Emtentrust.com – Bursa Efek Indonesia atau BEI (BEI) resmi mengumumkan hasil evaluasi mayor untuk indeks ABX dan DBX melalui Pengumuman No. Peng-00084/BEI.POP/05-2026 tertanggal 20 Mei 2026. Evaluasi ini akan efektif mulai 29 Mei 2026 hingga 27 November 2026.
Dalam evaluasi kali ini, sejumlah saham baru masuk ke dalam konstituen indeks, sementara beberapa saham mengalami kenaikan maupun penurunan bobot akibat penyesuaian free float dan jumlah saham untuk perhitungan indeks.
Pada indeks ABX, beberapa emiten baru yang langsung mencuri perhatian adalah saham EURO, LUCY, MGLV, dan UDNG. Menariknya, saham EURO dan MGLV langsung memperoleh bobot maksimal sebesar 15 persen setelah penerapan batas cap indeks.
Sementara itu, saham PACK yang sebelumnya memiliki bobot terbesar di ABX sebesar 37,54 persen harus turun drastis menjadi 15 persen setelah penerapan pembatasan bobot maksimum.
Selain PACK, sejumlah saham lain juga mengalami penurunan bobot cukup signifikan, di antaranya CHIP, KING, SOFA, hingga IBOS. Di sisi lain, saham seperti AMMS, FLMC, GRPM, dan NANO tercatat mengalami kenaikan jumlah saham untuk perhitungan indeks.
BEI juga menegaskan bahwa tidak ada saham yang dikeluarkan dari konstituen indeks ABX pada evaluasi mayor kali ini.
Untuk indeks DBX, perubahan yang terjadi jauh lebih besar dengan masuknya banyak saham baru ke dalam indeks. Beberapa nama besar yang menjadi sorotan antara lain saham GOTO, SMMA, BELI, NCKL, hingga DOID.
Saham GoTo Gojek Tokopedia dengan kode GOTO langsung memperoleh bobot sebesar 8 persen, menjadikannya salah satu konstituen terbesar di DBX. Selain itu, saham SMMA juga langsung memperoleh bobot maksimal sebesar 9 persen sesuai batas cap indeks DBX.
Tidak hanya itu, saham BELI tercatat masuk dengan bobot awal 2,24 persen, sementara saham NCKL memperoleh bobot 1,56 persen. Emiten-emiten baru lainnya seperti GIAA, GMFI, MCAS, hingga MREI juga resmi menjadi bagian dari indeks DBX.
Di sisi lain, sejumlah saham mengalami penurunan bobot cukup tajam. Saham DCII misalnya, turun dari 10,07 persen menjadi 9 persen akibat penerapan cap indeks. Saham CASA juga turun signifikan dari 7,04 persen menjadi 4,05 persen.
Adapun saham BNBR menjadi salah satu emiten yang mencatat kenaikan bobot indeks, dari 1,69 persen menjadi 1,70 persen. Selain itu, saham CYBR, CTBN, COAL, dan KETR juga tercatat mengalami kenaikan bobot pasca evaluasi.
BEI menjelaskan bahwa jumlah saham untuk perhitungan indeks masih dapat berubah apabila terjadi aksi korporasi seperti stock split, reverse stock, rights issue, saham bonus, dividen saham, maupun perpindahan papan pencatatan sebelum tanggal efektif.
Evaluasi mayor ini dinilai penting oleh pelaku pasar karena berpotensi memengaruhi arus dana investor institusi maupun reksa dana indeks yang menggunakan ABX dan DBX sebagai acuan investasi.
Sebagai informasi, Bursa Efek Indonesia memiliki beberapa indeks papan saham, termasuk ABX dan DBX, yang digunakan untuk mengelompokkan saham berdasarkan papan pencatatannya di BEI.
ABX adalah indeks yang berisi saham-saham yang tercatat di Papan Akselerasi BEI.
perusahaan skala kecil hingga menengah, startup, perusahaan dengan aset atau operasional yang masih berkembang,
emiten yang belum memenuhi persyaratan masuk ke Papan Pengembangan atau Papan Utama.
DBX adalah indeks yang berisi saham-saham di Papan Pengembangan BEI.
Papan Pengembangan diperuntukkan bagi, perusahaan yang sedang berkembang, perusahaan yang belum memenuhi seluruh syarat Papan Utama dan emiten dengan rekam jejak operasional yang masih dalam tahap pertumbuhan.


