga menyusut dari Rp1,73 triliun menjadi Rp1,43 triliun, mencerminkan perbaikan akumulasi kinerja perseroan.

Sementara itu, laba per saham dasar (EPS) meningkat menjadi Rp22,09 dari Rp20,68 pada semester I-2025 atau naik sekitar 6,82%..

Artikel Terkait

AHAP Gelar Rights Issue 3,5 Miliar Saham, Asuransi Central Asia Serap 62,58%

PT Asuransi Harta Aman Pratama Tbk (AHAP) berencana menggelar Penambahan Modal dengan Memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) V atau rights issue dengan nilai maksimal Rp175 miliar.

Asuransi Maximus (ASMI) Berbalik Boncos! Rugi Rp124,2M pada Semester I-2026

PT Asuransi Maximus Graha Persada Tbk (ASMI) membukukan rugi bersih sebesar Rp124,25 miliar pada semester I-2026. Hasil tersebut berbalik dari laba bersih Rp793,30 juta yang dicatatkan pada periode yang sama tahun lalu

BEI Beberkan Pipeline Terbaru!

Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat aktivitas penghimpunan dana di pasar modal tetap bergulir hingga akhir Juli 2026. Sepanjang periode tersebut, sebanyak tujuh perusahaan telah melaksanakan penawaran umum

Populer 7 Hari

Berita Terbaru