EmTrust – PT Kioson Komersial Indonesia Tbk (KIOS) akhirnya buka suara atas permintaan penjelasan lanjutan Bursa Efek Indonesia (BEI) terkait kinerja keuangan yang terus tertekan dan strategi bisnis Perseroan ke depan. Menyusul tren penurunan pendapatan dan pembukuan rugi bersih selama beberapa tahun terakhir.
Menanggapi surat Bursa, manajemen Kioson menegaskan belum ada rencana perubahan model bisnis dalam waktu dekat. Namun demikian, Perseroan mengklaim telah menyiapkan sejumlah langkah untuk membalikkan tren negatif tersebut.
Approver PT Kioson Komersial Indonesia Tbk, Ornela Bartin Sutan Giri, menjelaskan bahwa upaya perbaikan kinerja akan ditempuh melalui penghematan biaya operasional serta pencarian peluang bisnis baru yang lebih efektif dan efisien.
“Perseroan berupaya meningkatkan pendapatan di masa mendatang, terutama melalui segmen pengelolaan jasa manajemen persediaan yang mencatat pertumbuhan signifikan sebesar 49% dibandingkan periode sebelumnya,” jelas Ornela.
BEI menilai strategi efisiensi dan optimalisasi margin yang dijalankan Kioson lebih mencerminkan strategi bertahan hidup, bukan pengembangan bisnis jangka panjang. Menanggapi hal tersebut, manajemen Kioson menyatakan bahwa fokus utama saat ini adalah menekan kerugian dengan mengendalikan biaya sekaligus memberikan harga jual yang kompetitif untuk mendorong peningkatan penjualan.
Perseroan kembali menegaskan bahwa segmen pengelolaan jasa manajemen persediaan akan menjadi motor pertumbuhan utama, seiring meningkatnya permintaan dan efisiensi operasional pada segmen tersebut.
Selain kinerja bisnis, BEI juga menyoroti tingginya nilai uang jaminan yang diberikan kepada PT Jaring Logistik Indonesia (JLI), yang tercatat sebesar Rp62,94 miliar per 30 September 2025 dan Rp59,14 miliar per 31 Desember 2024.
Ornela menjelaskan bahwa uang jaminan tersebut berkaitan dengan pengelolaan sekitar 500 gudang milik JLI yang digunakan oleh entitas anak, PT Retail Kita Indonesia (RKI), yang tersebar di wilayah Pulau Jawa. Nilai total gudang yang digunakan mencapai Rp88 miliar.
Perjanjian penggunaan gudang tersebut memiliki jangka waktu lima tahun dan dapat diperpanjang sewaktu-waktu. Selain uang jaminan, kerja sama ini juga mencakup skema bagi hasil sebesar 30% dari laba bersih RKI kepada JLI.
Terkait reklasifikasi biaya ditangguhkan, Perseroan menjelaskan bahwa biaya tersebut merupakan selisih antara nilai uang jaminan saat pembayaran dengan nilai kini (NPV) lima tahun, yang diukur berdasarkan nilai wajar pada klasifikasi biaya perolehan diamortisasi.
Seiring berjalannya waktu, biaya ditangguhkan yang sebelumnya tercatat sebagai aset lancar direklasifikasi menjadi aset tidak lancar, karena telah melewati jangka waktu satu tahun.
Ornela menegaskan bahwa dasar perhitungan profit sharing 30% kepada JLI sepenuhnya mengacu pada laba bersih PT Retail Kita Indonesia, bukan laba kotor atau indikator lainnya.
Sebagai informasi, Saham KIOS pernah mengalami suspensi beberapa kali, dengan yang paling baru terjadi pada Desember 2025, dan sebelumnya pernah pada Oktober 2017 karena lonjakan harga yang luar biasa.
PT Kioson Komersial Indonesia Tbk (KIOS) mencatatkan sahamnya di BEI (IPO) pada 5 Oktober 2017 sebanyak 150.000.000 Saham atau 23,08% dari modal disetor penuh pada harga perdana Rp300.
Dana yang diraup darti IPO tersebut senilai Rp45.000.000.000 dan bertindak sebagai Penjamin Emisi Utama PT. Sinarmas Sekuritas.


