Emitentrust.com – PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) mengungkap sejumlah strategi untuk menjaga kinerja operasional dan keuangan di tengah volatilitas harga bahan bakar avtur serta dinamika geopolitik global.
Hal tersebut disampaikan manajemen Garuda Indonesia dalam sesi tanya jawab pada Surabaya Investor Meeting and Connectivity 2026, Jumat (7/8/2026).
Menjawab pertanyaan Jason dari Yakin Bertumbuh Sekuritas mengenai antisipasi terhadap kenaikan harga bahan bakar dan ketidakpastian geopolitik, manajemen Garuda mengatakan kedua faktor tersebut merupakan tantangan eksternal yang dihadapi industri penerbangan, baik nasional maupun global.
Perseroan menyatakan terus memonitor perkembangan harga bahan bakar dan kondisi geopolitik serta menyiapkan sejumlah langkah mitigasi untuk menjaga struktur biaya dan kinerja keuangan.
“Untuk memitigasi dampak tersebut, Perseroan menjalankan sejumlah langkah secara terukur,” jelas manajemen dalam paparan tersebut.
Beberapa langkah yang dilakukan mencakup optimalisasi jaringan dan kapasitas berdasarkan profitabilitas rute, peningkatan utilisasi dan produktivitas armada, efisiensi konsumsi bahan bakar, optimalisasi profil dan perencanaan penerbangan, pengendalian biaya operasional, hingga penguatan pendapatan melalui berbagai inisiatif komersial dan ancillary revenue.
Dari sisi tarif, Garuda menegaskan kebijakan penerbangan domestik tetap mengacu pada ketentuan pemerintah, termasuk Tarif Batas Atas (TBA) dan mekanisme fuel surcharge yang ditetapkan regulator.
Perseroan menyebut kebijakan tarif tersebut tetap mempertimbangkan keterjangkauan bagi masyarakat sekaligus keberlanjutan bisnis, kondisi pasar, permintaan, dan tingkat persaingan.
Dalam kesempatan yang sama, Garuda juga menjelaskan alasan perseroan masih mencatat rugi bersih meski EBITDA telah berada di zona positif.
Menjawab pertanyaan Abdul Hadi dari Asosiasi Dana Pensiun Indonesia (ADPI), manajemen menjelaskan bahwa EBITDA positif menunjukkan kegiatan operasional sebelum memperhitungkan bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi telah memberikan kontribusi positif.
Namun, EBITDA belum mencerminkan seluruh komponen yang diperhitungkan dalam laba rugi bersih.
Menurut manajemen, perbedaan antara EBITDA dan laba bersih terutama berasal dari sejumlah beban di bawah EBITDA, termasuk depresiasi dan amortisasi, beban keuangan yang berkaitan dengan kewajiban sewa dan pendanaan, serta komponen non-operasional lainnya.
Kondisi tersebut juga tidak terlepas dari struktur kewajiban Garuda setelah proses restrukturisasi dan perlakuan akuntansi yang berlaku.
“Ke depan, fokus Perseroan adalah mendorong agar perbaikan kinerja operasional dapat secara bertahap terkonversi menjadi perbaikan bottom line,” kata manajemen.
Untuk mencapai target tersebut, Garuda akan mengandalkan peningkatan pendapatan, optimalisasi jaringan dan kapasitas, peningkatan produktivitas armada, efisiensi biaya, serta penguatan disiplin finansial.
Garuda Indonesia juga mengungkap strategi untuk mengoptimalkan kapasitas kursi yang masih belum terserap.
Menjawab pertanyaan investor, manajemen mengatakan peningkatan Seat Load Factor (SLF) menjadi salah satu prioritas dalam pengelolaan kapasitas.
Namun, Garuda menegaskan peningkatan jumlah penumpang tidak boleh mengorbankan kualitas pendapatan.
Perseroan juga akan menjaga Revenue per Available Seat Kilometer (RASK) agar kenaikan tingkat keterisian penumpang berjalan seiring dengan peningkatan pendapatan.
Strategi yang digunakan antara lain penerapan dynamic pricing dan revenue management yang lebih adaptif, pengembangan network fare dengan skema free add-on, serta berbagai program pemasaran.
Program tersebut mencakup Garuda Indonesia Travel Fair (GATF), Garuda Online Travel Fair (GOTF), dan Garuda Umrah Travel Fair (GUTF).
Selain itu, Garuda akan mengoptimalkan kapasitas pada penerbangan reposisi armada atau empty leg tertentu agar dapat dikomersialkan.
Dengan strategi tersebut, perseroan berharap dapat meningkatkan keterisian kursi secara produktif tanpa mengorbankan yield, sehingga memberikan kontribusi lebih besar terhadap pendapatan dan profitabilitas rute.
Sementara itu, rencana konsolidasi yang melibatkan Garuda Indonesia Group dan Pelita Air juga menjadi salah satu perhatian investor.
Menjawab pertanyaan Wilson Tirta dari publik, manajemen menyatakan rencana tersebut masih berada dalam tahap kajian dan pembahasan di tingkat pemegang saham bersama pihak-pihak terkait.
Kajian dilakukan secara menyeluruh dengan mempertimbangkan penguatan ekosistem penerbangan nasional serta keberlanjutan agenda transformasi Garuda Indonesia.
“Sampai dengan saat ini belum terdapat keputusan final mengenai bentuk maupun mekanisme konsolidasi tersebut,” ungkap manajemen.
Garuda menegaskan proses kajian tersebut belum mengubah kegiatan operasional, pelayanan pelanggan, maupun agenda transformasi yang sedang berjalan.
Perseroan juga memastikan tidak terdapat perubahan terhadap rencana penerbangan maupun komitmen layanan kepada pelanggan akibat proses kajian konsolidasi tersebut.
Garuda menyatakan setiap perkembangan yang bersifat material akan disampaikan sesuai ketentuan keterbukaan informasi. Perseroan juga meminta pemangku kepentingan mengacu pada informasi resmi yang disampaikan melalui kanal keterbukaan informasi.
Dengan demikian, investor masih perlu menunggu keputusan resmi terkait bentuk dan mekanisme konsolidasi Garuda Indonesia Group dengan Pelita Air.


